REKSA PASTORAL DAN KATEKESE BAGI BERAKARNYA IMAN KRISTIANI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

 

Melalui sebuah inisiasi, seseorang akan masuk kedalam sebuah kelompok persekutuan baru yakni persekutuan gerejawi. Berapa besar perhatian dan pandangan akan pentingnya hal ini bagi seorang yang akan menerima sakramen inisiasi tentu akan menentukan dan mempengaruhi semangat militansi dan kehidupan imannya kelak setelah ia disahkan sebagai seorang anggota gereja. Semakin mudah dan kurangnya pandangan akan pentingnya hal ini pun tentu juga akan memiliki pengaruh negatif, seperti tidak adanya semangat militansi iman dan pandangan bahwa liturgi inisiasi hanyalah sebuah seremonial belaka yang berlalu begitu saja tampa implikasi dan efektifitas terhadap orang yang menerimanya. Sementara gereja dalam teologinya meyakini bahwa liturgiinisiasi ini adalah upacara simbolik yang mempersatukan seseorang kedalam persekutuan gereja yang dilandasi oleh ajaran Kristus sendiri, “ pergilah, jadikanlah seluruh bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu ” (Mat 28:19,20).

Dengan dasar yang demikian maka Inisiasi adalah sebuah titik tolah kehidupan iman yang harusnya mendapatkan sebuah perhatian khusus dari seorang katekis ataupun para kateket. Namun fakta- fakta yang ada dalam kehidupan menggereja menyatakan bahwa seringkali umat meninggalkan iman katolik yang dimilikinya dengan alasan– alasan yang sangat manusiawi  dan bukan berdasarkan pandangan teologis, seperti mereka meninggalkan agama katolik kaena peribadatan di gereja- gereja reformasi lainnya lebih meriah, seorang wanita meninggalkan iman katoliknya hanya untuk menikah dengan seorang laki- laki yang beragama lain, atau sebaliknya. Realitas ini layaknya seperti sebuah kepahitan yang harus ditelan dengan paksa oleh gereja dalam perjalalanan panjangnya di dunia. Dengan realita ini pula hendaknya para kandidat katekis memiliki keprihatinan dan tinjauan serta reksa- reksa pastoral yang mungkin kelak akan dilakukannya bersama umat dan para imam dimana ia akan berkarya sebagai seorang pewarta sabda.

 

1.2        Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang penulisan diatas, maka penulis ingin mengangkat permasalahan pokok berkaitan dengan hal tersebut yakni bagaimana meningkatkan kesadaran  umat akan pentingnya sakramen inisiasi yang merupakan sebuah titik tolak menuju sebuah kehidupan iman sebagai seorang anggota gereja. Maka beberapa pertanyaan penuntun dalam pemecahan masalah sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang tersebut adalah sebagai berikut;

1.      Hal –hal apa saja yang menyebabkan umat tidak berakar dalam kehidupan imannya?

2.      Bagaimana reksa pastoral dan katekese untuk menyikapi hal tersebut?

3.      Apakah sumbangan studi inisiasi bagi seorang katekis dalam pelaksanaan tugas pastoralnya?  

 

1.3            Tujuan penulisan

 

Berdasarkan  rumusan masalah diatas, maka beberapa tujuan dari  dalam penulisan  karya ilmiah ini adalah sebagai berikut;

1.      Meninjau kembali sejauh mana pemahaman umat akan sakramen inisiasi, telebih umat- umat yang baru dibaptis dan disahkan sebgai seorang anggota gereja.

2.      Meninjau kembali peran katekis sebagai pengajar dan peran serta umat dalam kehidupan beriman.

3.      Mempelajari  reksa pastoral dan katekese yang mungkin bagi berakarnya iman umat, khususnya berkaitan dengan sakramen inisiasi.

 

1.4            Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari makalah ini adalahsebagai berikut;

1.        Bab I yang merupakan pendahuluan berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

2.        Bab II yang merupakan isi berisikan hal- hal apa saja yang menyebabkan umat tidak berakar dalam imannya, bagaimana reksa pastoral dan katekese, serta apa yang menjadi sumbangan dari pengajaran inisiasi bagi seorang katekis.

3.        Bab III yang merupakan penutup berisikan kesimpulan dari apa yang telah dipaparkan pada bab I dan II.

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

Akar secara biologis adalah bagian pokok dari tumbuhan selain batang dan daun yang pada umumnya terdapat didalam tanah, menuju pusat bumi (geotrop), dan air (hidrotrop), menyerap unsur- unsur hara yang terdapat didalam tanah dengan pertumbuhan yang jauh lebih pesat dibandingkan dengan bagiantumbuhan yang ada di permukaan tanah. Jelaslah mengapa fungsi akar dikatakan sangat penting, tanpa akarnya sebatang tanaman tidak akan mampu untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tubuh tumbuhan itu sendiri. Tanpa akar, sebatang tumbuhan tidak akan dapat bertumbuh dengan baik kerena tumbuhan akan kekurangan air, garam-garam mineral, serta zat- zat makanan yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup, bagaimana sebatang tumbuhan akan dapat menyimpan cadangan makanannya atau melakukan respirasi jika ia tidak memiliki akar yang ia butuhkan sebagai sebuah dasar bagi hidupnya.

 

Pengontekstualan akar dalam kehidupan beriman tentunya ingin menyatakan betapa pentingnya iman bagi seorang katolik. Seorang katolik  diharapkan memiliki iman yang mendalam akan Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat. Sebuah iman yang seharusnya lebih besar dari pertumbuhan diri secara jasmani, yang kemudian menjadi dasar kehidupan dan tata cara dalam bertingkah laku. Akan tetapi, pada kenyataannya bahwa semakin  banyak fakta- fakta akan kekurang berakaran dan semakin menipsnya kehidupan beriman dewasa ini. Jika dibandingkan dengan kehidupan beriman orang- orang yang hidup jauh sebelum era globalisasi, kita bahkan dapat mengatakan bahwa kehidupan, semangat militansi, penghormatan, dan penghayatan yang mereka miliki bahkan jauh lebih baik daripada kebanyakan orang yang hidup pada masa kini. Hal ini dapat kita lihat bahwa semakin sedikitnya orang- orang ataupun generasi muda yang perduli terhadap kesusahan hidup yang dialami sesamanya, dengan mudahnya orang meninggalkan kekatolikannya demi sebuah jabatan atau keramaian di tempat- temat ataupun gereja lain ataupun bahkan demi seorang pasangan hidup, seberapa banyak orang yang pergi ke gereja dengan pakaian yang kurang sopan bagi perayaan Ekaristi Kudus, dan berapa banyakkah keluarga yang mengajarkan dan menekankan pentingnya kehidupan doa dalam keluarganya.

 

Mengapa pertanyaan mengenai umat yang tidak berakar dalam iman ini terus berakar dalam kehidupan gereja?

 

2.1 Mengapa Umat Tidak Berakar Dalam Imannya

 

Liturgi inisiasi atau sakramen inisiasi adalah bagian pokok yang harus diterima oleh seorang katolik sebelum ia disahkan menjadi seorang anggota gereja. Meliputi penerimaan Sakramen Baptis, Krisma, dan Ekaristi serta segala langkah- langkah yang harus dipenuhi didalamnya. Ensiklopedi gereja jilid iii H-J yang disusun oleh Adolf Heuken SJ menyatakan bahwa Inisiasii kristen adalah pembinaan bertahap manusia seluruhnya supaya menjadi orang kristiani  yang mengenal iman kristiani (pembinaan doktrinal), menghayatinya (pembinaan rohani), hidup dalam dan bersama umat (pembinaan liturgi) dan bersedia menjalankan pengutusannyadalam masyarakat (pembinaan apostolis). Dituliskan pula bahwa pangkal tolak seluruh proses ini adalah pertobatan, yang membawa seorang kedalam sebuah kelahiran baru dan menjadi anggota keluarga Allah. Dengan demikian, inisiasi kristen bukanlah hanya sebatas in+re yang berarti masuk kedalam atau memulai, melainkan juga harus memenuhi hal- hal sebagaimana yang dipaparkan dalam ensiklopedi gereja tersebut.

 

Jika demikian, apakah yang menyebabkan pertanyaan mengenai ketidak berakaran iman katolik terus berakar dari masa- kemasa dalam kehidupan menggereja?

 

Penyebab dari terus berakarnya pertanyaan “mengapa umat tidak berakar dalam kehidupan berimannya” tentu adalah pola- pola kehidupan umat yang bahkan telah dinyatakan sah sebagai anggota gereja (telah menerima sakramen inisiasi) bahkan tidak memiliki cara hidup yang jauh lebih baik  dari kehidupannya sebelum ia mengenal kristus serta kehidupan orang- orang yang berada di sekitarnya. Inisiasi kristen bahkan hanya dipandang sebagai sebuah momentum yang harus dilalui sebagai syarat untuk dapat diterima dalam sebuah kelompok, tanpa penghayatan yang kemudian akan berlalu  begitu saja sebagai sebuah mimpi manis yang pernah dialami. Seorang gadis di stasi Pudu Rundun, paroki Santo Petrus sukamara bahkan dengan mudahnya meninggalkan iman katoliknya tepat tiga hari setelah ia menerima sakramen Krisma dan Ekaristi pada tahun 2006, karena ia akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pemuda muslim. Siapakah yang patut untuk dipersalahkan dalam hal ini? Seorang gadis desa yang dengan pendidikan  minim yang ia miliki karena bahkan tidak melanjutkan sekolahnya kejenjang SLTP? seorang katekis yang harus membina umat dari tiga buah stasi yang diantaranya termasuk pusat paroki? ataukah pastor paroki yang pada  saat itu merupakan imam yang melayani Paroki Santo Petrus Sukamara secara berkala dari Paroki Santo Paulus Pangkalan Bun? 

 

Dengan melihat peristiwa ini, maka ndapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai hal- hal apa saja yang menjadi pemicu ketidakberakaran iman katolik dalam kehidupan umat sehingga kemudian pertanyaan ini terus berakar dalam kehidupan menggereja.

 

1.             Kurangnya tenaga pastoral

Disadari atau tidak satu hal tidak dapat dipungkiri adalah bahwa umat memerlukan imam, dan  gereja memerlukan tenaga pastoral untuk berkarya didalamnya dan melanjutkan hal- hal apa   saja yang dicita- citakan gereja. Akan tetapi, hingga saat ini kita dapat melihat dengan mudah betapa gereja sangat kekurangan tenaga untuk melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang dialami Paroki Santo Petrus Sukamara sebelum imam- imam CSsR datang dan menetap ditempat itu pada tahun 2008, bahwa paroki ini harus dilayani secara  berkala sebanyak satu kali dalam sebulan dari paroki santo Paulus pangkalan bun. Keadaan yang demikian menjadi lebih rumit ketika dihadapkan pula pada keadaan stasi- stasi yang  saling berjauhan. Sementara umat yang berada di stasi- stasi tersebut harus mendapatkan pelayanan. Dalam rentang waktu  yang sangat singkat, berapa banyakkah yang dapat dilakukan seorang imam? Adakah ia mempunyai banyak waktu untuk berbagi pengetahuan dan berbincang- bincang bersama umat sebagai pendekatan atau sebagi figur seorang gembala yang mengenal domba- dombanya. Dalam hal ini, bahkan untuk mengharapkan seorang katekis untuk berkarya secara aktif  pun sangat sulit, karena bahkan ada beberapa stasi yang tidak memiliki katekis dan didominasi oleh masyarakat dayak dengan pengetahuuan yang minim. Fakta laiannya ialah bahwa hal ini tidak hanya terjadi di paroki santo petrus sukamara melainkan juga di beberapa tempat di bumi tambun bungai ini, seperti juga beberapa stasi yang terdapat di pedalaman Murung raya dan sempat menjadi buah bibir kesaksian iman beberapa umat di lingkungan.

 

2.             Minimnya pembinaan penerimaan sakramen inisiasi

Minimnya pembinaan sakrmen inisiasi ini berkaitan erat dengan kurang aktifnya seorang katekis  dalam karyanya sebagai seorang yang serarusnya mempersiapkan secara matang dasar- dasar insiasi yang akan menjadi dasar kehidupan iman seorang kristiani. Bertolak dari apa yang pernah saya alami, ketika saya dan begitu banyak orang yang yang pada saat yang sama terdaftarkan sebagai seorang calon baptis ataupun calon penerimaan sakramen krisma, saya dapat merasakan minimnya pembinaan tersebut. Kami hanya menerima pengajaran melalui pertemuan di sekolah saat pelajaran agama berlangsung. Sebelum pembaptisan, kami hanya dikumpulkan satu kali diluar jam sekolah untuk membicarakan pemilihan nama baptis. Dampak hal ini sungguh sangat jelas bagi saya yang pada saat itu sekaligus dipersiapkan untuk menerima sakramen ekaristi, Sementara pembinaan yang saya dapatkan sangat minim. Hingga saya duduk dikelas dua SMA saya baru mengerti mengapa kita harus menghormati Ekaristi, dan mengapa kita tidak boleh tidur saat perayaan ekaristi berlangsung. Karena sebelumnya memeng tidak pernah dijelaskan mengapa ekaristi disebut sebagai tubuh dan darah Kristus sendiri dan hal- hal apa saja yang mendukung atau dapat membuktikan pernyataan tersebut. Jika seorang kristiani yang telah menerima sakramen Ekaristi yang adalah Tubuh dan Darah Kristus saja tidak memahami apa sebenarnya sakramen ekaristi itu sendiri, bagaimana mungkin ia dapat memiliki semangat militansi iman yang harus ia perjuangkan.

 

3.             Ketidakmampuan orang tua untuk mendidik iman anak dan ketidak bertanggungjawaban seorang wali baptis

Ketidak mampuan orangtua untuk mendidik anak- anaknya seturut ajaran iman kristiani adalah salah satu faktor yang menyebabkan ketidakberakaran iman umat. Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah minimnya pendidikan masyarakat daerah. Sebagaimana masyarakat dayak yang berada di desa natai sedawak. Desa ina hanya berjarak beberapa kilometer dari kecamatan sukamara, bahkan merupakan pusat perkantoran deerah kabupaten sukamara sendiri. Namun hal ini tidak lantas mempengaruhi pandangan masyarakat akan pentingnya pendidikan. Banyak dari orangtua yang bahkan tetap berpandangan bahwa akhir dari sebuah pendidikan pun adalah rumah tangga, terlebih bagi seorang wanita. Pandangan mereka yang demikian kemudian juga berpengaruh terhadap pendidikan anak- anak mereka, yakni “yang penting bisa baca tulis”. Sehingga sampai saat ini putus sekolah dan pernikahan dini masih seringkali terjadi.

Dengan keadaan yang demikian, harusnya gereja masih boleh berharap pada sosok seorang wali baptis, yang harusnya menjadi teladan bagi anak- anak baptis nyang diwalikan kepadanya serta menjadi penuntun kehidupan iman anak- anak ntersebut dalam kehidupannya. Namun sebagaimana myang saya alami, wali baptis nsaya hanya lah sebatas tempelan nama pada surat baptis saja. Saya bahkan dan teman- teman saya yang diwalikan kepadanya pada saat itu bahkan tidak pernah diperhatikan. Dalam keluarganya, beberapa saat yang lalu bahkan bapak yang menjadi wali baptis kami ini kerap pergi ketempat- temlpat hiburan malam untuk mbermabuk- mabukan. Entah karena tidak menngerti akan peranan seorang wali baptis atau ditempatkan dengan paksa sebagai wali baptis, tidak jelas apa yang membuat hal ini kemudian menjadi demikian.

 

4.             Kurangnya tanggung jawab pribadi untuk mencari pengetahuan tentang iman

Mimpi adalah awal dari sebuah perjuangan yang akan diperjuangkan untuk mencapai apa yang diinginkan dalam impian tersebut. Tetapi mimpi tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan selama oarang yang memimpikannya tidak pernah berusaha untuk mencapainya dengan sebuah perjuangan. Demikian pun dalam hal kehidupan beriman, seorang yang telah sah sebagai anggota gereja pada dasarnya memiliki tanggung jawab atas perkembangan imannya, sebagaimana diungkapkan dalam penutup dokumen konsili vatikan II mengenai tanggung jawab setiap orang beriman yakni bahwa mereka diharapkan  lebih jelas memahami panggilan hidupnya, lebih menyelaraskan dunia dengan martabat manusia yang amat luhur, menghendaki persaudaraan universal dengan dasar yang lebih mendalam, dan atas dorongan cinta kasih, melalui usaha- usaha terpadu terdorong oleh kebesaran jiwa untyuk menanggapi tuntutan- tuntutan mendesak masa kini. Dasar mendalam bagi seorang kristiani adalah sabda Allah yang harusnya senatiasa menjadi kompas kehidupan. Tetapi fakta yang ada dalam masyarakat adalah bahwa banyak dari antara .mereka bahkan tidak memiliki kitab suci. Seorang anak yang telah dibaptis, dengan latar belakang pendidikan orangtua yang tidak memadai dan pandangan mereka terhadap pendidikan sebagaimana yang telah dipaparkan diatas menumbuh kembangkan pula kemalasan pribadi untuk mengenal dan mencari tahu lebih banyak mengenai apa yang mereka imani. Mereka telah terbiasa menerima begitu saja apa yang telah diberikan oleh guru- guru agama dalam pendidikan formal di sekolah, tanpa harus menyulitkan diri untuk mencari informasi yang lebih mengenai haltersebut.

 

5.             Keadaan masyarakat

Masyarakat dayak pada umumnya memiliki prinsip hidup santai. Hal ini dikarenakan segala sesuatu yang telah tersedia dialam dan selalu memanjakan mereka. Pola hidup yang demikian hingga saat ini masih sangat berpengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Mereka tidak bekerja mati- matian setiap saat untuk mendapatkan uang sebagaimana yang dilakukan masyarakat kota pada umumnya. Mereka  bekerja kemudian beristirahat setelah mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka untuk beberapa saat.

Pengaruh negatif dari kebiasaan mereka yang demikian ialah bahwa seringkali mereka memanfaatkan kesenggangan waktu mereka dengan berkumpul dan mabuk- mabukan, khususnya kaum laki- laki. Hal ini pulalah yang kemudian memicu terjadinya berbagai konflik dalam rumah tangga dan terombang- ambingnya kehidupan anak, terlebih jika mereka tidak memiliki pendamping yang senantiasa mendampingi dan menguatkan mereka dalam kehidupan beriman.

 

2.2            Bagaimana Reksa Pastoral Dan katekese Untuk Menyikapi Hal Tersebut

Reksa pastoral pertama –tama adalah tritugas Kristus yang diwariskan kepada setiap orang yang telah dibaptis dalam persekutuan gereja kudus. Yakni sebagai nabi yang mewartakan Injil, sebagai imam yang menguduskan dengan pelayanan sakramen, dan sebagai raja yang murah hati dalam pelayanan, yang dilaksanakan untuk kaum beriman. Sementara katekese berarti pengajaran, yang dalam konteks ini tentu pengajaran tentang materi iman berkaitan dengan tritugas tersebut sebagai upaya pengembangan iman umat dalam persekutuan gerejani.

Bertolak dari permasalahan- permasalahan  yang telah dikemukakan diatas serta faktor- faktor yang penyebab ketidak berakaran umat dalam kehidupan berimannya maka seorang katekis yang memiliki kewajiban dan tugas untuk menyebarluaskan iman dan gereja sebagaimana diungkapkan oleh dokumen konsili Vatikan II dalam AG art. 17 mengenai pendidikan para katekis bertanggung jawab pula atas hal ini. bagaimanakah reksa pastoral dan katekese yang harus dipersiapkan oleh seorang katekis yang dijiwai semangat merasul untuk menyikapi hal ini?

Reksa pastoral dan katekese pertama- tama yang harus dipersiapkan oleh seoranng katekis ialah reksa patoral dan katekese mengenai liturgi inisiasi, sebagaimana telah disinggung diatas bahwa semangat militansi seorang beriman diantaranya terletak pada seberapa besar perjuangan dan kerja keras orang tersebut ketika ia dipersiapkan untuk masuk dan diakui secara sah dalam persekutuan gereja. Tentu bsaja bukan sebagaimana istilah “ngambek” yang kerap kali terjadi di kalangan para simpatisan dan katekumen “kenapa saya belom boleh dibaptis tahun ini, padahal saya sering pergi kegereja, dsb…” kemudian berpikir bahwa ia ditolak  hingga akhirnya memutuskan untuk pergi mencari gereja- gereja yang lain.

Raksa pastoral dan katekese yang dapat dilakukan seorang katekis berkaitan dengan sakramen baptis adalah membimbing para katekumenat untuk menyadari secara utuh kelahiran barunya di dalam kristus, yakni penyadaran akan kehidupan baru yang membawa kepada sebuah pertobatan. Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ajaran gereja bahwa seorang katekumenat harus melalui tiga tahap dan empat masa untuk menjadi seorang anggota gereja. Maka para katekumenat pun juga harus mengetahui hal ini agar kemudian tidak bertanya- tanya mengapa harus ada serentetan upacara yang begitu panjang yang harus mereka ikuti bahkan setelah mereka dibaptis.

 

                                                    Tahap ketiga         Masa mistagogi

                                                                           

            Masa persiaan

             Tahap kedua                          terakhir

 

                             Masa          

Tahap pertama               katekumenat     

 

 Masa  prakatekumenat

                                                                   

 

Masa  prakatekumenat: masa ini bertujuan agar para simpatisan mulai berkenalan denngan gereja, Yesus Kristus, iman dan cara hidup orang katolik.

Masa katekumenat: pada masa ini para katekumenat semakin mendapat kesempatan untuk lebih banyak belajar pokok- pokok iman katolik dan lebih meningkatkan hidupnnya sebagai orang katolik (pengetahuan dan penghayatan)

Masa persiapan terakhir: masa ini disebut pula sebagai masa penyucian dan penerangan, karena masa ini ditutup dengan upacara penerimaan sakramen inisiasi yang didalamnya seorang katekumenat disucikan dalam pembaptisan dan diterima dalam persekutuan gereja yang diterangi dan dituntun oleh sabda Allah.

Masa mistagogi: masa ini disebut pula sebagai masa pendalaman iman yang didalamnya disamlpaikan pula tiga bentuk katekese;

a)    Katekese praktis yang meliputi pengarhan peserta katekese untuk mempraktekkan hidup keagamaannya seperti berdoa, berdevosi, bergairah meng hadiri perayaan ekaristi, mengenal masa-masa liturgi, dsb.

 

b)   Katekese historis meliputi ajakan kepada umatuntuk mempelajari kedekatan umat israel dengan Allah dalam pengalaman perziarahan imannya mulai dari proses pembebasan dari tahah mesir hingga pejalanan menuju tanah terjanji.

 

 

c)    Katese sistematis yang tersusun secara sistematis, singkat dan padat. Katekese ini biasanya bersumber pada buku katekismus yang menyampaikan satu pokok ajarannya secara sistematis mulai dari ilmu teologi, ajaran dogma (keputusan / ketetapan yang dikeluarkan oleh gereja), serta diadakan secara teratur sehingga mudah dipahami dan ditangkap oleh orang- orang yang mendengarkannya.

Bagaimana dengan reksa pastoral dan katekese Sakramen Penguatan dan Sakramen Ekaristi yang juga merupakan sakramen inisiasi?

Sakramen krisma yang diterimakan oleh seorang uskup(Bdk. LG 26) dalam bentuk minyak Krisma diyakini gereja sebagai penerimaan rahmat Roh Kudus Allah secara penuh sebagaimana yang pernah dialami para rasul pada hari pentakosta. penerimaan Penguatan ini perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan Bdk. Ocf praenotanda 1.. “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (LG 11) Bdk. Ocf praenotanda 2..       Oleh sebab itu, maka persiapan bagi penerima Sakramen Penguatansebagaimana myang ditantukan dalam katekismus gereja katolik;

 

1309              harus diarahkan sedemikian supaya warga Kristen dihantar kedalam suatu kesatuan yang lebih erat dengan Kristus, ke suatu kemesraan yang lebih hidup dengan Roh Kudus, dengan perbuatan-Nya, dengan anugerah Nya, dan dengan dorongan-Nya, supaya ia dapat menanggung lebih baik kewajiban hidup Kristen yang sifatnya apostolik. Karena itu, katekese Penguatan harus berusaha membangkitkan pengertian tentang keanggotaan dalam Gereja Yesus Kristus – baik Gereja universal maupun Gereja lokal.

 

1310              Untuk menerima Penguatan, orang harus berada dalam suasana rahmat. Karena itu, dihimbau supaya menerima Sakramen tobat, sehingga dibersihkan sebelum menerima anugerah Roh Kudus. Di samping itu doa yang intensif juga harus mempersiapkan orang untuk menerima kekuatan dan rahmat Roh Kudus dengan Kerelaan batin Bdk. Kis 1:14

 

1311              Sangat dianjurkan bahwa yang menerima Penguatan, sama seperti waktu Pembaptisan, menerima bantuan rohani dari seorang wali. Untuk menjelaskan kesatuan dari kedua Sakramen ini, maka dianjurkan agar wali Pembaptisan sekaligus juga menjadi wali Penguatan Bdk. Ocf praenotanda 15; 16; CIC, can.

 

Ekaristi sebagai sakramen  merupakan bagian dalam kurban Tuhan bersama seluruh jemaat.   Maka Ekaristi disebut jugasebagaiPerjamuan Tuhan Bdk. 1 Kor 11:20., karena ia menyangkut perjamuan malam, yang Tuhan adakan bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum sengsara-Nya. Didalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk-Nya, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

Dalam  Ekaristi umat dipersatukan dengan Kristus sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan iman dalam syahadat para rasul sebagai “persekutuan para kudus”. Apa yang dihasilkan makanan jasmani dalam kehidupan jasmani kita, itu yang dicapai komuni dalam kehidupan rohani kita atas cara yang mengagumkan. Komuni dengan tubuh Kritus yang telah bangkit, suatu daging “yang berkat Roh Kudus dihidupkan dan menghidupkan” (PO 5), melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan. Maka reksa pastoral dan katekese yang harus disampaikan kepada umat maupun katekumenat Ekaristi adalah bagaimana mereka dapat mmahami hal- hal sebagaimana yang telah diuraikan diatas yakni bahwa hosti bundar yang kecil dan tipis itu setelah dikonsekrasikan oleh seorang imam mengalami transubstansi menjadi Tubuh dan Darah Kristus suatu daging “yang berkat Roh Kudus dihidupkan dan menghidupkan” (PO 5), melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan. Obat kebakaan, penangkal racun, sehingga orang tidak mati, tetapi hidup selama-lamanya dalam Yesus Kristus” (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2).

Memaksimalkan katekese inisiasi  dan peran seorang katekis tentu tidak cukup begitu saja dalam mengembangkan iman umat, terlebih bila kita melihat faktor- faktor sebagaimana yang telah disebutkan diatas, berkaitan dengan ketidak mampuan orang tua untuk mengajar anak- anaknya dalam kehidupan imannya, peran serta seorang wali baptis, kemalasan pribadi, dan keadaan masyarakat. Maka selain langkah- langkah pemaksimalan katekese inisiasi sebagaimana yang telah di paparkan diatas langkah yang juga harus dilaksanakan seorang katekis dalam kerjasama dengan pastor paroki adalah:

1)        Menumbuhkan kesadaran para katekumenat akan tugas serta tanggung jawab pribadi mereka setelah mereka menerima sakramen- sakramen inisiasi, bahwa setiap onggota gereja memiliki tritugas kristus sebagai imam yang menguduskan, nabi yang mewartakan, dan raja yang memimpin diri sendiri dan orang lain kedalam kehidupan yang ilahi, serta tidak terbawa arus kehidupan dan pandangan masyarakat yang terkadang tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Agar kemudian setelah menerima sakramen- sakramen inisiasi mereka tidak berhenti sampai disitu saja melainkan sungguh- sungguh terlibat dalam persekutuan gereja bersama umat.

 

2)        menghidupkan kegiatan- keiatan doa bersama di lingkungan agar umat boleh bertumbuh bersama sama dan tidak merasa terasing atau hidup dalam iman yang mati, kaku dan tidak berkembang, melainkan dapat merasakan indahnya persaudaraan kristiani dalam kebersamaan.

 

3)      Mengadakan pembinaan bagi para wali baptis yang akan mendampingi para katekumenat dalam penerimaan sakramen inisiasi, yakni bahwa seorang wali baptis dan penerimaan sakramen- sakramen inisiasi lainnya memiliki tanggung jawab dan peranan untuk memberikan bantuan rohani dalam pertumbuhan iman dan perjalanan hidup katekumenat yang akan diwalikan kepadanya. Pembinaan ini tentu juga peru diberikan kepada orang tua dari para katekumenat anak yang beragama katolik agar sekurang-kuranya mereka boleh mengetahui peran yang dapat mereka lakukan terhadap pertumbuhan iman anak- anak mereka. Bagaimana dengan seorang anggota katekumenat yang orangtuanya tidak beragama katolik? Selain wali baptisnya, maka saudara- saudaranya yang mungkin beragama katolik diharapkan berperan terhadap perkembangan iman anak tersebut sebagaimana orangtua terhadap anaknya sendiri, dimana seorang katekis juga akan membantu dalam melaksanakan hal ini, mendampingi dan memotivasi kehidupan iman anak ini.                        

 

2.3            Sumbangan  Pengajaran  Sakramen  Inisiasi  Bagi  Karya Katekis  Dalam  Berkatekese  dan  Berpastoral

Sumbangan dari pengajaran sakramen inisiasi bagi karya katekis dalam berkatekese dan berpastoral adalah

1)      Seorang katekis dapat mempelajari peranan dan fungsi, serta betapa pentingnya sakramen- sakramen inisiasi

2)      Seorang katekis mendapatkan sebuah landasan teori untuk kemudian mengajarkannya kepada orang lain dalam hidup dan karyanya mengembangkan iman umat

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

                                                                       

3.1       KESIMPULAN

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, dan uraian- uraian pada bagian isi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja seorang katekis dalam mengupayakan pengakaran iman umat perlu diimbangi dengan peran serta pribadi yang bersangkutan, orang tua, saudara,  dan wali baptis. Dengan  memaksimalkan katekese inisiasi  dan peran serta tokoh- tokoh tersebut diharapkan  akan terbentuk pribadi yang sungguh- sungguh berakar dalam imnnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-          Anggota IKAPI. “Alkitab Deuterokanonika”. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta 2005

-          Departemen dokumentasi dan penerangan KWI, diterjemahkan oleh Hardawiryana R. “Dokumen Konsili Vatikan II”. Penerbit Obor. Jakarta 1993

-          Heuken, Adolf Heuken SJ “Ensiklopedi gereja jilid iii H-J”. Cipta Loka Caraka, Jakarta 1992

-          Katekismus gereja katolik online sumber http://www.imankatolik.or.id

-          Diktat liturgi inisiasi dan pengantar katekese

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s