SAKRAMEN BAPTIS

1.1. Latar Belakang Penulisan
Sakramen baptis adalah sakramen inisiasi pertama yang menjadi tanda dimasukkan dan diterianya seseorang yang telah bertobat kedalam persekutuan kristiani. Hal ini menunjukkan dengan jelas pentingnya peranan sakramen ini sebagai sebuah sakramen dasar bagi seorang katolik untuk menghayati imannya di kemudian hari ketika ia telah menjadi seorang katolik, mengapa ia mempercayai Kristus dan bagaimana peranan sakramen baptis yang telah ia terima tersebut dalam kehidupannya.
Bertolak dari kenyataan pentingnya sakramen ini dan kenyataan bahwa seringkali orang yang telah dibaptis secara sah pun tidak memahami peranan dan apa yang diharapkan gereja dari penerimaan sakramen ini dengan segala ketetapan yang telah disusun oleh gereja dengan sedemikian rupa mengenai sakramen baptis ini, maka sangatlah penting bagi seorang calon katekis untuk memahami sakramen baptis ini dengan sebagaimana mestinya sebagai batu loncatan dalam pelaksanaan karya pastoral.

1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini adalah sebagai berikut:
1) Melihat kembali berbagai fakta yang hidup dikalangan umat berkaitan dengan penghayatan imannya sebagai seorang yang telah dibaptis
2) Memaparkan sakramen baptis dari berbagai sudut pandang gereja, agar sakramen ini dapat dipahami dengan baik dan benar
3) Sebagai pemenuhan tugas dari mata kuliah sakramentologi II

1.3. Metode Penulisan
Adapun paper Sakramen Bapts ini ditulis dengan metode research terhadap buku- buku yang berkaitan dengan sakramen baptis di perpustakaan sekolah tinggi pastoral Tahasak Danum Pambelum serta berbagai artikel di internet yang kemudian dihuungkan dengan berbagai fenomena kehidupan iman umat dalam kehidupan sehari- hari.

1.4. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari paper ini adalah sebagai berikut:
1) Bab I Pendahuluan, memaparkan apa yang menjadi latar belakang penulisan, tujuan penulisan, dengan metode apa paper ini ditulis, serta bagaimana sistematika penulisannya.
2) Bab II Kajian Teori memaparkan pandangan dasar Gereja terhadap sakramen baptis berkiatan dengan pelayanannya.
3) Bab III Pembahasan memaparkan validitas pelayanan, materia, perkembangan dan berbagai fenomena masa kini berkaitan dengan sakramen baptis.
4) Bab IV Penutup memuat kesimpulan dan saran

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. Pengertian Sakramen Baptis
Sakramen adalah upacara atau ritus yang menjadi mediasi, dalam arti menjadi simbol yang terlihat atau manifestasi dari Rahmat Tuhan yang tidak kelihatan. Dalam perkembangannya, Gereja mula-mula memberikan makna dan isi baru tentang sakramen sehingga maknanya pun mengalami perubahan sebagai berikut:
1. Suatu kesepakatan antara manusia dengan Tuhan Allah. Sehingga dengan menerima Sakramen, seseorang berjanji untuk hidup setia kepada Yesus Kristus.
2. Sebagai sumpah kesetiaan orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
3. Menurut Santo Agustinu, sakramen berarti :
1) Tanda-tanda yang kelihatan dari yang tidak kelihatan dari suatu hal suci; atau wujud yang kelihatan dari rahmat yang tidak kelihatan; Firman yang kelihatan.
2) Tanda dan materei yang kelihatan dan suci yang ditentukan oleh Tuhan Allah, menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dijanjikan-Nya supaya iman kita dikuatkan,
3) Ditetapkan Tuhan Allah untuk menguatkan persekutuan sesama anak-anak Allah. Sakramen memberikan anugerah dan menguduskan seseorang. Cara untuk mempersatukan seseorang dengan Kristus, dan mempertahankan persatuan itu.
Sementara Baptisan berasal dari bahasa Yunani Baptizo, yang berarti dimandikan, dibersihkan, atau diselamkan, baik sebagian maupun keseluruhan. Berdasarkan Roma 6 : 1- 14, seorang yang telah dibaptis telah mengaami kematian dan bangkit di dalam Kristus serta melambangkan bahwa manusia mati terhadap dosa bersama dengan Kristus, dan dibangkitkan untuk suatu hidup baru. Karena manusia dilahirkan kembali oleh air dan Roh Kudus, sebagaimana yang dituliskan didalam Yoh 3:5. Hidup baru tersebut, menunjukkan kita dibersihkan dari dosa.
2.2. Dasar Biblis Sakramen Baptis
Sakramen Baptis adalah salah satu sakramen inisiasi yang dalam perkembangannya bertolak dari tradisi kehidupan Yudaisme bangsa israel yang juga mengenal baptisan sebagai upacara permadian atau penyucian yang berfungsi menyucikan atau membersihkan orang dari kenajisan dan dosa sebagaimana yang termuat dalam kitab Imamat 15:5.8.10.13.18.22 ; 16:4.24 dst. Akan tetapi apa dalam hal ini, sakramen baptis sebagai itus inisiasi Kristen memiliki makna tersendiri yang baru dan yang kemudian membedakannya dengan baptisan sebagaimana yang juga terdapat dalam yudaisme dan banyak agama- agama adat yang pada zaman Yesus banyak berkembang di sekitar lingkungan Yahudi. Salah satu hal yang membedakannya dengan baptisan- baptisan diatas ialah dasar teologis dan makna yang terkandung dibalik pelaksanaan upacara tersebut. Adapun beberapa dasar kitab suci dari sakramen baptis sebagai sebuah inisiasi kristen yang membedakannya dari ritus baptisan lainnnya diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Mat 3:13- 17, dst; Yoh 1:29-32 menceritakan bagaimana Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan bagaimana Yohanes Pembaptis sendiri bersaksi akan pribadi Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
2) Mat 28:19, bdk Mrk 16:15 Yesus yang telah bangkit menampakkan diri dan mengutus murid- murid Nya “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid K dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
3) Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Melalui ayat ini kita dapat melihat Tuhan Yesus sediri yang menekankan pentingnya baptisan sebagai jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah.
4) Kis 2:38 St. Petrus mengatakan “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Dalam ayat ini St. Petrus menekankan perlunya Baptis untuk pengampunan dosa dan syarat untuk menerima karunia Roh Kudus.
5) Santo Paulus dalam Titus 3:5 “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”
6) lalu dalam Kis 22:16 “Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!”

Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa Sakramen Baptis bukan hanya sebuah lambang atau simbol melainkan Baptisan memang sungguh- sungguh membuat kita lahir baru, karena Baptisan itu berhubungan erat dengan Roh Kudus yang menguduskan dan membuat kita lahir baru. Baptisan bertolak dan terinspirasi pada apa yang diterima oleh Yesus sendiri sebagai permulaan dari karya Nya di dunia ketika Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, serta bersumber pada apa yang dikatakan oleh Yesus secara tologis dalam penampakan Nya kepada para rasul yakni untuk menjadikan semua bangsa murid Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Bila kita perhatikan Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu…”, kata “air dan Roh” yang berarti Baptisan dan Roh Kudus memiliki suatu hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang erat antara Baptisan dan Roh Kudus inilah yang membuat kita memperoleh hidup baru pada saat kita dibaptis. Hubungan erat antara Roh Kudus dan Baptisan ini pulalah kiranya yang dibicarakan oleh Rasul Paulus sehingga ia tidak menyebut Roh Kudus melainkan “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh Baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4).

Baptisan bukan perbuatan manusiawi belaka tetapi Baptis adalah tanda dan sarana Rahmat Allah, yaitu kelahiran/hidup baru dimana Allah berkarya melalui para pelayan-Nya. Baptisan adalah karya Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Baptisan tidak dapat dibedakan/dipisahkan dari Iman kepada Yesus dan dari Pencurahan Roh Kudus. Baptisan merupakan perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan Iman itu berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus sebagaimana yang terdapat pada1 Kor 12:3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.” Dari uraian diatas jelaslah bahwa Baptis bukan hanya sebuah simbol tetapi benar-benar membuat kita lahir baru karena peranan dari Roh Kudus yang membuat kita lahir baru didalam pembaptisan. oleh karena hal itulah St.Petrus menegaskan perlunya baptisan bagi keselamatan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya (air bah), yaitu baptisan maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Pet 3:21).
2.3 Pandangan Keselamatan Dalam Gereja Katolik
Gereja pada masa pra konsili vatikan II terkenal dengan pandangannya Extra Excclesiam Nulla Salus yang berarti diluar gereja tidak ada keselamatan yang bertolak dari teks kitab suci;
1. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan “Kis 4:12”
2. Kata Yesus kapanya “ Akula jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6)

Kebanyakan orang awam katolik dan para imam berhaluan lieral sering menafsirkan bahwa doktrin ini sudah dianulir dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Namun pandangan inilah yang hendaknya diluruskan, sebab sesungguhnya gereja tidak pernah menganulir doktrinnya melainkan berusaha memberikan pemaparan yang sesuai bagi kebenaran yang terkandung didalam doktrin tersebut dengan cara pandang yang berbeda. KGK 846

“Berdasarkan kitab suci dan tradisi, konsili mengajarkan bahwa gereja yang sedang mengembara ini perlu untukkeselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya yaitu gereja. Dengan jelas- jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya gereja yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. “Maka dari itu andaikata ada orang yang benar- benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk kedalamnya atau tetap inggal didalamnya ia tidak dapat diselamatkan.” LG 14
KGK 1260 “ sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar – benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri paskah itu (GS 22) bdk LG 16, AG 7 “ Setiap manusia yang tidak mengenal injil Kristus dan gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan.orang dapat mengandaikan bahwa orang- orang semacam itu memang menginginkan pembaptisan seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.
Dua bagian ini menunjukkan bahwa keselamatan semua orang selalu terhubung dengan gereja walaupun caranya berbeda, ada yang secara defacto dengan menjadi anggota dan ada pula yang dihubungkan secara misterius dengannya.dan karenaya tidak mungki adanya keselamatan tanpa adanya hubungan dengn Kristus dan Gereja-Nya.
Bagaimana dengan kehadiran banyak agama masa kini yang juga berkembang dan juga berbuat kebaikan bagi sesama yang tentu akan membawa setiap pengikut yang hidup sesuai dengan ajarannya masuk kedalam kerajaan surga?
Sebuah prinsip yang ahrus kita pegang dan kita pahami secara benar dalam mengartikan dokumen- dokumen Konsili Vatikan II dalam kaitannya dengan Extra Excclesiam Nulla Salus ialah bahwa “kebenaran” berbeda dengan “keselamatan”. Kebenaran ada diluar Gereja sebab manusia memiliki kodrat luhur yaitu suatu kerinduan yang mendalam untuk bersatu kembali dengan Allah penciptanya. Kita dapat membuktikan hal ini bahwa di suku- suku terpencilpun yang jauh dai peradapan manusia modern masih memiliki kepercayaan akan “kekuatan yang tak terlihat” yang seringkali disebut sebagai animisme dan dinamisme. Maka gereja pun mengajarkan bahwa “manusia adalah makhluk religius”. Dalam diri Allah terdapat kebenaran sejati. Maka dalam setiap usaha merekamanusia dalam mencari Allah, sudah tentu terdapat nili- nilai kebenaran.
Tetapi keselamatan datangnya hanyya dari Allah, dan manmusia dituntut untuk bekerjasama secara aktif bersama Allah untuk mencapai keselamatan tersebut. Jika kita memperhatikan kisah- kisah dalam perjanjian lama kita apat melihat bahwasannya Allah telah menjanjikan keselamatan itu kepada manusia sjak manusia pertama jatuh kedalam dosa (kej3:15). Namun sifat Allah yang maha segalanya, dan keterpisahan antara manusia dengan Allah akibat dosa telah menjauhkan manusia dari –Nya. Maka Allah mewahyukan diri secara bertatahap melalui para nabi perjanjian lama yang terus menubuatkan kepenuhan sabda Allah dalam diri Mesias.
Dalam diri Yesus lah, sang sabda telah menjadi daging dan tinggal diantara kita, suatu pewahyuan yang sempurna dan terakhir, dan wahyu ilahi tersebut hidup abadi dalam Tubuh mistik-Nya di dunia yatu Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik (mat 16:18-19). Gereja tersebut aalah gereja katolik. Sang kebenaran sejati telah mewahyukan dirinya kepada manusia dan mempercayakan perintah- perintah-Nya yang hidup dalam Gereja, dan Gereja telah diberikan suatu kuasa dan rahmat sehingga gereja tak akan pernah jatuh ke dalam alam maut, maka Gereja tidak pernah mengajarkan suatu kesesatan.
Bagaikan bahtera Nuh , Allah yang telah mengirimkan air bah dan memusnahkan seluruh kehidupan dimuka bumi yang penuh dosa, seperti halnya air pembaptisan Yng telah membersihkan diri dari dosa yang telah memisahkan antara Allah dan manusiaGereja bagai pula bahtera Nuh ditengah air bah, diluarnya tidak ada keselamatan melainkan kebinasaan.
Maka sesungguhnya Gereja mengakui adanya kebenaran diluar gereja, tetapi kebenran tersebut hanyalah patrial atau sebagian:
LG 6 “ tetapi sering orang- orang karena ditipu oleh si jahat, jatuh kedalam pikiran- pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta. Dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada sang pencipta.
Hal ini menunjukkan bahwa, segala macam usaha manusia tanpa rahmat Allah untuk mencapai keselamatan hanyalah sia- sia belaka. Pada bagian sebelumnya kita telah melihat bagaimana Allah yang begitu mencintai manusia memberikan rahmat tersebut kepada manusia melalui Kristus dengan berbgai tahapan-tahapannya. Sesungguhnya;
1. Jika seluruh mausia diatas muka bumi ini jatuh kedalam neraka, kemuliaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun.
2. Kemuliaan Allah sama sekali tak bergantung kepada manusia.
Manusia begitu kerdil dhadapan Allah, dan hanya satu kurban yang mampu menyenangkan hati Allah, yang tidak lain ialah kurban Putra-Nya yang Tunggal Yesus Kristus diksyu salib, karya penebusan dosa yang hanya dapat kita terima kembali secara utuh dalam perayaan Ekaristi kudus yang hanya kita dapatkan dalam Gereja Katolik.
LG 14 “maka dari itu andaikata ada orang “Maka dari itu andaikata ada orang yang benar- benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk kedalamnya atau tetap inggal didalamnya ia tidak dapat diselamatkan.”
Didalamnya dtekankan yang memang terkandung “benar- benar tidak tahu”. Tentunya hanya Allah yang mengetahuikedalaman hati nurani manusia apakah ia benar- benar tidak tahu, atau malas mencari tahu, atau bahkan menolak untuk mencari tahu. Kita tidak dapat berandai- andai dalam hal ini dan berspekulasi. Namun satuhal yang pasti bagi kita yang sudah menjadi anggota Gereja-Nya untuk terus mencari tahu, menghayati dan menjalankan ajaran – ajaran Kristus yang tertuang dengan baik dalam ajaran- ajaran magisterium dan kitab suci. Serta terus turut seta mewartakan kabar keselamatan inidalam bersikap dan berbuat dan terus pula berdoabagi mereka yang masih belum tergabung di dalam Gerejanya dan bagi mereka yang tidak mendapati jaminan eselamatan kekal.
Apa perbedaan antara kebenaran dan kebenaran sesungguhnya?
Kebenaran memang ada diluar gereja, agama-agama diluar gereja mengandung nilai-nilai kebenaran, namun nilai- nilai kebenaran yang diwartakannya tidak mencapai kepenuhannjya. Gereja memandangnya sebagai pantulan cahaya kebenaran seperti bulan yang hanya memantulkan sinar matahari.
Allah menyapa manusia dan manusia wajib menanggapinya. Manusia yang telah jatuh kedalam dosaterpisah dari hubungan mesranya dengan Allah dan manusia tidak lagi bisa menatap Allah. Hal ini berlaku bagi semua manusia. Didalam keselamatan terdapat kebenaran yang sesungguhnya yaitu kebenaran yang menbawa kepada keselamatan, yakni persatuan kembali secara sempurna dengan Allah. Allah mengetahui bahwa manusia dengan segala keterbatasannya tidak dapat mencapai Diri-Nya dengan sempurna. Sebab sejak jatuh kedalam dosa manusia selalu cenderung berbuat dosa lagi yang senantiasa menggiringnya kepada maut. Maka Allah menanggapi janji keselamatan kepada manusia (kej 3:15)dengan mewartakan dirinya secara bertahap kepada para nabi perjanjian lama, dan mencapai kesempurnaannya dalam diri Yesus Kristus, yang kemudian menyerahkan kunci kerajaan surga kepada Petrus dan para penggantinya yang kemudian mendirikan Gereja (mat 16:18-19). Di dalam Allah terdapat kebenaran sejati yang membawa seluruh manusia kepada diri-Nya dan Allah telah menyatakannya secara sempurna kepada Yesus, dan Yesus menyerahkan kepada Gereja agar janjinya akan keselamatan tergenapi hingga akhir zaman. Inilah kebenaran yang sesungguhnya.
Kebenaran pada agama lain adalah kebenaran partial karena didasarkan kepada usaha manusia semata yang memang tidak pernah sempurna dan berdosa, kecuali Yesus Kristus yang memang sungguh Allah dan sungguh manusia.
Sungguh besar kasih Allah kepada manusia, bahkan sejak manusia pertama kali jatuh kedalam dosa Allah tetap menyayangi manusia dengan memberikan janji keselamatan. Dimulai pada zaman para nabi perjanjian lama hingga Yesus Kristus. Manusia masih terus berbuat dosa, tetapi Allah tidak pernah berhenti menyapa manusia untuk kembali menuju jalan yang telah Ia siapkanuntuk keelamatan diri manusia, yaitu sakramen tobat dan ekaristi, yang tentunya harus didahului oleh pembaptisan, baik Baptis air, maupun votum baptismi yakni baptis darah melalui martiria, maupun baptis rindu, dan setiap orang yang tidak mengalami salah satu dari baptisan ini tidak akan diselamatkan.
2.4 Dosa asal dan Pembaptisan
Apun dosa asal dinyatakan KGK sebagai berikut:
390 kisah tentang kejatuhan kedalam dosa menggunakan bahasa gambar, tetapi melukiskan satu kejadian purba yang terjadi pada awal sejarah umat manusia. Wahyu memberikaln kepada kita kepastian iman bahwa seluruh sejarah umat manusiatelah diwarnai oleh dosa purba, yang telah dilakukan dengan bebas oleh nenek moyang kita.

Dosa pertama manusia
397 Digoda oleh setan manusia membiarkan kepercayaan akan penciptanya mati di dalam hatinya, menyalahgunakan kepercayaannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Disitulah terletak dosa pertama manusia. Sesudah itu setiap dosa merupakan ketidak taatan kepada Allah dan kekurang percayaan akan kebaikan- kebaikan-Nya.

398 Dalam dosa manusia mendahulukan dirinya sendiri daripada Allah, dan dengan demikian mengabaikan Allah: ia memilih dirinya sendiri melawan Allah, melawan kebutuhan- kebutuhan keberadaannya sendiri sebagai makhluk dan dengan demikian melawan kesejahteraannya sendiri. Diciptakan dalam keadaan dikuduskan manusia ditentukan supaya di “Ilahikan” sepenuhnya oeh Allah dalam kemuliaan.digoda oleh setan ia “hendak menjadi seperti Allah” tetapi “ tanpa Allahdan tidak sesuai dengan Allah. (Maksimus pengaku iman, ambig)

399 Kitab suci menunjukkan akibat- akibat dari ketidak taatan pertama yang membawa malapetaka. Adam dan Hawa seketika itu juga kehilangan rahmat kekeudusan asli. Mereka takut kepada Allah,tentang siapa mereka telah membuat karikatur seorang Allahyang terutama mencari kepentingan- kepentingannya sendiri.

400 Keselarasan yang mereka miliki berkat keadilan asli, sudah rusak, kekuasaan, kemampuan rohani- rohani dari jiwa atas badan sudah dipatahkan; hubungan mereka ditandai dengan keinginan dan nafsu untuk berkuasa. Juga keselarasan dengan ciptaan rusak;ciptaan kelihatan menjadi asing dan bermlusuhan dengan manusia. Karena manusia, seluruh makhluk “telah ditakhlukkan kepada kesia- siaan” (Rm 8:20). Akhirnya akan jadilah akibatnya yang telah diramalkan dengan jelas sebelum dosa ketidaktaantan, “manusia adalah debu dan akan kembali kepada debu” (kej 3:19). Maut memasiki sejarah umat manusia.

401 sejak dosa pertama ini, dosa benar- benar membanjiri dunia: Kain membunuh saudaranya Abel; sebagai akibat dosa manusia pada awalnya menjadi rusak sama sekali; dalam sejarah Israel dosa ini seringkali menampakklan diri- terutama sebagai ketidak setiaan kepada perjanjian dengan Allah dan hukun Musa. Dan juga sesudah penebusan oleh Kristus orang Kristen masih juga berdosa dengan berbagai macam cara. Kitab suci dan tyradisi gereja selalu mengingatkan lagi bahwa ada dosa dan bahwa ia tersebar luas dalam seluruh sejarah manusia.
“apa yang kita ketahui berkat pewahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesame manusia, dan dengan seluruh ciptaan.” (GS13,1)

404 mengaapa dosa Adam menjadi dosa bagi seluruh turun – temurunnya? Dalam Adam seluruh umat manusia bersatu bagaikan tubuh yang satu dari seorang manusia individual. (Thomas Aquinas, mal., 4,1)
Karena “kesatuan umat manusia” ini, semua manusia terjerat dalam dosa Adam sebagaimana semua terlibat dalam keadilan Kristus. Tetapi penebusan dosa asal adalah satu rahasia, yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya. Namun melalui wahyu kita mengetahui bahwa Adam tidakmenerima kekudusan dan keadilan asli untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh kodrat manusia dengan menyerah kepada penggoda, Adam dan Hawa melakukan dosa pribadi, tetapi dosa ini menimpa kodrat manusia yang selanjutya diwariskan dalamkeadaan dosa. Dosa itu diteruskan kepada seluruh umat manusia, melalui pembiakan yaitu melalui kodrat manusia yang kehilangan kekudusan dan keadilan asli. Dengan demikian dosa asal adalah “dosa” dalam arti analog: ia adalah dosa yang orang “menerimanya” tetapi bukan melakukannya, suatu keadaan dan bukan perbuatan.

Namun demikian:
385 Allah amat baik secara tak terbatas dan segala karyanya baik. Namun tidak ada seorang yang luput dari pengalaman penderitaan, kebobrokan alami yang rupanya sudah termasuk keterbatasan ciptaan dan dan terutama tidak seorangpun dapat mengelakkan masalah kejahatan moral. Dari manakah datangnya kejahatan? “ aku bertanya-tanya mengenai awal kejahatan, tetapi tidak menemukan jaan keluar” demikian Santo Agus Tinus (conf. 7,7,11). Dan pencariannya yang menyedihkan hati baru akan menemukan jalan keluar dalam pertobatannya kepada Allah yang hidup “kuasa rahasia kedurhakaan” (2 Tes 2:7) hanya menyingkapkan diri dalam cahaya “rahasia iman” (1 tim 3:16). Wahyu cinta ilahi yang terjadi dalam Kristus menunjukkan sekaligus banyaknya osa dan melimpahnya rahmat. Kalau kita menghadapi pertanyaan mengenai awal kejahatan, kita juga harus mengarahkan pandangan iman kita kepada Dia yang mengalahkannya.

Dengan memahami dosa asal sebagaimana dipaparkan diatas, maka kita dapat melihat peran pembaptisan dalam gereja yang menjadi begitu penting, yakni sebagai pemulihan relasi anntara manusia dengan alah yang telah terluka akibat dosa yang dilakukan manusia pertama. Dengan pembaptisan, seseorang mengandaikan dirinya memasuki suatu kehidupan baru yang didalamnya ia telah ditebus oleh kurban Kristus dan hidup secara baru didalamnya.

2.5 Peraturan Kanonik Sakramen Baptis
“Sakramen baptis adalahgerbang dari sakramen- sakramen gereja yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak- tidaknya diterima dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak- anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa denngan Kristus oleh materi yang tak terhapuskan, dan hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata- kata yang diwajibkan” KHK 849. Peraturan mengenai sakramen baptis dipaparkan dengan sangat jelas oleh gereja di dalam Kitab Hukum Kanonik (codex iuris canonici) 849- 878 yang dibagi kedalam lima bagian. Adapun inti dari setiap bagian dari hukum knonik mengenai sakramen baptis ini adalah sebagai berikut:

1) Hukum mengenai perayaan pembaptisan yang disusun dalam kanon 850-860 menyatakan bahwa sakramen baptis hendaknya diteimakan menurut tata perayaan dalam buku-buku liturgi yang disetujui, kecuali dalam keadaan darurat. Orang dewasa yang bermaksud menerima sakramen ini hendaknya diterima dalam katekumenat dan diarahkan sedalam mungkin kepada inisiasi sakramental dan tahap – tahapnya, yang juga diterapkan bagi semua orang yang dapat menggunakan akal budinya. Sementara orangtua dan wali harus diberitahu dengan baik mengenai makna dari sakramen ini serta kewajiban- kewajiban yang melekat padanya. Diluar keadaan terpaksa, air yangdigunakan haruslah air yang telah diberkati menurut ketentuan liturgi, yang dapat dilkasanakan baik dengan dimasukkan atau dituangi air saja. Dianjurkan pemberian nama yang bercitarasa kristiani, dilaksanakan pada hari minggu atau pada malam paskah, dilaksanakan digereja/ruang doa (diluar keadaan darurat) yakni di gereja paroki masing- masing, sementara setiap gereja paroki hendaknya memiliki bejana baptis. Karna jarak yang jauh atau eadaan lain maka sesseorang dapat dibaptis di tempat yang lebih dekat/ layakdiluar keadaan mendesak dan izin khusus, seorang tidak boleh dibaptis dirumah pribadi ataupun rumah sakit.

2) Hukum mengenai pelayan baptis menyataan bahwa pelayan biasa dari akramen baptis adalah uskup, imam, dan diakon. Bilamana pelayan– pelayan biasa ini berhalangan atau tidak ada maka pelayan sakramen baptis secara licit dilaksanakan oleh katekis atau ordinaris wilayah yang ditugaskan untuk fungsi itu, bahkan oleh siapapun dengan maksud yang semestinya dalam keadaan darurat. Namun diluar keadaan darurat tidak seorangpun yang diizinkan untuk melayani di wilayah lain tanpa izin yang semestinya, sementara baptis dewasa sekurang- kurangnya mereka yang telah berusia genap empat belas tahun.

3) Hukum mengenai calon baptis memaparkan bahwa yang dapat dibaptis hanyalah manusia yang belum dibaptis. Seorang calon baptis dewasa hruslah terlebih dahuu menyatakan imannya, mendapat pengajaran, teruji dalam hidup kristiani, dan menyesali dosa- dosanya, kecuali orang yang berda dalam bahaya maut. Orang dewasa yang telah dibaptis jika tidak ada alasan berat yang merintanginya henaknya diberi penguatan dan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi para orang taua waib membaptis anaknnya pada minggu-minggu pertama kelahirannya. Bayi yang erada dalam bahaya maut hendaknya dibaptis tanpa menunda- nunda. Agar bayi dibaptis secara licit maka sekurang- kurangnya salah satu dari kedua orangtuanya mennyetujuinya, serta adanya harapan bahwa anak tersebut akan dididik secara katolik. Akan tetapi anak dari seorang yang bukan katolik dan tidak menyetujui pembaptisan tersebut pun akan dibaptis secara licit ketika ia berada dalam bahaya maut. Jika diragukan kesahan apakah seseorang telah dibaptis bahkan setelah penelitian maka baptis hendaknya diberikan secara bersyarat, sementara mereka yang telah dibaptis dalam jemaat gerejawi bukan katolik tidak boleh dibaptis secara bersyat, kecuali bila rumusan kata- kata, bahan,dan maksud dari baptisan yang telah diterimanya tersebut mengandung alasan serius agar baptisannya dapat diragukan. Bayi yang dibuang dan ditemukan hendaknya dibaptis, kecuali sesudah penelidikan dapat dipastikan bahwa ia telah dibaptis. Orang dewasa dan orangtua dari anak yang diragukan keabsahan baptisannya haruslah menerima pengajaran/ uraian mengenai sakramen baptis dan hal- hal yang telah menimbulkan keraguan akan keabsahan dari pembptisan yang telah diterimanya.

4) Hukum mengenai wali baptis dipaparkan bahwa seorang calon baptis sedapat mungkin harus diberi wali baptis yang bertanggung jawab agar oranng yang diwalikan kepadanya menghayati hidup kristiani yang sesuai dengan baptisan dan memenuhi dengan setiakewajiban- kewajiban yang melekat pada baptisan itu. Selain itu, seorang wali baptis juga adalah seorang yang ditunjuk oleh calon baptis/ orang tua calon baptis/ orang mewakili/ oleh pastor paroki, dan cakap dalam melaksanakan hal tersebut, berumur genap enam belas tahun (kecuali dalam situasi tertentu), telah menerima sakramen penguatan dan ekaristi serta hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya, tidak terkena suatu hukum kanonik, dan bukan ayah atau ibu dari calon baptis. Sementara seseorang yang dibaptis dalam suatu jemaat gerejawi bukan katolik hanya diizinkan menjadi seorang saksi baptis.

5) Hukum mengenai pembuktian dan pencatatan baptis yang telah diberikan memaparkan peraturannya bahwa seorang imam ketika menemui tidak tersedianya seorang wali baptis haruslah mengusahakan seorang saksi bagi seorang calon baptis yang akan dibaptisnya, yang kemudian jika terjadi suatu hal berkaitan dengan diri penerima maka saksi baptisnya akan memberikan pembuktian akan apa yang telah disaksikannya. Kemudian ialah bahwa imam tersebut harus mencatat dengan teliti siapa yang menjadi pelayan, orang tua, wali, saksi, serta tempat dan tanggal pembaptisan. Adapun anak yang lahir dari seorang ibu yang tidak bersuami dan anak angkat pencatatannya haruslah berdasarkan atas kesepakatan dari kedua belah pihak yang disertai du orang saksi. Jika pembaptisan tidak dilakukan oleh seorang imam maka pelayan baptis tersebut harus memberitahukannya kepada pastor proki untuk kemudian dicatat kedalam buku permandian.

2.6 Sakramen Baptis Menurut Katekismus Gereja Katolik
1213. Pembaptisan suci adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam roh [vitae spiritualis ianua] dan menuju Sakramen-sakramen yang lain. Oleh Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah; kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusannya Bdk. Konsili Firense: DS 1314; CIC, cann. 204 ?1; 849; CCEO, can. 675 ?1.: “Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dalam Sabda” (Catech. R. 2,2,5).

1214. Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani “baptizein”] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12. sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).
1215. Sakramen ini juga dinamakan “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3: 5).
1216. “Pembaptisan ini dinamakan penerangan, karena siapa yang menerima pelajaran [katekese] ini, diterangi oleh Roh” (Yustinus, apol. 1,61,12). Karena di dalam Pembaptisan ia telah menerima Sabda, “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh 1:9), maka orang yang dibaptis itu, setelah “menerima terang” (Ibr 10:32) menjadi putera “terang” (1 Tes 5:5), ya malah menjadi “terang” itu sendiri (Ef 5:8).
“Pembaptisan adalah anugerah Allah yang paling indah dan paling mulia…. Kita menamakannya anugerah, rahmat, pengurapan, penerangan, busana kebakaan, permandian kelahiran kembali, meterai, dan menurut apa saja yang sangat bernilai. Anugerah, karena ia diberikan kepada mereka. yang tidak membawa apa-apa; rahmat, karena ia malah diberikan kepada orang yang bersalah; pembaptisan, karena dosa dikuburkan di dalam air; pengurapan, karena ia adalah kudus dan rajawi (seperti orang yang diurapi); penerangan, karena ia adalah terang yang bersinar; busana, karena ia menutupi noda-noda kita; permandian, karena ia membersihkan; meterai, karena ia melindungi kita dan merupakan tanda kekuasaan Allah” (Gregorius dari Nasiansa, or. 40, 3-4).
1217. Waktu pemberkatan air pembaptisan dalam liturgi Malam Paska, Gereja memperingati secara meriah peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah keselamatan yang sudah menunjuk kepada misteri pembaptisan:
“Allah, kekuasaan-Mu yang tidak kelihatan mengerjakan keselamatan umat manusia oleh tanda yang kelihatan. Dengan aneka ragam cara Engkau telah memilih air, supaya ia menunjuk kepada rahasia Pembaptisan” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1218. Sejak awal dunia, air – makhluk yang sederhana, tetapi mengagumkan ini – adalah sumber kehidupan dan kesuburan. Menurut Kitab Suci ia seakan-akan dinaungi oleh Ron Kudus Bdk. Kej 1:2.:
“Sudah sejak awal ciptaan Roh melayang-layang di atas air dan memberi kekutan kepadanya, supaya menyelamatkan dan menguduskan” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1219. Gereja memandang bahtera Nuh sebagai pratanda keselamatan oleh Pembaptisan. Di dalam bahtera Nuh hanya “sedikit yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu” (1 Ptr 3:20):
“Malahan air bah adalah tanda Pembaptisan, karena air membawa keruntuhan bagi dosa dan satu awal baru untuk kehidupan kudus” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1220. Air dari mata air adalah- lambang kehidupan, air laut lambang kematian. Oleh karena itu, air juga dapat menunjuk kepada misteri salib. Atas dasar lambang ini lalu Pembaptisan merupakan satu keikutsertaan di dalam kematian Kristus.

1221. Terutama penyeberangan melalui Laut Merah – pembebasan Israel yang sebenarnya dari perhambaan Mesir – menyatakan pembebasan yang dilaksanakan oleh Pembaptisan:
“Ketika anak-anak Abraham, setelah dibebaskan dari perhambaan Firaun, melewati Laut Merah dengan kaki kering, mereka adalah pratanda bagi umat beriman, yang oleh air pembaptisan dibebaskan dari perhambaan yang jahat” (MR. Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1222. Akhirnya pratanda Pembaptisan juga adalah penyeberangan sungai Yordan, yang olehnya Umat Allah menerima hadiah tanah, yang dijanjikan kepada keturunan Abraham – satu pratanda kehidupan abadi. Janji akan warisan yang membahagiakan ini terpenuhi dalam Perjanjian Baru.
1223. Semua pratanda Perjanjian Lama mendapatkan penyempurnaannya di dalam Yesus Kristus. Ia memulai kehidupan-Nya di depan umum sesudah Pembaptisan-Nya di sungai Yordan Bdk. Mat 3:13 par.. Setelah kebangkitan-Nya Ia memberi perutusan kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20) Bdk. Mrk 16:15-16.
1224. Untuk “menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15) Tuhan kita telah menerima dengan sukarela pembaptisan oleh Yohanes, yang ditentukan untuk para pendosa. Dalam tindakan ini terlihatlah “pengosongan diri” Yesus Bdk. Flp 2:7.. Roh, yang melayang-layang di atas air penciptaan pertama, turun ke atas Kristus, untuk menunjukkan penciptaan baru, dan Bapa memberi kesaksian tentang Yesus sebagai “Putera-Nya yang kekasih” (Mat 3:17).

1225. Di dalam Paska-Nya Kristus telah membuka sumber-sumber Pembaptisan untuk semua manusia. Ia berbicara mengenai kesengsaraan-Nya, yang akan Ia alami di Yerusalem, sebagai satu “pembaptisan”, yang dengannya Ia harus “dibaptiskan” (Mrk 10:38) Bdk. Luk 12:50.. Darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang tertikam Bdk. Yoh 19:34., merupakan gambaran asli Pembaptisan dan Ekaristi, Sakramen kehidupan baru Bdk. 1 Yoh 5:6-8.. Dengan demikian kita dimungkinkan untuk “dilahirkan dalam air dan Roh”, supaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:5):
“Lihatlah, di mana engkau dibaptis, dari mana Pembaptisan datang, kalau bukan dari salib Kristus, dari kematian Kristus. Di dalamnya terletak seluruh misteri: Ia telah menderita untuk engkau. Di dalam Dia engkau telah ditebus, di dalam Dia engkau telah diselamatkan (Ambrosius, sacr. 2,6).
1226. Pada hari Pentekosta, Gereja sudah merayakan dan menerimakan Pembaptisan kudus. Santo Petrus berkata kepada rakyat, yang sangat terharu oleh khotbahnya: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Para Rasul dan rekan kerjanya menawarkan Pembaptisan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus: orang Yahudi, orang yang takut akan Allah, dan orang kafir Bdk. Kis 2:41; 8,12-13; 10:48; 16:15.. Pembaptisan selalu dihubung-hubungkan dengan iman: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”, demikian perkataan santo Paulus kepada kepala penjaranya di Filipi. Dan “seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis” (Kis 16:31.33).
1227. Menurut santo Paulus, seorang yang percaya diikutsertakan di dalam kematian Kristus oleh Pembaptisan; ia dimakamkan bersama Dia dan bangkit bersama Dia.
“Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4) Bdk. Kol 2:12.
1228. Jadi, Pembaptisan adalah permandian dalam air, di mana “benih yang tidak fana”, yakni Sabda Allah, menghasilkan daya yang menghidupkan Bdk. 1 Ptr 1:23; Ef 5:26.. Santo Agustinus mengatakan tentang Pembaptisan: “Perkataan ditambah pada unsur [materi], dan terjadilah Sakramen” (ev. Jo. 80,3).
1229. Orang menjadi Kristen – sudah sejak zaman para Rasul – dengan mengikuti jalan inisiasi dalam beberapa tahap. Jalan ini dapat ditempuh cepat atau perlahan. Tetapi ia harus selalu mempunyai beberapa unsur hakiki: pewartaan Sabda, penerimaan Injil yang menuntut pertobatan, pengakuan iman, Pembaptisan itu sendiri, pemberian Roh Kudus, dan penerimaan ke dalam persekutuan Ekaristi.
1230. Inisiasi ini, dalam peredaran waktu dan sesuai dengan pelbagai situasi, dilaksanakan atas cara berbeda. Dalam abad-abad pertama Gereja, inisiasi Kristen ini mengalami pengembangan yang luas: waktu yang lama untuk katekumenat, dan satu deretan ritus, yang menandakan jalan persiapan secara liturgis, akhirnya mengantar ke perayaan Sakramen-sakramen inisiasi Kristen.
1231. Ditempat dimana Pembaptisan anak-anak sudah menjadi bentuk yang sangat biasa untuk pemberian Pembaptisan, perayaan ini sangat dipersingkat menjadi satu upacara, yang mencakup juga tahap-tahap awal menuju inisiasi Kristen dalam bentuk sangat singkat. Pembaptisan anak-anak menuntut dengan sendirinya katekumenat sesudah Pembaptisan. Pada kesempatan itu tidak hanya diperhatikan pengajaran iman yang perlu sesudah Pembaptisan, tetapi juga pengembangan rahmat Pembaptisan dalam perkembangan pribadi orang yang dibaptis. Di sinilah pelajaran katekese mendapat tempatnya.
1232. Konsili Vatikan II mengadakan kembali “katekumenat bertahap untuk orang dewasa” dalam Gereja Latin (SC 64). Ritusnya dapat ditemukan dalam Ordo Initiationis Christianae Adultorum (1972). Di samping itu Konsili memperbolehkan, supaya “di daerah-daerah misi… dimasukkan juga unsur-unsur inisiasi yang terdapat sebagai kebiasaan pada masing-masing bangsa, sejauh itu dapat disesuaikan dengan upacara kristiani” (SC 65) Bdk. SC 37-40. 1204
1233. Dalam segala ritus Latin dan Gereja Timur dewasa ini, inisiasi Kristen untuk orang dewasa mulai dengan penerimaan ke dalam katekumenat, sampai memuncak dalam perayaan ketiga Sakramen, – Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi – dalam satu upacara Bdk. AG 13; CIC, cann. 851; 865; 866.. Dalam ritus Gereja Timur inisiasi Kristen untuk anak-anak mulai dengan Pembaptisan, yang langsung disusul oleh Penguatan dan penerimaan Ekaristi. Sedangkan dalam ritus Roma inisiasi berjalan terus selama tahun-tahun katekumenat, supaya kemudian diselesaikan oleh penerimaan Penguatan dan Ekaristi, puncak inisiasi Kristen Bdk. CIC, cann. 851,20; 868.
1234. Arti dan rahmat Sakramen Pembaptisan tampak dengan jelas dalam ritus perayaan. Kalau umat beriman dengan penuh perhatian mengikuti perbuatan dan perkataan dari perayaan ini mereka diantar ke dalam kekayaan-kekayaan, yang ditandakan dan dikerjakan Sakramen ini dalam tiap penerima baptis yang baru.
1235. Tanda Salib pada awal perayaan menyatakan bahwa Kristus mengukir tanda-Nya pada orang yang akan bergabung dengan-Nya. Ia menandakan rahmat penebusan, yang Kristus telah beroleh bagi kita dengan salib-Nya.
1236. Pewartaan Sabda Allah menerangi penerima baptis dan jemaat oleh kebenaran yang diwahyukan dan memancing jawaban iman. Iman tidak dapat dipisahkan dari Pembaptisan. Pembaptisan itu atas cara yang khusus adalah “Sakramen iman”, karena melalui dia orang masuk secara sakramental ke dalam kehidupan iman.
1237. Karena Pembaptisan adalah tanda pembebasan dari dosa dan penggodanya, ialah setan, maka diucapkan satu atau beberapa eksorsisme ke atas orang yang dibaptis. Selebran mengurapi orang yang dibaptis atau meletakkan tangan di atasnya; sesudah itu orang yang dibaptis dengan tegas menyangkal setan. Dengan persiapan ini, ia dapat mengakui iman Gereja, yang dipercayakan kepadanya melalui Pembaptisan Bdk. Rm 6:17.
1238. Air pembaptisan diberkati dengan doa epiklese pada perayaan pembaptisan itu sendiri atau pada malam Paska. Gereja berdoa kepada Allah supaya kekuatan Roh Kudus turun ke atas air ini melalui Putera-Nya, sehingga semua orang yang menerima Pembaptisan di dalamnya, “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:5).
1239. Sesudah itu menyusul ritus inti dari Sakramen ini: pembaptisan yang sebenarnya. Ia menandakan dan benar-benar menyebabkan kematian terhadap dosa serta menghantar masuk ke dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, karena orang yang dibaptis itu diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus. Atas cara yang paling nyata pembaptisan dilaksanakan melalui pencelupan ke dalam air pembaptisan sebanyak tiga kali. Tetapi sudah sejak zaman Kristen purba ia juga dapat diterimakan, dengan menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepala orang yang dibaptis.
1240. Dalam Gereja Latin pemberi Pembaptisan berkata : “N. aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, sambil mencurahkan air sebanyak tiga kali. Di dalam ritus Gereja Timur katekumen menghadap ke timur dan imam berkata: “Pelayan Allah N. dibaptis atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Dan setiap kali, ia mengucapkan nama seorang dari Tritunggal Mahakudus, ia mencelupkan orang yang dibaptis itu ke dalam air dan mengeluarkannya lagi.

1241. Pengurapan dengan minyak krisma yang kudus – satu minyak wangi yang diberkati Uskup – berarti bahwa Roh Kudus diserahkan kepada yang baru dibaptis. Ia menjadi seorang Kristen, artinya seorang yang “diurapi” oleh Roh Kudus, digabungkan sebagai anggota dalam Kristus, yang telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja Bdk. OBP 62.
1242. Dalam liturgi Gereja-gereja Timur pengurapan sesudah pembaptisan adalah Sakramen Krisma (Penguatan). Dalam Liturgi Roma ia menunjuk kepada pengurapan kedua dengan krisma kudus, yang akan diberikan Uskup: Sakramen Penguatan, yang dalam arti tertentu “menguatkan” dan menyelesaikan urapan Pembaptisan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Validitas dan Dampak Dari Sakramen Baptis
Sebagaimana efek dari sakramen-sakramen timbul secara ex opere operato (oleh kenyataan bahwa sakramen-sakramen tersebut dilayankan). Karena Kristus sendiri yang bekerja melalui sakramen-sakramen, maka efektivitas sakramen-sakramen tidak tergantung pada kelayakan si pelayan, demikianpun halnya sakramen baptis. Kisah Namun demikian, sebuah pelayanan sakramen yang dapat dipersepsi akan invalid jika:
1) orang yang bertindak selaku pelayan tidak memiliki kuasa yang diperlukan untuk itu, misalnya jika seorang diakon merayakan Misa.
2) “materi” atau “formula”nya kurang sesuai dari pada yang seharusnya. Materi adalah benda material yang dapat dipersepsi, seperti air (bukannya anggur) dalam pembaptisan atau roti dari tepung gandum dan anggur dari buah anggur (bukannya kentang dan bir) untuk Ekaristi, atau tindakan yang nampak. Formula adalah pernyataan verbal yang menyertai pemberian materi, seperti “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”.
3) Si pelayan positif mengeluarkan beberapa aspek esensial (pokok) dari sakramen yang dilayankannya, maka sakramen tersebut invalid.
4) Syarat terakhir berada di balik penilaian Tahta Suci pada tahun 1896 yang menyangkal validitas imamat Anglikan.
Sebuah sakramen dapat dilayankan secara valid, namun tidak sah, jika suatu syarat yang diharuskan oleh hukum tidak dipenuhi. Kasus-kasus yang ada misalnya pelayanan sakramen oleh seorang imam yang tengah dikenai hukuman ekskomunikasi atau suspensi, dan pentahbisan uskup tanpa mandat dari Sri Paus.
Hanya Tahta Suci yang secara otentik dapat mengeluarkan pernyataan bilamana hukum ilahi melarang atau membatalkan suatu pernikahan, dan hanya Tahta Suci yang berwenang untuk menetapkan bagi orang-orang yang sudah dibaptis halangan-halangan pernikahan (kanon 1075). Adapun masing-masing Gereja Katolik Ritus Timur, setelah memenuhi syarat-syarat tertentu termasuk berkonsultasi dengan (namun tidak harus memperoleh persetujuan dari) Tahta Suci, dapat menetapkan halangan-halangan (Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur, kanon 792).
Jika suatu halangan timbulnya hanya karena persoalan hukum Gerejawi belaka, dan bukannya menyangkut hukum ilahi, maka Gereja dapat memberikan dispensasi dari halangan tersebut.
Pembaptisan adalah salah satu dari tiga sakramen yang efeknya bersifat permanen. Ajaran ini telah diekspresikan dengan citra-citra dari karakter atau tanda, dan di Timur dengan sebuah meterai (KGK 698). Akan tetapi, jika ada keraguan mengenai validitas dari pelayanan satu atau lebih sakramen-sakramen tersebut, maka dapat digunakan suatu formula kondisional pemberian sakramen misalnya: “Jika engkau belum dibaptis, aku membaptis engkau …”
Sakramen baptis dalam pelayanan biasanya dilayankan oleh seorang uskup, imam atau diakon, yang biasanya dikhususkan bagi imam paroki setempat. Namun dalam keadaan darurat, sakramen ini memiliki pelayan luar biasa yang boleh dilakukan oleh umat awam yang didelegasikan oleh uskup, atau siapapun.
Materia adalah berupa;
1. Air melambangkan pembersihkan dari dosa dan penyasatuan sebagai anggota gereja.
2. Lilin yang melambangkan terang Kristus, agar orang yang dibaptis dapat menjadi terang bagi umat orang – orang disekitarnya.
3. Kain putih melambangkan kehidupan baru di dalam Kristus.
4. Serta Minyak Krisma sebagai lambang pengurapan dan penguatan iman.
Baptisan memiliki enam efek utama, yang semuanya adalah rahmat adikodrati:
1) Penghapusan kesalahan baik dosa asal (dosa disampaikan kepada seluruh umat manusia oleh Kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden) dan dosa pribadi (dosa yang didalamnya kita telah berkomitmen).
2) Pengampunan hukuman atas semua hutang karena dosa- dosa kita, baik temporal (di dunia ini dan di Api Penyucian) dan abadi (hukuman bahwa kita akan menderita di neraka).
3) Bentuk rahmat pengudusan (kehidupan Allah dalam diri kita) dengan tujuh karunia Roh Kudus , dan tiga kebajikan teologis .
4) Menjadi bagian dari Kristus.
5) Menjadi bagian dari Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus di bumi.
6) Mengaktifkan partisipasi dalam sakramen, imamat semua orang percaya, dan pertumbuhan dalam kasih karunia.
3.2 Sejarah Perkembangan Ritus Pembaptisan
Seperti sebuah karya seni yang telah diperbaiki, difernis sampai beberapa kali dan kadang kala sedikit disalahgunakan, ritus Sakrament Pembaptisan dalam Gereja Kristen juga telah mengalami perubahan selama berabad-abad dengan alasan dan latar belakang tertentu. Namun demikian, perubahan ritus itu tetap tidak mengubah hakekat Pembaptisan sebagai Sakrament tanda kelahiran baru seseorang ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. Tapi dewasa ini Gereja dihimbau untuk kembali ke ritus pembaptisan yang dipraktekkan oleh Gereja Kristen pada abad-abad pertama yaitu pembaptisan dengan dengan “mencelupkan” seorang catechumen ke dalam kolam air. Karena ritus pembaptisan seperti ini dirasa lebih efektif mengungkapkan peristiwa “kelahiran baru” seseorang ke dalam Karajaan Allah yang dimasukinya melalui Sakramen Permandian. Tapi demi alasan praktis, Gereja tetap diijinkan untuk memakai ritus pembaptisan sederhana dengan “menuangkan sedikit air pada kepala”. Maka untuk lebih mamahami hal ini, mari kita kembali menengok sejarah Gereja seputar ritus sakramen permandian.

Dalam bab pertama Injil Markus, seperti telah diramalkan Nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis tampil di padang gurung sambil memaklumkan sebuah “pembaptisan pertobatan” demi pengampunan atas dosa. Orang banyak berkerumun mendengar kothbah Yohanes Pembaptis yang berkobar-kobar. Mereka berbondong-bondong ke Sungai Yordan dan memberi diri mereka untuk disucikan (Kata pembaptisan sendiri berasal dari kata Yunani “bapizo” yang berarti “membasuh atau mencelupkan atau menenggelamkan”).

Markus menceriterakan bahwa Yesus juga kemdian datang kepada Yohanes dan dibaptis. Ketika Ia keluar dari air, Ia melihat surga terbuka dan Roh Kudus dalam rupa seekor burung merpati turun ke atasNya. Dan Ia mendengar suara dari atas yang mengatakan:”Engkaulah PuteraKu yang terkasih; kepadamu aku berkenan.”

Penginjil Markus kemudian melanjutkan ceriteranya dengan mengatakan bahwa segera setelah peristiwa permandian di Sungai Yordan, Yesus dibawa Roh Allah ke padang gurun and tinggal di sana untuk berdoa dan berpuasa 40 hari lamanya, sambil digodai iblis. Setelah berdoa dan berpuasa, Yesus mulai menjalankan perutusanNya di depan umum.

Lima belas bab kemudian, pada bagian akhir dari Injilnya, Penginjil Markus kembali mencatat kata-kata terakhir Yesus kepada kesebelas rasul (dikurangi Yudas Iskariot yang telah mengkianati Yesus): “Pergilah ke seluruh bumi dan wartakanlah Injil…Barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan.”

Kalau kita meneliti Kitab Suci Perjanjian Baru (PB) maka kita akan menemukan kenyataan bahwa Kitab Suci PB tidak menceriterakan “bagaimana para Rasul membaptis”. Tapi ahli sejarah Gereja berpendapat bahwa kemungkinan besar seorang calon permandian berdiri di air sungai atau di sebuah kolam umum, dan kemudian air dituangkan ke atas kepalanya, sambil ditanyakan kepadanya: Apakah saudara (saudari) percaya kepada Allah Bapa? Apakah saudara percaya akan Allah Putera, yaitu Yesus Kristus? Apakah saudara percaya akan Allah Roh Kudus? Setiap kali calon menjawab “ya” atas masing-masing pertanyaan itu, ia ditenggelamkan (dicelupkan ) ke dalam air sebanyak tiga kali juga.

Tentang hal ini, Yustinus Martir (100-165 AD) menulis demikian:
“Calon permandian berdoa dan berpuasa.
Komunitas beriman berdoa dan berpuasa dengan dia.
Calon permandian masuk ke dalam air.
Petugas Gereja mengajukan kepadanya tiga pertanyaan Trinitaris.
Calon sekarang diperkenalkan kepada komunitas umat beriman.
Doa umat kemudian disampaikan oleh semua untuk yang baru saja dibaptis.
Ciuman tanda kasih dan damai diberikan kepadanya oleh semua umat beriman.
Lalu Ekaristi kudus dirayakan.”

Setengah abad kemudian, pujangga Gereja Tertulianus menjelaskan lebih detail lagi. Ia mulai menyebut adanya “pengurapan” minyak suci, “tanda salib” dan “penumpangan tangan” atas calon permandian.

Untuk orang-orang yang hidup pada tiga abad yang pertama sesudah Yesus, langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum dibaptis tidak terlalu gampang. sering mereka diarahkan kepada kemartiran.

Sebelum Kaisar Romawi Konstantinus mengumumkan pada tahun 313 bahwa Gereja Kristen bukan lagi sebuah agama ilegal, maka setiap orang, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang menggabungkan diri menjadi orang Kristen dipandang sebagai sebagai penjahat dan dihukum dengan sangat keji. Ingat sejarah Gereja. Selama tiga abad pertama orang-orang Kristen dianiaya dan dibunuh oleh pemerintahan kafir Romawi. Orang Romawi pada masa itu mempunyai agama sendiri dengan pusat kultus penyembahan kepada dewa-dewi. Orang Kristen yang tidak menyembah dewa-dewi sembahan kaisar dianggap kafir, kriminal, melawan kaisar dan mereka dihukum dengan sangat keji seperti digantung hidup-hidup dikayu salib, dibakar hidup-hidup, digoreng dan direbus hidup-hidup, dilempar hidup-hidup ke dalam kandang singa yang sengaja tidak diberi makan berhari –hari supaya mereka lapar betul dan makan orang Kristen.

Kemungkian besar Gereja waktu itu menyusun sebuah proses perkenalan kepada orang yang baru bergabung ke dalam komunitas umat beriman. Gereja (umat beriman) butuh waktu untuk mengenal dan percaya kesungguhan hati setiap calon permandian sebelum mereka dipermandikan (sama seperti si calon permadian juga butuh waktu untum memperlajari lebih tentang Gereja yang merupakan agama “di bawah tanah” pada masa itu).

Ada suatu alasan mengapa calon permandian membutuhkan sponsor (wali permandian, bapa-ibu permandian), yaitu seorang anggota komunitas beriman yang menjamin si calon permandian. Sponsorlah yang bertugas pergi menghadap uskup dan membuktikan kepadanya bahwa calon permandian merupakan seorang yang sungguh baik. Lalu, selama bertahun-tahun sponsor bekerja, berdoa dan berdoa bersama anak/orang didikannya sampai pada hari pembaptisan tiba.

Pada waktu itu, masa katekumen (dari bahasa Yunani yang berarti “instruction” atau pelajaran) terdiri atas dua bagian.

Bagian pertama adalah sebuah “masa persiapan rohani” yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Bagian kedua adalah masa persiapan akhir menjelang permbaptisan. Bagian ini dimulai pada masa Puasa dan kegiatannya terdiri atas doa-doa yang rutin, puasa, dan penelitian kelayakan sang calon permandian oleh uskup.

Kemudian si calon dibawa ke depan uskup dan para imam, sementara sang sponsor ditanyai. jika sponsor bisa menjamin bahwa sang calon tidak mempunyai tabiat buruk yang serius (seperti mabuk, tiak menghormati orangtua dan lain-lain) uskup kemudian mencatat nama calon ke dalam buku baptis.

Calon tidak diijinkan untuk mengambil bagian secara penuh dalam perayaan misa kudus. Setelah Liturgi Sabda (sesudah homili) seorang calon permandian diminta untuk meninggalkan Gereja atau tempat berlangsungnya perayaan misa kudus. Para calon hanya diijinkan untuk mendengar Credo dan doa Bapa Kami dan menghafalnya secara diam-diam.

Puncak dari upacara itu dimulai pada Hari Kamis Suci dengan sebuah wadah pemandian sebagai sarana penyucian rohani. Calon kemudian berdoa dan berpuasa keras pada Hari Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Pada malam hari Sabtu Suci, calon permandian laki-laki dan wanita ditempatkan di ruangan yang terpisah dan gelap. di ruangan yang gelap ini, setiap calon berdiri sambil menghadapkan wajah ke arah barat (barat dianggap simbol kegelapan dan setan, karena matahari terbit di timur). Seorang diakon akan meminta para calon untuk merentangkan lengan mereka dan menghembuskan nafas untuk mengeluarkan semua roh yang tidak baik dari dalam tubuh, sambil berkata: “Saya melepaskan diri dari kau, setan, dari kungkunganmu, dari segala pernyembahan terhadapmu dan semua malaikatmu yang jahat.” Lalu sesudah itu, sambil memutarkan badan ke arah timur, para calon berseru: “Sekrang saya menyerahkan diriku kepadaMu, O Yesus Kristus.” Berdasarkan ini, bertobat kemudian harafiah berarti “memutar haluan” (turning around).

Sampai di sini, para calon kemudian menurunkan tangan dan lengan mereka, dan uskup lalu mengurapi kepala mereka masing-masing dengan minyak. Ini adalah lambang meterai Kristus. Sekarang secara rohani mereka ditandai, sama seperti seorang gembala menandai (mencap) kawanan ternaknya.

Sesudah itu setiap kelompok akan pergi ke ruang lain dan menanggalkan pakaian mereka. Peristiwa “penanggalan pakaian” ini melambakan “penanggalan manusia lama dari seseorang” (taking off the old self) dan kembali ke keadaan murni taman Eden sebelum munusia pertama jatuh ke dalam dosa dan lebih dari itu ada kepercayaan orang pada masa itu bahwa roh-roh jahat sering melekat pada pakaian seseorang seperti kutu busuk.

Lalu dalam keadaan “telanjang” dan terpisan menurut jenis kelamin, para calon dihantar ke tempat permandian. Setiap calon masuk ke dalam air yang dalamnya sampai setinggi dada dan uskup akan berlutut di samping kolam air. uskup lalu dengan halus menekan kepada calon ke dalam air sampai tiga kali, sambil mempermandikan (menuangkan air) mereka satu persatu di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Setelah orang Kristen yang baru dipermandikan itu keluar dari air dan setelah tubuh mereka dilap, mereka diberi pakaian baru berbentuk kain linen putih yang mereka pakai sampai minggu berikut. Setiap anggota baru dari komunitas umat beriman dibagikan sebuah lilin bernyala dan ciuman tanda kasih dan damai.

Setelah semua calon dibaptis, mereka merayakan Ekaristi dengan seluruh komunitas umat beriman. Untuk pertama kali, orang yang baru dibaptis mengambil bagian secara penuh dalam seluruh misa dan menerima Komuni Kudus.

Kemudian hari, aspek kerahasiaan dan kesedian calon untuk mengorbankan hidupnya untuk mati demi Kristus menjadi pudar setelah Gereja Kristen diterima sebagai agama resmi Kekaisaren Roma pada awal abad IV. Lebih dari itu, sejak Gereja Kristen diakui sebagai agama resmi dari negara, menggabungan diri ke dalam Gereja merupakan suatu kebijakan politis.

Penting untuk diingat bahwa doktrin tentang Sakramen Pembaptisan kemudian berkembangan seturut perkembangan zaman. Tidak terlalu mudah, misalnya, untuk menentukan apa yang harus dibuat dengan orang-orang yang melakukan dosa berat setelah pembaptisan atau dengan orang-orang yang menyangkap iman mereka, lalu kemudian bertobat lagi dan minta diterima lagi ke dalam komunitas umat beriman.

Salah satu dari masalah-masalah itu adalah masalah peranan pembaptisan bayi. Para ahli Kitab Suci mengandaikan bahwa ketika “seluruh rumahtangga” dipermandikan, permandian itu termasuk anak-anak, bahkan yang paling kecil sekalipun (bayi). Tapi sekali lagi, oleh karena perkembangan refleksi iman/teologi, seperti penjelasan St. Agustinus tentang Dosa Asal pada abad V, yang akhirnya membuat permandian bayi menjadi amat populer dan dominan. Pada point ini, Pembaptisan tidak lagi dilihat terutama sebagai awal dari kehidupan moral, tapi lebih ditekankan sebagai jaminan untuk diterima di dalam kerajaan surga setelah kematian.

Pada awal Abad Pertengahan, ketika seluruh suku di Eropa utara bertobat dan seluruh suku (sering jumlahnya sampai ribuan) harus dibaptis secara serempak jikalau kepala suku atau raja mau masuk Kristen. Dalam keadaan seperti itu, sebuah ritus (tata upacara) yang lebih sederhana, praktis dan cepat, amat dibutuhkan. Sampai pada akhir abad VIII, upacara permandian yang sebelumnya panjang dan berlangsung selama berminggu-minggu telah dibuat sangat singkat. Anak-anak menerima upacara pengusiran roh jahat selama tiga kali pada minggu-minggu sebelum Paska dan Sabtu Suci. Setelah air pembaptisan dan bejana pembaptisan (bukan lagi kolam) diberkati, anak-anak kecil dicelupkan kepadanya ke dalam bejana air itu sampai tiga kali. Sesudah itu para imam mengurapi kepala mereka dengan minyak, uskup menumpangkan tangan ke atas mereka dan mengurapi mereka sekali lagi dengan minyak suci, dan mereka diberi Komuni Kudus dalam perayaan misa Kudus.

Ritus kemudian terus dibuat semakin singkat ketika kebiasaan bayi menerima komuni suci pada waktu permandian dihapus oleh Konsili Trente pada tahun 1562.

Dan karena Pembaptisan sekarang dilihat sebagai kunci untuk diterima dalam kerajaan surga, Gereja kemudian menawarkan sebuah ritus darurat yang pendek untuk bayi-bayi yang berada dalam bahaya kematian. Sebelum awal abad XI sejumlah uskup mengingatkan bahwa bayi kemungkian besar selalu berada dalam bahaya kematian yang tiba-tiba dan karena itu mereka mendorong para orangtua untuk tidak menunggu sampai perayaaan besar pada Hari Sabtu suci untuk mempermandikan bayi-bayi mereka.
Sebelum abad XIV, perayaan pembaptisan pada hari Sabtu Paska benar-benar sudah hilang, kecuali upacara pemberkatan bejana dan air, dan ritus permandian yang lama dipersingkat lagi dan hanya dibuat sebagai upacara kecil waktu imam masuk Gedung Gereja.
Sejak masa ini pembaptisan hanya disaksikan oleh anggota keluarga inti dan sejumlah kecil kaum kerabat, daripada disaksikan oleh seluruh komunitas umat beriman (seperti sebelumnya). Ketimbang mencelupkan bayi-bayi ke dalam kolam air, para imam hanya menuangkan sedikit air ke atas kepala anak-anak.

Seiring dengan perjalanan sejarah, dan ritus pendek permandian yang semula disusun khusus hanya untuk bayi-bayi, yang berada dalam bahaya kematian, menjadi begitu universal, ritus permandian Gereja perdana (abad I sampai III) semakin lama semakin dilupakan. Tapi kemudian pada akhir tahun 1950-an para ahli sejarah Gereja mulai meneliti dan studi kembali mengenai ritus-ritus Gereja abad pertama. Hasilnya adalah bahwa pada tahun 1969, sebuah ritus Pembaptisan untuk anak-anak (bayi), yang telah direvisi, diterbitkan. Sama seperti ritus Gereja perdana, ritus yang disempurnakan ini menekankan aspek kommunal dari perayaan sakramen-sakramen. Upacara pembaptisan dianjurkan untuk dibuat dalam rangkaian perayaan misa (seperti sakramen perkawinan). Ritusnya diperpanjang juga. Sekarang orangtua diharapkan menghadiri pembinaan (pendalaman) iman setiap kali anak mereka mau dipermandikan. Dan penekanan teologis bergeser dari Pembaptisan sebagai “jaminan masuk surga” ke upacara permulaan masuk ke dalam kehidupan moral. Pada tahun 1980, sebuah dokument dari Vatikan menegaskan bahwa jika orangtua tidak menjamin dan tidak mau memastikan bahwa anak (bayi) mereka akan dibesarkan dalam iman Katolik, maka Pambaptisan sebaiknya ditunda sampai tidak ada batas waktu.

Setelah beberapa dekade berlalu, kita perlahan-lahan kembali kepada simbol-simbol, drama dan spiritutalitas komunal umat beriman yang merupakan ciri khas pembaptisan pada abad-abad pertama sejarah Gereja yang dirasa lebih efektif mengungkapkan makna permandian sebagai tanda kelahiran baru ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus, sambil tetap mengakui keabsahan pembaptisan dengan ritus yang sederhana dan singkat. Karena biar bagaimanapun bentuk, panjang atau pendeknya ritus Sakramen Permandian, hakekatnya tetapi sama dan sah sebagai tanda kelahiran baru.

3.3 Materai (character) Baptisan
Umumnya para pujangga gereja dan para teolog di zaman pertengahan berpendapat bahwa pembaptisan diluar gereja katolik roma memang sah, namun tidak memberikan Roh Kudus, pembenaran, dan pengudusan. Sementara itu, dilain pihak pembaptisan tidak diterimakan diulang.
Bagaimana dengan orang yang dibaptis secara sah diluar gereja katolik yang kemudian bergabung dengan gereja itu sendiri? Apakah pembaptisan yang diterimanya akan menghasilkan buah sebagaimana buah yang diperoleh pada baptisan yang diterimakan oleh gereja katolik?
St. Agustinus menjelaskan hal ini dengan gambaran materai (Agustinus, contra cresconium donatistam 2,13.28-29), yang tentunya mau menyatakan bahwa pembaptisan tidak dapat diulang. Hal inipulalah yang kemudian coba dijelaskan pula oleh Petrus Cantor, petrus lombardus, dan paus Inosentius III(DS 781)
Materai tersebut dinilai sebagai sesuatu yang terselip diatara sakramen (upacara/ sacramentum tamtum) dan buah-buah hasil sakramen (rahmat/ restantum). Dengan demikian, maka materai itu dapat dapat dihasilkan oleh sakramen baptis, sedangkan rahmat tidak, oleh karena adanya halangan/ obex yang terdapat pada para penganut bidaah dan anggota gereja myang terpisah. Ketika penghalang tersebut diambil, maka rahmat diberikan berkat materai/ upacara yang telah ia terima. Maka materai itu disebut pula res sakramen. Tetapi oleh karena dilain pihak ketika materai itu seolah- olah berperan sebagai sakramen yang memberikan rahmat maka materai itu disebut pula sebagai res et sacramentum.
Thomas aquinas menyajikan suatu teologi agak lengkap mengenaimaterai yang inilai sebagai suatu kuasa (potestas) tetap yang menyanggupkan orang untuk berbakti (kultus) secara kristen dan beroleh pengudusan(consekratio) yang menjadikan seseorang milik Kristus.
Konsili florence 1439 umumnya mengambil alih sakramentologi Thimas Aquinas dan memaparkan materai (tiga sakramen) merupakan semacam tanda rohani yang tak terhapus dan diterakan pada jiwa dan membedakannya dengan orang lain(DS 1313), itulah yang menyebabkan sakramen tidak dapat diulang.
Perjanjian baru (2kor 1:22, Ef 1:13,4:30) menjelaskan bahwa sesungguhnya, materai yang dalam bahasa yunani dikenal sebagai spharagis adalah Roh Kudus. Roh Allah sendiri yang menjadi materai “cap” khusus bagi kehidupan jemaat kristen dalam “Roh” yang menjamin masa depan. Marerai adalah baptisan itu sendiri yang menjadikan seseorang milik Kristus yang tetap. Penulis kolose 2:11 sedikit menjurus kearah materai sebagaimana yang dipakai dalam teologi skolastik dengan membandingkan antara baptisan kristen dengan sunat yahudi sebagai tanda perjanjian Allah “dalam daging”(bdk Rm 4:11). Sementara Konsili Vatikan II (LG Nota Praevia 2) menyatakan materai lebih pada hubungannya dengan penyertaan (participatio) ontologis dalam tugas suci (munera sacra) Kristus. Maka materai baptis dapat dikatakan “adanya dibaptis, adanya secara kelihatan-sakramental, dimasukkannya seseorang kedalam jemaat Kristen yang tidak terhapuskan (indelebile).

3.4 Fenomena Baptisan Masa Kini
1) Baptisan Bayi
Fenomena membuktikan bahwa beberapa Gereja Protestan tidak dapat menerima praktek babtisan bayi. Dengan alasan bahwa Babtisan memerlukan pertobatan dan iman yang tidak bisa dilakukan oleh bayi dan anakkecil, serta tidak adanya dasar alkitab bagi babtisan bayi. Akan tetapi, hal yang juga perlu untuk kita ketahui ialah bahwa babtisan bayi lebih merupakan Tradisi Apostolik, sebab dasar Iman Katolik tidak hanya Alkitab tetapi juga Tradisi Apostolik dan Magisterium. Jika kita ingin mencari babtisan bayi dalam kitab suci hal itu memang sulit didapat karena dalam Kitab Suci tidak diungkapkan secara eksplisit mengenai babtisan bayi. Tetapi didalamnya, kita juga tidak menemukan larangan secara eksplisit agar anak-anak(bayi) dibabtis. Gereja mengimani bahwa babtisan melahirbarukan dan menghapus dosa asal, oleh karena itu maka Gereja tidak mengadakan larangan bayi dibabtis.
Lalu bagaimana dengan iman anak?? jawaban yang mudah adalah bahwa perkembangan iman anak adalah tanggung jawab orang tua. Sebab itu pulalah yang menjadi janji mereka ketika menikah, yakni untuk membesarkan anak-anak dalam iman katolik.
Kisah Para Rasul 2:38-39 mencatat perkataan Petrus ketika ia menjawapi pertanyaan orang-orang yang bertanya kepadanya mengenai pertobatan “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ ” disini jelas sekali ungkapan Petrus bahwa kita perlu bertobat dan dibabtis yang akhirnya kita mendapat buah dari babtisan itu yaitu menerima Karunia Roh Kudus (ayat 38) dan janji itu berlaku pula untuk anak-anak (bayi juga termasuk anak-anak) (ayat 39) tentunya juga dengan melakukan hal yang sama yaitu dibabtis.
Demikianpun Perjanjian Lama mencatat kan sebuah peraturan dasar yahudi dimana bayi harus disunat meskipun mereka tidak tahu apa-apa soal iman, lihat pada Kej 17:12, Im 2:21, Luk 2:21. Kolose 2:11-12 hendaknya menjelaskan akan hal ini, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” disin jelas bahwa Paulus mempararelkan antara Sunat dengan Babtisan. Kis16:15,33 mencatat pula sebuah fenomena pembaptisan dimana sebuah keluarga dibaptis dengan seisi rumahnya “ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya” (ayat 15) dan “Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (ayat 33). Kedua ayat ini tidak menututup kemungkinan akan adanya bayi dan ikut dibabtis karena sebelum atau sesudah ayat itu tidak ada kata “kecuali bayi atau anak-anak”.
Sementara itu, Pada abad ke II sudah ditemukan Babtisan bayi seperti St. Polikarpus, yang dibunuh sebagai martir pada tahun 155 M. Pada saat penguasa Romawi memaksa Polikarpus untuk menyangkal Yesus Kristus dan untuk menyembah kaisar Roma, ia berseru demikian, “Delapan puluh enam tahun saya menjadi hamba-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat yang tidak baik kepadaku, bagaimana mungkin saya dapat menghojat Rajaku yang telah menebusku?” Kesaksian ini berarti bahwa Polikarpus dibaptis sejak ia masih bayi atau kanak-kanak, yakni sekitar tahun 70-an. Hal ini tidak benar hanya jika Polikarpus sudah mencapai usia yang amat tinggi pada tahun 155 M itu, sehingga 86 tahun sebelumnya ia sudah dewasa dan baru dibaptis waktu itu.
Sementara KGK menyatakan:
Karena anak-anak dilahirkan dengan kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam Pembaptisan Bdk. DS 1514., supaya dibebaskan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah Bdk. Kol 1:12-14., ke mana semua manusia dipanggil. Dalam Pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita. Gereja dan orang-tua akan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran Bdk. CIC, can. 867; CCEO, cann. 681; 686,1.. 403, 1996 (KGK 1250)
Orang-tua Kristen harus mengerti bahwa kebiasaan ini sesuai dengan tugasnya, memajukan kehidupan yang Tuhan percayakan kepada mereka Bdk. LG 11; 41; GS 48; CIC, can 868.. (KGK 1251)

Adalah satu tradisi Gereja yang sangat tua membaptis anak-anak kecil. Dari abad kedua kita sudah memiliki kesaksian jelas mengenai kebiasaan ini. Barangkali sudah pada awal kegiatan khotbah para Rasul, bila seluruh “rumah” menerima Pembaptisan Bdk. Kis 16:15.33; 18:8; 1 Kor 1:16. anak-anak juga ikut dibaptis Bdk. CDF. Instr. “Pastoralis actio”.. (KGK 1252)
Berikut kesaksian para Bapa Gereja tentang Babtisan Bayi:
1) “Karena Ia [Yesus] datang untuk menyelamatkan semua melalui dirinya sendiri bagi semua, maka saya mengatakan, melalui Dia dilahirkan kembali dari Allah, bayi, dan anak-anak, pemuda, dan orang tua” (St Ireneus, Against Heresies,, 2 22, 4)

2) “Gereja yang diterima dari tradisi para Rasul memberikan Baptisan bahkan untuk bayi. Bagi para Rasul, kepada siapa itu diterimakan adalah rahasia misteri ilahi, tetapi kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki noda dosa bawaan, yang harus dibasuh melalui air dan Roh “(Origenes, Komentar Roma 5, 9).

3) “Baptisan bayi yang dimiliki Gereja, berpegang dan diterima dari iman nenek moyang kita; dan gereja akan dengan tekun menjaga bahkan sampai akhir” (Agustinus, Khotbah 11, De Verb Apost.)

4) “Siapakah yang begitu saleh untuk ingin mengecualikan bayi dari kerajaan surga dengan melarang mereka untuk dibaptis dan dilahirkan kembali dalam Kristus?” (Agustinus, 2 20).

5) Maka datanglah mereka membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus supaya Ia menyentuh mereka, dan ketika para murid melihat itu, murud – muridnya memarahi mereka. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata kepadanya, “Biarkan anak-anak datang kepada-Ku, dan jangan menghalangi mereka, karena untuk seperti milik Kerajaan Allah” (Luk 18:15-16). Dalam Gereja awal bagian ini dipahami sebagai perintah untuk membawa bayi kepada Kristus untuk dibaptis. Pertama kalinya bagian ini muncul dalam literatur Kristen (c. 200), yang digunakan dalam referensi untuk Baptisan Bayi (Tertullian, De Baptismo 18:5).

Berdosakah keluarga Katolik yang membiarkan anak-anaknya tidak dipermandikan supaya kelak kalau sudah dewasa dapat memilih sendiri agamanya?
Pertama, dalam pandangan Gereja, dengan menerima baptisan seseorang menjadi anggota Gereja dan menerima pengampunan atas dosa. Nah, pertanyaan berikut muncul: apakah bayi sudah mempunyai dosa? Seorang bayi memang belum melakukan dosa pribadi (peccatum morale), tetapi menurut iman Gereja, seorang bayi yang lahir dalam dirinya sudah membawa dosa Adam. Itulah yang sering disebut dengan dosa asal (peccatum originale). Oleh sebab itu, dalam baptisan bayi ada pengampunan dosa. Maka, Gereja yakin bahwa Gereja harus membaptis bayi.
Kedua, biasanya orang beranggapan bahwa iman merupakan sesuatu yang sangat pribadi, bukan urusan orang lain termasuk orangtua. Seorang bayi belum bisa membuat pengakuan yang bersifat pribadi itu. Anggapan ini memang ada benarnya, terlebih bagi mereka yang sangat mengagungkan otonomi dan kemandirian pribadi. Tetapi harus disadari, bahwa iman secara mendasar bukan hanya urusan pribadi melainkan kenyataan yang selalu terkait dalam hidup bersama dengan orang lain.
Iman Katolik bukan kenyataan yang melulu bersifat pribadi, melainkan iman yang berada dalam kerangka seluruh Gereja. Maka, biasanya kita sebut ”iman Gereja yang kita akui bersama”. Itu berarti, tindakan membaptis seorang bayi bukan merupakan kenyataan yang melanggar otonomi dan kemandirian pribadi, melainkan justru menghargai pribadi seorang bayi dan membiarkannya bertumbuh dalam kebersamaan dengan komunitas Gereja.
Ketiga, terkait dengan baptisan bayi, berlaku prinsip berikut: orangtua memilih yang terbaik untuk anak-anaknya. Analogi berikut ini barangkali bisa membantu. Sama sekali bukan melanggar kemandirian dan otonomi pribadi bayi jika orangtua memilih dan menentukan makanan dan pakaian yang cocok bagi bayinya. Justru orangtua yang bertanggung jawab haruslah memilih dan menentukan makanan dan pakaian apa yang cocok bagi bayi yang dikasihinya. Jika menerima baptisan merupakan sesuatu yang baik, maka orangtua yang bertanggung jawab pastilah memberikan dan mewariskan apa yang baik itu juga kepada anak. Tentu saja akan dipandang kurang tepat jika orangtua Katolik justru membiarkan anak-anaknya bertumbuh sampai dewasa untuk menentukan sendiriapakah menerima baptisan atau tidak.
Keempat, terkait dengan pembaptisan anak-anak, Katekismus Gereja Katolik berkata, ”Karena anak-anak dilahirkan dalam kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam pembaptisan, supaya dibebabkan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah, ke mana semua manusia dipanggil. Dalam pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita. Gereja dan orangtua dapat menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran (KGK No 1250).

Jelas, bahwa dengan baptisan seseorang memperoleh rahmat keselamatan. Oleh karena baptisan, seseorang diampuni dari semua dosa, dosa asal, semua dosa pribadi, dan siksa-siksa dosa. Dalam baptisan yang kudus, seseorang digabungkan dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Pembaptisan ikut membentuk persekutuan umat Kristen. Pembaptisan menandai semua orang Kristen dengan meterai rohani yang bersifat kekal.

2) Baptis Dewasa
Sejak awal Gereja, Pembaptisan orang-orang dewasa diberikan paling sering di tempat, di mana Injil belum lama diwartakan. Karena itu katekumenat [persiapan Pembaptisan] mendapat tempat yang penting. Sebagai bimbingan ke dalam iman dan kehidupan Kristen, ia harus mempersiapkan orang untuk menerima rahmat Allah di dalam Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi. (KGK 1247)

Waktu persiapan ini, bertujuan membantu katekumen untuk memberi jawaban kepada tawaran keselamatan ilahi dan untuk mematangkan pertobatan dan imannya dalam kesatuan dengan persekutuan Gereja. Yang dipentingkan di sini ialah suatu “pembinaan dalam seluruh hidup kristiani dan masa percobaan yang lamanya memadai, yang membantu para murid untuk bersatu dengan Kristus Guru mereka. Maka hendaknya para katekumen diantar sebagaimana harusnya untuk memasuki rahasia keselamatan, menghayati cara hidup menurut Injil, dan ikut serta dalam upacara-upacara suci, yang harus dirayakan dari masa ke masa. Hendaknya mereka diajak memulai hidup dalam iman, merayakan liturgi dan mengamalkan cinta kasih Umat Allah” (AG 14) Bdk. OICA 19 dan 98.. 1230 (KGK 1248)

Para katekumen “sudah termasuk rumah (keluarga) Kristus, dan tidak jarang sudah menghayati kehidupan iman, harapan, dan cinta kasih” (AG 14). “Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya (LG 14) Bdk. CIC, cann. 206; 788, ? 3.. (KGK 1249)

Pembaptisan adalah Sakramen iman Bdk. Mrk 16:16.. Iman membutuhkan persekutuan umat beriman. Setiap orang beriman hanya dapat beriman dalam iman Gereja. Iman, yang dituntut untuk Pembaptisan, tidak harus sempurna dan matang; cukuplah satu tahap awal yang hendak berkembang. Kepada para katekumen atau walinya disampaikan pertanyaan: “Apa yang kamu minta dari Gereja Allah ?” Dan ia menjawab: “Iman”. (KGK 1253)

Pada semua orang yang sudah dibaptis, apakah anak-anak atau orang dewasa, Iman masih harus tumbuh sesudah Pembaptisan. Persiapan Pembaptisan hanya menghantar sampai ke ambang kehidupan baru. Pembaptisan adalah sumber kehidupan baru dalam Kristus, yang darinya seluruh kehidupan Kristen mengalir. Karena itu, setiap tahun pada malam Paska, Gereja merayakan pembaharuan janji Pembaptisan. (KGK 1254)

3) Babtis cara Selam
Setelah berbicara banyak mengenai Hakekat Babtis yang membuat kita lahir baru, Ada baiknya kita membahas mengenai masalah Babtis selam. Babtis selam dalam gereja Pantekosta dimutlakkan dan mereka terkadang (tidak semuanya) mengatakan babtisan selain cara selam tidak sah. Secara umum terkadang mereka mengajukan bukti dari Matius 3:16 “Yesus segera keluar dari air” kata “keluar dari air” menurut mereka berarti Yesus sebelumnya berada didalam air. Sementara kata “keluar dari air” dalam hal ini tidak menunjukkan berapa banyak bagian tubuh yang terendam. (yang menarik bahwa lukisan kristen kuno tentang pembabtisan Yesus pada Katakombe, dll pada jaman yang dekat dengan jaman para rasul digambarkan bahwa Yesus masuk ke air hanya sebatas lutut).
Lebih rumitnya adalah pembahasan dari kata Babtizo (Yunani untuk membabtis) yang menurut mereka berarti “menenggelamkan sesuatu dalam air”. Sebenarnya kata Babtizo memiliki beberapa arti yaitu “menenggelamkan” dan arti yang lain “mencelupkan”. Akan tetapi hal yang menarik bahwa Lukas 11:38 mengungkapkan “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan”, dan kata “Mencuci” pada bagian ini pun ditulis dalam bahasa Yunani babtizo. Namun dalam hal ini baptizo tentu bukan berarti menenggelamkan, melainkan mungkin hanya mencelupkan sebagian sebagaimana dalam tradisi yahudi tersedia tempayan yang digunakan untuk pembasuhan sebelum besantap yang rasanya tidak etis dan higienis jika seseorang mencelupkan tangannya yang kotor kedalam tempayan itu sementara tempayan itu digunakan untuk pembasuhan tidak hanya untuk satu orang, tentunya orang akan mengambil gayung dan mengambil air dari tempayan itu lalu mengucurkannya ke tangan. Jadi jelaslah penggunaan kata “babtizo” sangat fleksibel tidak hanya menenggelamkan, oleh karena itu Tradisi Babtis Kristen sangat fleksibel (tidak hanya dengan diselam saja).
Dokumen 12 Rasul (berasal dari abad II M) mengatakan bahwa jika tidak ada air yang cukup untuk membabtis maka pembabtisan dengan pengucuran airpun adalah sah. hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Didache (sekitar tahun 100 Masehi) yang berisi hal yang sama dan juga pernyataan St. Agustinus. Kita tahu kitab suci tidak memberikan petunjuk yang jelas dengan cara apakah Para Rasul membabtis (apakah dengan cara selam, dibasuh, atau dengan cara lain) tetapi kesaksian Yustinus Martir bahwa pembabtisan dilakukan dengan cara “masuk ke air” dan menurut banyak sejarah Gereja, pembabtisan dilakukan dengan cara menenggelamkan orang dan ini merupakan cara Babtis pada Gereja perdana yang akhirnya berevolusi menjadi Ritus yang lebih sederhana. Cara (Ritus) apapun yang digunakan untuk pembabtisan tentulah tetap tidak mengubah hakekat sakramen Babtis, selama pembaptisan yang dilakukan sesuai dengan hukum Validitas/ keabsahan pelayanan sakramen. Informasi media membuktikan bahwa bahkan di beberapa Gereja Katolik di Amerika terdapat “kolam” untuk membabtis.
Apa itu baptis rindu (keinginan) dan baptis darah:
1) Baptism of Desire/ Baptisan Keinginan:
Baptisan dari keinginan berlaku baik kepada mereka yang, sementara ingin dibaptis, mati sebelum menerima sakramen dan “Mereka yang, bukan karena kesalahan mereka sendiri, tidak tahu Injil Kristus atau Gereja-Nya, namun tetap mencari Tuhan dengan hati yang tulus, dan, digerakkan oleh rahmat, cobalah dalam tindakan mereka untuk melakukan kehendak-Nya karena mereka mengetahui melalui hati nurani “(Konstitusi tentang Gereja, Konsili Vatikan II).
2) Baptism of Blood/ Baptisan darah: Baptisan darah mirip dengan baptisan keinginan. Hal ini mengacu pada kemartiran orang-orang beriman yang dibunuh demi iman sebelum mereka punya kesempatan untuk dibaptis. Ini adalah kejadian umum di abad-abad awal Gereja, tetapi juga di kemudian hari di tanah-tanah misi. Baptisan darah memiliki efek yang sama seperti baptisan air.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sabagaimana yang diungkapkan oleh St. Bona Ventura, baptisan adalah pintu bagi sakramen- sakramen lain. Melalui sakramen ini pula seseorang melalui tahapan sosio-antropologisnya unntuk memasuki sebuah kehidupan dan persekutuan baru bersama orang-orang yang telah lebih dulu menyatakan dirinya sebagai pengikut kristus.
Sebagaimana sakramen- sakramen lainnya yang juga mengalami perkembangannya dalam lintasan sejarah demikianpun halnya dengan sakramen baptis. Dalam perkembangannya berbagai pertanyaan berkaitan dengan validitas pelayanannya masih diperdebatkan hingga kini. Menyikapi hal ini, gereja mengatur sedemikian rupa tatacara pelayanan dan pandangan- pandangan para bapa Gereja terhadap sakramen baptis, sebagaimana yang terdapat di dalam katekismus, kitab hukum kanonik, maupun konsili vatikan dan berbagai dokumen lainnya. Pembaptisan sebagai sakramen dengan rahmatnya yang tak terhapuskan membawa seseorang persatuan dengan Kritus dan jemaatnya, menerima materai Roh Kudus yang memberi pengudusan dan rahmat kekuatan untuk hidup secara benar dalam kematian dan kebangkitan bersamanya.

Metode Pemberian Tugas ( Resitasi)

Metode pemberian tugas adalah metode yang dimaksudkan memberikan tugas-tugas kepada siswa baik untuk di rumah atau yang dikarenakan di sekolah dengan mempertanggung jawabkan kepada guru (Abdul Kadir Munsyi Dip. Ad. Ed, tanpa tahun). Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa, guru memberikan pekerjaan kepada siswa berupa soal-soal yang cukup banyak untuk dijawab atau dikerjakan yang selanjutnya diperiksa oleh guru.

Dalam literatur yang dijelaskan bahwa pemberian tugas dapat diartikan pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pemberian tugas dan pekerjaan rumah, untuk pekerjaan rumah guru menyuruh siswa membaca buku kemudian memberi pertanyaan-pertanyaan di kelas, tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh siswa membaca dan menambahkan tugas (Roestiyah N.K, 1989).
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk guru secara langsung. Dengan metode ini siswa dapat mengenali fungsinya secara nyata. Tugas dapat diberikan kepada kelompok atau perorangan.
Penggunaan suatu metode dalam proses belajar mengajar, seorang guru sebaiknya tetap memonitoring keadaan siswa selama penerapan metode itu berlangsung. Apakah yang diberikan mendapat reaksi yang positif dari siswa atau sebaliknya justru tidak mendapatkan reaksi. Bila hal tersebut terjadi maka guru sedapat mungkin mencari alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode yang lain, yang sesuai dengan kondisi psikologi anak didik.
Semua guru harus menyadari bahwa semua metode mengajar yang ada, saling menyempurnakan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena tidak ada satupun metode yang sempurna tetapi ada titik kelemahannya. Oleh karena itu penggunaan metode yang bervariasi dalam kegiatan mengajar akan lebih baik dari pada penggunaan satu metode mengajar. Namun penggunaan satu metode tidaklah salah selama apa yang dilakukan itu untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Dalam buku lainnya yang berjudul Startegi Belajar Mengajar hal.132, Roestiyah mengatakan teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi. Melatih atau menunjang materi yang diberikan dalam kegiatan intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan.
Metode pemberian tugas sebagai salah satu metode yang dikaji penulis dalam pembahasan ini tentunya juga memiliki kelemahan dan kelebihan seperti halnya dengan metode yang lain. Mengenai kelemahan dan kelebihan metode pemberian tugas adalah sebagai berikut :
Kelebihan metode pemberian tugas :
1. Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
2. Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan dengan kedisiplinan tertentu.
3. Memberi kebiasaan anak untuk belajar.
4. Memberi tugas anak yang bersifat praktis (H. Zuhairini, 1977).
5. Dapat memupuk rasa percaya diri sendiri
6. Dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah menginformasikan dan dan mengkomunikasikan sendiri.
7. Dapat mendorong kegiatan belajar, sehingga peserta didik tidak cepat bosan
8. Dapat mengembangkan kreativitas siswa
9. Dapat mengembangkan pola berfikir dan ketrampilan anak.
10. dapat lebih memperdalam, memperkaya, dan memperluas wawasan yang dipelajarinya
Dari berbagai kelebihan-kelebihan yang telah dipaparkan di atas tentunya metode pemberian tugas juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
1. Seringkali tugas di rumah itu dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan itu, berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
2. Sulit untuk memberikan tugas karena perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar.
3. Seringkali anak-anak tidak mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya.
4. Apabila tugas itu terlalu banyak, akan mengganggu keseimbangan mental anak (H. Zuhairini, 1977).
5. Khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif.
6. Pemberian tugas yangmonoton dapat menimbulkan kebosanan siswa apabila terlalu sering.
Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode pemikiran tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan satu metode mengajar. Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugasnya mengajarnya di depan kelas.

Salah satu dampak yang sering kita lihat dari penggunaan metode yang tidak tepat yaitu ; anak atau siswa setelah diberi ulangan, sebagian besar tidak mampu untuk menjawab setiap item soal dengan baik dan benar. Akibatnya sudah dapat dipastikan bahwa prestasi belajar anak didik rendah. Di sisi lain, anak didik sering merasakan kebosanan. Situasi demikian menjadikan proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan kurang efisien.

Perlu dipahami bagi seorang guru bahwa waktu belajar siswa di sekolah sangat terbatas untuk menyajikan sejumlah materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas kepada siswa diluar jam pelajaran, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam hubungan ini, guru sangat diharapkan agar setelah memberikan tugas kepada siswa supaya dicek atau diperiksa pada pertemuan berikutnya apakah sudah dikerjakan oleh siswa atau tidak. Kesan model pengajaran seperti ini memberikan manfaat yang banyak bagi siswa, terutama dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajarnya.
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama mengerjakan tugas. Dari proses seperti itu, siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi akibat pendalaman dan pengalaman siswa yang berbeda-beda pada saat menghadapi masalah atau situasi yang baru. Disamping itu, siswa juga dididik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktivitas dan rasa tanggung jawab serta kemampuan siswa untuk memanfaatkan waktu belajar secara efektif dengan mengisi kegiatan yang berguna dan konstruktif.
Bagi seorang guru dalam menerapkan metode pemberian tugas tersebut diharapkan memperjelas sasaran atau tujuan yang ingin dicapai kepada siswa. Demikian halnya dengan tugas sendiri, jangan sampai tidak dipahami tidak dengan jelas oleh siswa tentang tugas yang harus dikerjakan.
Dalam penggunaan teknik pemberian tugas atau resitasi, siswa memiliki kesempatan yang besar untuk membandingkan antara hasil pekerjaannya dengan hasil pekerjaan orang lain. Ia juga dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Kesemuanya itu dapat memperluas cakrawala berfikir siswa, meningkatkan pengetahuan dan menambah pengalaman berharga bagi siswa.
Sebagai petunjuk dalam penerapan metode pemberian tugas Roestiyah N.K (1989) mengemukakan perlunya memperhatikan langkah-langkah berikut:
1. Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan.
2. Pertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik pemberian tugas itu telah tepat untuk mencapai tujuan yang anda rumuskan.
3. Anda perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti.
4. Bentuk pelaksanaan tugas
5. Manfaat tugas
6. Bentuk Pekerjaan
7. Tempat dan waktu penyelesaian tugas
8. Memberikan bimbingan dan dorongan
9. Memberikan penilaian
Adapun jenis-jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa yang dapat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar :
1. Tugas membuat rangkuman
2. Tugas membuat makalah
3. Menyelesaikan soal
4. Tugas mengadakan observasi
5. Tugas mempraktekkan sesuatu
6. Tugas mendemonstrasikan observasi
Dalam menerapkan metode pemberian tugas seperti dikemukakan di atas, guru hendaknya memahami bahwa suatu tugas yang diberikan kepada siswa minimal harus selalu disesuaikan dengan kondisi obyektif proses belajar mengajar yang dihadapi, sehingga tugas yang diberikan itu betul-betul bermakna dan dapat menunjang efektifitas pengajaran. Berbicara lebih jauh mengenai penerapan metode pemberian tugas, seringkali diterjemahkan oleh sebahagian orang hanya terkait dengan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa.

Akan tetapi sebenarnya metode ini harus dipahami lebih luas dari pekerjaan rumah karena siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya tidak mutlak harus dilakukan di rumah, melainkan dapat dilaksanakan di sekolah, di laboratorium atau di tempat-tempat lainnya yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas. Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (1989) mengemukakan bahwa; Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lain. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar diberikan secara individual atau dengan kelompok.
Penguasaan itu tidak harus selalu didiktekan oleh guru melainkan dapat berasal dari perencanaan kelompok, sehingga kelompok dapat membagi tugas kepada anggotanya secara baik menurut minat dan kemampuannya. Jelasnya bahwa penguasaan yang diberikan kepada siswa harus selalu dirumuskan dengan seksama agar tugas itu tidak terlalu memberatkan siswa dan juga tidak membosankan. Ini tidak berarti bahwa tugas itu tidak boleh sukar. Bahkan senantiasa diharapkan menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan pemberian tugas yang menantang buat siswa.

Menurut Sutomo (1993) bahwa metode pemberian tugas dapat digunakan apabila
1. Suatu pokok bahasan tertentu membutuhkan latihan atau pemecahan yang lebih banyak di luar jam pelajaran yang melibatkan beberapa sumber belajar.
2. Ruang lingkup bahan pengajaran terlalu luas, sedangkan waktunya terbatas. Untuk itu guru perlu memberikan tugas.
3. Suatu pekerjaan yang menyita waktu banyak, sehingga tidak mungkin dapat diselesaikan hanya melalui jam pelajaran di sekolah.
4. Apabila guru berhalangan untuk melaksanakan pengajaran, sedangkan tugas yang harus disampaikan kepada murid sangat banyak. Untuk itu pemberian tugas perlu diberikan melalui bimbingan guru lain yang menguasai bahan pengajaran yang dipegang oleh guru yang berhalangan tadi.
Beberapa jenis tugas penugasan dianggap sudah ditunaikan apabila siswa telah mengerjakannya. Di sini tidak diperlukan standar minimum. Akan tetapi jika suatu keterampilan tertentu ingin dikembangkan, maka tolok ukur penilaian perlu ditentukan dan disampaikan kepada siswa, sehingga mereka berkesempatan untuk mempraktekkan keterampilan itu dengan memuaskan. Demikian pula jika penugasan itu berupa laporan atau makalah yang harus dipersiapkan, para siswa sedapat mungkin sering diberitahu apa saja target atau sasaran yang diharapkan dari mereka atau dari tugas yang diberikan, sehingga mereka memiliki cukup pedoman dalam bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya.

Sumber
– AADESANJAYA.BLOGSPOT.COM
http://id.shvoong.com
– Blogger Kompasiana