SAKRAMEN BAPTIS

1.1. Latar Belakang Penulisan
Sakramen baptis adalah sakramen inisiasi pertama yang menjadi tanda dimasukkan dan diterianya seseorang yang telah bertobat kedalam persekutuan kristiani. Hal ini menunjukkan dengan jelas pentingnya peranan sakramen ini sebagai sebuah sakramen dasar bagi seorang katolik untuk menghayati imannya di kemudian hari ketika ia telah menjadi seorang katolik, mengapa ia mempercayai Kristus dan bagaimana peranan sakramen baptis yang telah ia terima tersebut dalam kehidupannya.
Bertolak dari kenyataan pentingnya sakramen ini dan kenyataan bahwa seringkali orang yang telah dibaptis secara sah pun tidak memahami peranan dan apa yang diharapkan gereja dari penerimaan sakramen ini dengan segala ketetapan yang telah disusun oleh gereja dengan sedemikian rupa mengenai sakramen baptis ini, maka sangatlah penting bagi seorang calon katekis untuk memahami sakramen baptis ini dengan sebagaimana mestinya sebagai batu loncatan dalam pelaksanaan karya pastoral.

1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini adalah sebagai berikut:
1) Melihat kembali berbagai fakta yang hidup dikalangan umat berkaitan dengan penghayatan imannya sebagai seorang yang telah dibaptis
2) Memaparkan sakramen baptis dari berbagai sudut pandang gereja, agar sakramen ini dapat dipahami dengan baik dan benar
3) Sebagai pemenuhan tugas dari mata kuliah sakramentologi II

1.3. Metode Penulisan
Adapun paper Sakramen Bapts ini ditulis dengan metode research terhadap buku- buku yang berkaitan dengan sakramen baptis di perpustakaan sekolah tinggi pastoral Tahasak Danum Pambelum serta berbagai artikel di internet yang kemudian dihuungkan dengan berbagai fenomena kehidupan iman umat dalam kehidupan sehari- hari.

1.4. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari paper ini adalah sebagai berikut:
1) Bab I Pendahuluan, memaparkan apa yang menjadi latar belakang penulisan, tujuan penulisan, dengan metode apa paper ini ditulis, serta bagaimana sistematika penulisannya.
2) Bab II Kajian Teori memaparkan pandangan dasar Gereja terhadap sakramen baptis berkiatan dengan pelayanannya.
3) Bab III Pembahasan memaparkan validitas pelayanan, materia, perkembangan dan berbagai fenomena masa kini berkaitan dengan sakramen baptis.
4) Bab IV Penutup memuat kesimpulan dan saran

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. Pengertian Sakramen Baptis
Sakramen adalah upacara atau ritus yang menjadi mediasi, dalam arti menjadi simbol yang terlihat atau manifestasi dari Rahmat Tuhan yang tidak kelihatan. Dalam perkembangannya, Gereja mula-mula memberikan makna dan isi baru tentang sakramen sehingga maknanya pun mengalami perubahan sebagai berikut:
1. Suatu kesepakatan antara manusia dengan Tuhan Allah. Sehingga dengan menerima Sakramen, seseorang berjanji untuk hidup setia kepada Yesus Kristus.
2. Sebagai sumpah kesetiaan orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
3. Menurut Santo Agustinu, sakramen berarti :
1) Tanda-tanda yang kelihatan dari yang tidak kelihatan dari suatu hal suci; atau wujud yang kelihatan dari rahmat yang tidak kelihatan; Firman yang kelihatan.
2) Tanda dan materei yang kelihatan dan suci yang ditentukan oleh Tuhan Allah, menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dijanjikan-Nya supaya iman kita dikuatkan,
3) Ditetapkan Tuhan Allah untuk menguatkan persekutuan sesama anak-anak Allah. Sakramen memberikan anugerah dan menguduskan seseorang. Cara untuk mempersatukan seseorang dengan Kristus, dan mempertahankan persatuan itu.
Sementara Baptisan berasal dari bahasa Yunani Baptizo, yang berarti dimandikan, dibersihkan, atau diselamkan, baik sebagian maupun keseluruhan. Berdasarkan Roma 6 : 1- 14, seorang yang telah dibaptis telah mengaami kematian dan bangkit di dalam Kristus serta melambangkan bahwa manusia mati terhadap dosa bersama dengan Kristus, dan dibangkitkan untuk suatu hidup baru. Karena manusia dilahirkan kembali oleh air dan Roh Kudus, sebagaimana yang dituliskan didalam Yoh 3:5. Hidup baru tersebut, menunjukkan kita dibersihkan dari dosa.
2.2. Dasar Biblis Sakramen Baptis
Sakramen Baptis adalah salah satu sakramen inisiasi yang dalam perkembangannya bertolak dari tradisi kehidupan Yudaisme bangsa israel yang juga mengenal baptisan sebagai upacara permadian atau penyucian yang berfungsi menyucikan atau membersihkan orang dari kenajisan dan dosa sebagaimana yang termuat dalam kitab Imamat 15:5.8.10.13.18.22 ; 16:4.24 dst. Akan tetapi apa dalam hal ini, sakramen baptis sebagai itus inisiasi Kristen memiliki makna tersendiri yang baru dan yang kemudian membedakannya dengan baptisan sebagaimana yang juga terdapat dalam yudaisme dan banyak agama- agama adat yang pada zaman Yesus banyak berkembang di sekitar lingkungan Yahudi. Salah satu hal yang membedakannya dengan baptisan- baptisan diatas ialah dasar teologis dan makna yang terkandung dibalik pelaksanaan upacara tersebut. Adapun beberapa dasar kitab suci dari sakramen baptis sebagai sebuah inisiasi kristen yang membedakannya dari ritus baptisan lainnnya diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Mat 3:13- 17, dst; Yoh 1:29-32 menceritakan bagaimana Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan bagaimana Yohanes Pembaptis sendiri bersaksi akan pribadi Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
2) Mat 28:19, bdk Mrk 16:15 Yesus yang telah bangkit menampakkan diri dan mengutus murid- murid Nya “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid K dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
3) Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Melalui ayat ini kita dapat melihat Tuhan Yesus sediri yang menekankan pentingnya baptisan sebagai jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah.
4) Kis 2:38 St. Petrus mengatakan “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Dalam ayat ini St. Petrus menekankan perlunya Baptis untuk pengampunan dosa dan syarat untuk menerima karunia Roh Kudus.
5) Santo Paulus dalam Titus 3:5 “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”
6) lalu dalam Kis 22:16 “Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!”

Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa Sakramen Baptis bukan hanya sebuah lambang atau simbol melainkan Baptisan memang sungguh- sungguh membuat kita lahir baru, karena Baptisan itu berhubungan erat dengan Roh Kudus yang menguduskan dan membuat kita lahir baru. Baptisan bertolak dan terinspirasi pada apa yang diterima oleh Yesus sendiri sebagai permulaan dari karya Nya di dunia ketika Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, serta bersumber pada apa yang dikatakan oleh Yesus secara tologis dalam penampakan Nya kepada para rasul yakni untuk menjadikan semua bangsa murid Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Bila kita perhatikan Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu…”, kata “air dan Roh” yang berarti Baptisan dan Roh Kudus memiliki suatu hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang erat antara Baptisan dan Roh Kudus inilah yang membuat kita memperoleh hidup baru pada saat kita dibaptis. Hubungan erat antara Roh Kudus dan Baptisan ini pulalah kiranya yang dibicarakan oleh Rasul Paulus sehingga ia tidak menyebut Roh Kudus melainkan “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh Baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4).

Baptisan bukan perbuatan manusiawi belaka tetapi Baptis adalah tanda dan sarana Rahmat Allah, yaitu kelahiran/hidup baru dimana Allah berkarya melalui para pelayan-Nya. Baptisan adalah karya Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Baptisan tidak dapat dibedakan/dipisahkan dari Iman kepada Yesus dan dari Pencurahan Roh Kudus. Baptisan merupakan perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan Iman itu berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus sebagaimana yang terdapat pada1 Kor 12:3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.” Dari uraian diatas jelaslah bahwa Baptis bukan hanya sebuah simbol tetapi benar-benar membuat kita lahir baru karena peranan dari Roh Kudus yang membuat kita lahir baru didalam pembaptisan. oleh karena hal itulah St.Petrus menegaskan perlunya baptisan bagi keselamatan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya (air bah), yaitu baptisan maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Pet 3:21).
2.3 Pandangan Keselamatan Dalam Gereja Katolik
Gereja pada masa pra konsili vatikan II terkenal dengan pandangannya Extra Excclesiam Nulla Salus yang berarti diluar gereja tidak ada keselamatan yang bertolak dari teks kitab suci;
1. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan “Kis 4:12”
2. Kata Yesus kapanya “ Akula jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6)

Kebanyakan orang awam katolik dan para imam berhaluan lieral sering menafsirkan bahwa doktrin ini sudah dianulir dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Namun pandangan inilah yang hendaknya diluruskan, sebab sesungguhnya gereja tidak pernah menganulir doktrinnya melainkan berusaha memberikan pemaparan yang sesuai bagi kebenaran yang terkandung didalam doktrin tersebut dengan cara pandang yang berbeda. KGK 846

“Berdasarkan kitab suci dan tradisi, konsili mengajarkan bahwa gereja yang sedang mengembara ini perlu untukkeselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya yaitu gereja. Dengan jelas- jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya gereja yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. “Maka dari itu andaikata ada orang yang benar- benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk kedalamnya atau tetap inggal didalamnya ia tidak dapat diselamatkan.” LG 14
KGK 1260 “ sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar – benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri paskah itu (GS 22) bdk LG 16, AG 7 “ Setiap manusia yang tidak mengenal injil Kristus dan gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan.orang dapat mengandaikan bahwa orang- orang semacam itu memang menginginkan pembaptisan seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.
Dua bagian ini menunjukkan bahwa keselamatan semua orang selalu terhubung dengan gereja walaupun caranya berbeda, ada yang secara defacto dengan menjadi anggota dan ada pula yang dihubungkan secara misterius dengannya.dan karenaya tidak mungki adanya keselamatan tanpa adanya hubungan dengn Kristus dan Gereja-Nya.
Bagaimana dengan kehadiran banyak agama masa kini yang juga berkembang dan juga berbuat kebaikan bagi sesama yang tentu akan membawa setiap pengikut yang hidup sesuai dengan ajarannya masuk kedalam kerajaan surga?
Sebuah prinsip yang ahrus kita pegang dan kita pahami secara benar dalam mengartikan dokumen- dokumen Konsili Vatikan II dalam kaitannya dengan Extra Excclesiam Nulla Salus ialah bahwa “kebenaran” berbeda dengan “keselamatan”. Kebenaran ada diluar Gereja sebab manusia memiliki kodrat luhur yaitu suatu kerinduan yang mendalam untuk bersatu kembali dengan Allah penciptanya. Kita dapat membuktikan hal ini bahwa di suku- suku terpencilpun yang jauh dai peradapan manusia modern masih memiliki kepercayaan akan “kekuatan yang tak terlihat” yang seringkali disebut sebagai animisme dan dinamisme. Maka gereja pun mengajarkan bahwa “manusia adalah makhluk religius”. Dalam diri Allah terdapat kebenaran sejati. Maka dalam setiap usaha merekamanusia dalam mencari Allah, sudah tentu terdapat nili- nilai kebenaran.
Tetapi keselamatan datangnya hanyya dari Allah, dan manmusia dituntut untuk bekerjasama secara aktif bersama Allah untuk mencapai keselamatan tersebut. Jika kita memperhatikan kisah- kisah dalam perjanjian lama kita apat melihat bahwasannya Allah telah menjanjikan keselamatan itu kepada manusia sjak manusia pertama jatuh kedalam dosa (kej3:15). Namun sifat Allah yang maha segalanya, dan keterpisahan antara manusia dengan Allah akibat dosa telah menjauhkan manusia dari –Nya. Maka Allah mewahyukan diri secara bertatahap melalui para nabi perjanjian lama yang terus menubuatkan kepenuhan sabda Allah dalam diri Mesias.
Dalam diri Yesus lah, sang sabda telah menjadi daging dan tinggal diantara kita, suatu pewahyuan yang sempurna dan terakhir, dan wahyu ilahi tersebut hidup abadi dalam Tubuh mistik-Nya di dunia yatu Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik (mat 16:18-19). Gereja tersebut aalah gereja katolik. Sang kebenaran sejati telah mewahyukan dirinya kepada manusia dan mempercayakan perintah- perintah-Nya yang hidup dalam Gereja, dan Gereja telah diberikan suatu kuasa dan rahmat sehingga gereja tak akan pernah jatuh ke dalam alam maut, maka Gereja tidak pernah mengajarkan suatu kesesatan.
Bagaikan bahtera Nuh , Allah yang telah mengirimkan air bah dan memusnahkan seluruh kehidupan dimuka bumi yang penuh dosa, seperti halnya air pembaptisan Yng telah membersihkan diri dari dosa yang telah memisahkan antara Allah dan manusiaGereja bagai pula bahtera Nuh ditengah air bah, diluarnya tidak ada keselamatan melainkan kebinasaan.
Maka sesungguhnya Gereja mengakui adanya kebenaran diluar gereja, tetapi kebenran tersebut hanyalah patrial atau sebagian:
LG 6 “ tetapi sering orang- orang karena ditipu oleh si jahat, jatuh kedalam pikiran- pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta. Dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada sang pencipta.
Hal ini menunjukkan bahwa, segala macam usaha manusia tanpa rahmat Allah untuk mencapai keselamatan hanyalah sia- sia belaka. Pada bagian sebelumnya kita telah melihat bagaimana Allah yang begitu mencintai manusia memberikan rahmat tersebut kepada manusia melalui Kristus dengan berbgai tahapan-tahapannya. Sesungguhnya;
1. Jika seluruh mausia diatas muka bumi ini jatuh kedalam neraka, kemuliaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun.
2. Kemuliaan Allah sama sekali tak bergantung kepada manusia.
Manusia begitu kerdil dhadapan Allah, dan hanya satu kurban yang mampu menyenangkan hati Allah, yang tidak lain ialah kurban Putra-Nya yang Tunggal Yesus Kristus diksyu salib, karya penebusan dosa yang hanya dapat kita terima kembali secara utuh dalam perayaan Ekaristi kudus yang hanya kita dapatkan dalam Gereja Katolik.
LG 14 “maka dari itu andaikata ada orang “Maka dari itu andaikata ada orang yang benar- benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk kedalamnya atau tetap inggal didalamnya ia tidak dapat diselamatkan.”
Didalamnya dtekankan yang memang terkandung “benar- benar tidak tahu”. Tentunya hanya Allah yang mengetahuikedalaman hati nurani manusia apakah ia benar- benar tidak tahu, atau malas mencari tahu, atau bahkan menolak untuk mencari tahu. Kita tidak dapat berandai- andai dalam hal ini dan berspekulasi. Namun satuhal yang pasti bagi kita yang sudah menjadi anggota Gereja-Nya untuk terus mencari tahu, menghayati dan menjalankan ajaran – ajaran Kristus yang tertuang dengan baik dalam ajaran- ajaran magisterium dan kitab suci. Serta terus turut seta mewartakan kabar keselamatan inidalam bersikap dan berbuat dan terus pula berdoabagi mereka yang masih belum tergabung di dalam Gerejanya dan bagi mereka yang tidak mendapati jaminan eselamatan kekal.
Apa perbedaan antara kebenaran dan kebenaran sesungguhnya?
Kebenaran memang ada diluar gereja, agama-agama diluar gereja mengandung nilai-nilai kebenaran, namun nilai- nilai kebenaran yang diwartakannya tidak mencapai kepenuhannjya. Gereja memandangnya sebagai pantulan cahaya kebenaran seperti bulan yang hanya memantulkan sinar matahari.
Allah menyapa manusia dan manusia wajib menanggapinya. Manusia yang telah jatuh kedalam dosaterpisah dari hubungan mesranya dengan Allah dan manusia tidak lagi bisa menatap Allah. Hal ini berlaku bagi semua manusia. Didalam keselamatan terdapat kebenaran yang sesungguhnya yaitu kebenaran yang menbawa kepada keselamatan, yakni persatuan kembali secara sempurna dengan Allah. Allah mengetahui bahwa manusia dengan segala keterbatasannya tidak dapat mencapai Diri-Nya dengan sempurna. Sebab sejak jatuh kedalam dosa manusia selalu cenderung berbuat dosa lagi yang senantiasa menggiringnya kepada maut. Maka Allah menanggapi janji keselamatan kepada manusia (kej 3:15)dengan mewartakan dirinya secara bertahap kepada para nabi perjanjian lama, dan mencapai kesempurnaannya dalam diri Yesus Kristus, yang kemudian menyerahkan kunci kerajaan surga kepada Petrus dan para penggantinya yang kemudian mendirikan Gereja (mat 16:18-19). Di dalam Allah terdapat kebenaran sejati yang membawa seluruh manusia kepada diri-Nya dan Allah telah menyatakannya secara sempurna kepada Yesus, dan Yesus menyerahkan kepada Gereja agar janjinya akan keselamatan tergenapi hingga akhir zaman. Inilah kebenaran yang sesungguhnya.
Kebenaran pada agama lain adalah kebenaran partial karena didasarkan kepada usaha manusia semata yang memang tidak pernah sempurna dan berdosa, kecuali Yesus Kristus yang memang sungguh Allah dan sungguh manusia.
Sungguh besar kasih Allah kepada manusia, bahkan sejak manusia pertama kali jatuh kedalam dosa Allah tetap menyayangi manusia dengan memberikan janji keselamatan. Dimulai pada zaman para nabi perjanjian lama hingga Yesus Kristus. Manusia masih terus berbuat dosa, tetapi Allah tidak pernah berhenti menyapa manusia untuk kembali menuju jalan yang telah Ia siapkanuntuk keelamatan diri manusia, yaitu sakramen tobat dan ekaristi, yang tentunya harus didahului oleh pembaptisan, baik Baptis air, maupun votum baptismi yakni baptis darah melalui martiria, maupun baptis rindu, dan setiap orang yang tidak mengalami salah satu dari baptisan ini tidak akan diselamatkan.
2.4 Dosa asal dan Pembaptisan
Apun dosa asal dinyatakan KGK sebagai berikut:
390 kisah tentang kejatuhan kedalam dosa menggunakan bahasa gambar, tetapi melukiskan satu kejadian purba yang terjadi pada awal sejarah umat manusia. Wahyu memberikaln kepada kita kepastian iman bahwa seluruh sejarah umat manusiatelah diwarnai oleh dosa purba, yang telah dilakukan dengan bebas oleh nenek moyang kita.

Dosa pertama manusia
397 Digoda oleh setan manusia membiarkan kepercayaan akan penciptanya mati di dalam hatinya, menyalahgunakan kepercayaannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Disitulah terletak dosa pertama manusia. Sesudah itu setiap dosa merupakan ketidak taatan kepada Allah dan kekurang percayaan akan kebaikan- kebaikan-Nya.

398 Dalam dosa manusia mendahulukan dirinya sendiri daripada Allah, dan dengan demikian mengabaikan Allah: ia memilih dirinya sendiri melawan Allah, melawan kebutuhan- kebutuhan keberadaannya sendiri sebagai makhluk dan dengan demikian melawan kesejahteraannya sendiri. Diciptakan dalam keadaan dikuduskan manusia ditentukan supaya di “Ilahikan” sepenuhnya oeh Allah dalam kemuliaan.digoda oleh setan ia “hendak menjadi seperti Allah” tetapi “ tanpa Allahdan tidak sesuai dengan Allah. (Maksimus pengaku iman, ambig)

399 Kitab suci menunjukkan akibat- akibat dari ketidak taatan pertama yang membawa malapetaka. Adam dan Hawa seketika itu juga kehilangan rahmat kekeudusan asli. Mereka takut kepada Allah,tentang siapa mereka telah membuat karikatur seorang Allahyang terutama mencari kepentingan- kepentingannya sendiri.

400 Keselarasan yang mereka miliki berkat keadilan asli, sudah rusak, kekuasaan, kemampuan rohani- rohani dari jiwa atas badan sudah dipatahkan; hubungan mereka ditandai dengan keinginan dan nafsu untuk berkuasa. Juga keselarasan dengan ciptaan rusak;ciptaan kelihatan menjadi asing dan bermlusuhan dengan manusia. Karena manusia, seluruh makhluk “telah ditakhlukkan kepada kesia- siaan” (Rm 8:20). Akhirnya akan jadilah akibatnya yang telah diramalkan dengan jelas sebelum dosa ketidaktaantan, “manusia adalah debu dan akan kembali kepada debu” (kej 3:19). Maut memasiki sejarah umat manusia.

401 sejak dosa pertama ini, dosa benar- benar membanjiri dunia: Kain membunuh saudaranya Abel; sebagai akibat dosa manusia pada awalnya menjadi rusak sama sekali; dalam sejarah Israel dosa ini seringkali menampakklan diri- terutama sebagai ketidak setiaan kepada perjanjian dengan Allah dan hukun Musa. Dan juga sesudah penebusan oleh Kristus orang Kristen masih juga berdosa dengan berbagai macam cara. Kitab suci dan tyradisi gereja selalu mengingatkan lagi bahwa ada dosa dan bahwa ia tersebar luas dalam seluruh sejarah manusia.
“apa yang kita ketahui berkat pewahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesame manusia, dan dengan seluruh ciptaan.” (GS13,1)

404 mengaapa dosa Adam menjadi dosa bagi seluruh turun – temurunnya? Dalam Adam seluruh umat manusia bersatu bagaikan tubuh yang satu dari seorang manusia individual. (Thomas Aquinas, mal., 4,1)
Karena “kesatuan umat manusia” ini, semua manusia terjerat dalam dosa Adam sebagaimana semua terlibat dalam keadilan Kristus. Tetapi penebusan dosa asal adalah satu rahasia, yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya. Namun melalui wahyu kita mengetahui bahwa Adam tidakmenerima kekudusan dan keadilan asli untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh kodrat manusia dengan menyerah kepada penggoda, Adam dan Hawa melakukan dosa pribadi, tetapi dosa ini menimpa kodrat manusia yang selanjutya diwariskan dalamkeadaan dosa. Dosa itu diteruskan kepada seluruh umat manusia, melalui pembiakan yaitu melalui kodrat manusia yang kehilangan kekudusan dan keadilan asli. Dengan demikian dosa asal adalah “dosa” dalam arti analog: ia adalah dosa yang orang “menerimanya” tetapi bukan melakukannya, suatu keadaan dan bukan perbuatan.

Namun demikian:
385 Allah amat baik secara tak terbatas dan segala karyanya baik. Namun tidak ada seorang yang luput dari pengalaman penderitaan, kebobrokan alami yang rupanya sudah termasuk keterbatasan ciptaan dan dan terutama tidak seorangpun dapat mengelakkan masalah kejahatan moral. Dari manakah datangnya kejahatan? “ aku bertanya-tanya mengenai awal kejahatan, tetapi tidak menemukan jaan keluar” demikian Santo Agus Tinus (conf. 7,7,11). Dan pencariannya yang menyedihkan hati baru akan menemukan jalan keluar dalam pertobatannya kepada Allah yang hidup “kuasa rahasia kedurhakaan” (2 Tes 2:7) hanya menyingkapkan diri dalam cahaya “rahasia iman” (1 tim 3:16). Wahyu cinta ilahi yang terjadi dalam Kristus menunjukkan sekaligus banyaknya osa dan melimpahnya rahmat. Kalau kita menghadapi pertanyaan mengenai awal kejahatan, kita juga harus mengarahkan pandangan iman kita kepada Dia yang mengalahkannya.

Dengan memahami dosa asal sebagaimana dipaparkan diatas, maka kita dapat melihat peran pembaptisan dalam gereja yang menjadi begitu penting, yakni sebagai pemulihan relasi anntara manusia dengan alah yang telah terluka akibat dosa yang dilakukan manusia pertama. Dengan pembaptisan, seseorang mengandaikan dirinya memasuki suatu kehidupan baru yang didalamnya ia telah ditebus oleh kurban Kristus dan hidup secara baru didalamnya.

2.5 Peraturan Kanonik Sakramen Baptis
“Sakramen baptis adalahgerbang dari sakramen- sakramen gereja yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak- tidaknya diterima dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak- anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa denngan Kristus oleh materi yang tak terhapuskan, dan hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata- kata yang diwajibkan” KHK 849. Peraturan mengenai sakramen baptis dipaparkan dengan sangat jelas oleh gereja di dalam Kitab Hukum Kanonik (codex iuris canonici) 849- 878 yang dibagi kedalam lima bagian. Adapun inti dari setiap bagian dari hukum knonik mengenai sakramen baptis ini adalah sebagai berikut:

1) Hukum mengenai perayaan pembaptisan yang disusun dalam kanon 850-860 menyatakan bahwa sakramen baptis hendaknya diteimakan menurut tata perayaan dalam buku-buku liturgi yang disetujui, kecuali dalam keadaan darurat. Orang dewasa yang bermaksud menerima sakramen ini hendaknya diterima dalam katekumenat dan diarahkan sedalam mungkin kepada inisiasi sakramental dan tahap – tahapnya, yang juga diterapkan bagi semua orang yang dapat menggunakan akal budinya. Sementara orangtua dan wali harus diberitahu dengan baik mengenai makna dari sakramen ini serta kewajiban- kewajiban yang melekat padanya. Diluar keadaan terpaksa, air yangdigunakan haruslah air yang telah diberkati menurut ketentuan liturgi, yang dapat dilkasanakan baik dengan dimasukkan atau dituangi air saja. Dianjurkan pemberian nama yang bercitarasa kristiani, dilaksanakan pada hari minggu atau pada malam paskah, dilaksanakan digereja/ruang doa (diluar keadaan darurat) yakni di gereja paroki masing- masing, sementara setiap gereja paroki hendaknya memiliki bejana baptis. Karna jarak yang jauh atau eadaan lain maka sesseorang dapat dibaptis di tempat yang lebih dekat/ layakdiluar keadaan mendesak dan izin khusus, seorang tidak boleh dibaptis dirumah pribadi ataupun rumah sakit.

2) Hukum mengenai pelayan baptis menyataan bahwa pelayan biasa dari akramen baptis adalah uskup, imam, dan diakon. Bilamana pelayan– pelayan biasa ini berhalangan atau tidak ada maka pelayan sakramen baptis secara licit dilaksanakan oleh katekis atau ordinaris wilayah yang ditugaskan untuk fungsi itu, bahkan oleh siapapun dengan maksud yang semestinya dalam keadaan darurat. Namun diluar keadaan darurat tidak seorangpun yang diizinkan untuk melayani di wilayah lain tanpa izin yang semestinya, sementara baptis dewasa sekurang- kurangnya mereka yang telah berusia genap empat belas tahun.

3) Hukum mengenai calon baptis memaparkan bahwa yang dapat dibaptis hanyalah manusia yang belum dibaptis. Seorang calon baptis dewasa hruslah terlebih dahuu menyatakan imannya, mendapat pengajaran, teruji dalam hidup kristiani, dan menyesali dosa- dosanya, kecuali orang yang berda dalam bahaya maut. Orang dewasa yang telah dibaptis jika tidak ada alasan berat yang merintanginya henaknya diberi penguatan dan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi para orang taua waib membaptis anaknnya pada minggu-minggu pertama kelahirannya. Bayi yang erada dalam bahaya maut hendaknya dibaptis tanpa menunda- nunda. Agar bayi dibaptis secara licit maka sekurang- kurangnya salah satu dari kedua orangtuanya mennyetujuinya, serta adanya harapan bahwa anak tersebut akan dididik secara katolik. Akan tetapi anak dari seorang yang bukan katolik dan tidak menyetujui pembaptisan tersebut pun akan dibaptis secara licit ketika ia berada dalam bahaya maut. Jika diragukan kesahan apakah seseorang telah dibaptis bahkan setelah penelitian maka baptis hendaknya diberikan secara bersyarat, sementara mereka yang telah dibaptis dalam jemaat gerejawi bukan katolik tidak boleh dibaptis secara bersyat, kecuali bila rumusan kata- kata, bahan,dan maksud dari baptisan yang telah diterimanya tersebut mengandung alasan serius agar baptisannya dapat diragukan. Bayi yang dibuang dan ditemukan hendaknya dibaptis, kecuali sesudah penelidikan dapat dipastikan bahwa ia telah dibaptis. Orang dewasa dan orangtua dari anak yang diragukan keabsahan baptisannya haruslah menerima pengajaran/ uraian mengenai sakramen baptis dan hal- hal yang telah menimbulkan keraguan akan keabsahan dari pembptisan yang telah diterimanya.

4) Hukum mengenai wali baptis dipaparkan bahwa seorang calon baptis sedapat mungkin harus diberi wali baptis yang bertanggung jawab agar oranng yang diwalikan kepadanya menghayati hidup kristiani yang sesuai dengan baptisan dan memenuhi dengan setiakewajiban- kewajiban yang melekat pada baptisan itu. Selain itu, seorang wali baptis juga adalah seorang yang ditunjuk oleh calon baptis/ orang tua calon baptis/ orang mewakili/ oleh pastor paroki, dan cakap dalam melaksanakan hal tersebut, berumur genap enam belas tahun (kecuali dalam situasi tertentu), telah menerima sakramen penguatan dan ekaristi serta hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya, tidak terkena suatu hukum kanonik, dan bukan ayah atau ibu dari calon baptis. Sementara seseorang yang dibaptis dalam suatu jemaat gerejawi bukan katolik hanya diizinkan menjadi seorang saksi baptis.

5) Hukum mengenai pembuktian dan pencatatan baptis yang telah diberikan memaparkan peraturannya bahwa seorang imam ketika menemui tidak tersedianya seorang wali baptis haruslah mengusahakan seorang saksi bagi seorang calon baptis yang akan dibaptisnya, yang kemudian jika terjadi suatu hal berkaitan dengan diri penerima maka saksi baptisnya akan memberikan pembuktian akan apa yang telah disaksikannya. Kemudian ialah bahwa imam tersebut harus mencatat dengan teliti siapa yang menjadi pelayan, orang tua, wali, saksi, serta tempat dan tanggal pembaptisan. Adapun anak yang lahir dari seorang ibu yang tidak bersuami dan anak angkat pencatatannya haruslah berdasarkan atas kesepakatan dari kedua belah pihak yang disertai du orang saksi. Jika pembaptisan tidak dilakukan oleh seorang imam maka pelayan baptis tersebut harus memberitahukannya kepada pastor proki untuk kemudian dicatat kedalam buku permandian.

2.6 Sakramen Baptis Menurut Katekismus Gereja Katolik
1213. Pembaptisan suci adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam roh [vitae spiritualis ianua] dan menuju Sakramen-sakramen yang lain. Oleh Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah; kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusannya Bdk. Konsili Firense: DS 1314; CIC, cann. 204 ?1; 849; CCEO, can. 675 ?1.: “Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dalam Sabda” (Catech. R. 2,2,5).

1214. Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani “baptizein”] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12. sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).
1215. Sakramen ini juga dinamakan “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3: 5).
1216. “Pembaptisan ini dinamakan penerangan, karena siapa yang menerima pelajaran [katekese] ini, diterangi oleh Roh” (Yustinus, apol. 1,61,12). Karena di dalam Pembaptisan ia telah menerima Sabda, “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh 1:9), maka orang yang dibaptis itu, setelah “menerima terang” (Ibr 10:32) menjadi putera “terang” (1 Tes 5:5), ya malah menjadi “terang” itu sendiri (Ef 5:8).
“Pembaptisan adalah anugerah Allah yang paling indah dan paling mulia…. Kita menamakannya anugerah, rahmat, pengurapan, penerangan, busana kebakaan, permandian kelahiran kembali, meterai, dan menurut apa saja yang sangat bernilai. Anugerah, karena ia diberikan kepada mereka. yang tidak membawa apa-apa; rahmat, karena ia malah diberikan kepada orang yang bersalah; pembaptisan, karena dosa dikuburkan di dalam air; pengurapan, karena ia adalah kudus dan rajawi (seperti orang yang diurapi); penerangan, karena ia adalah terang yang bersinar; busana, karena ia menutupi noda-noda kita; permandian, karena ia membersihkan; meterai, karena ia melindungi kita dan merupakan tanda kekuasaan Allah” (Gregorius dari Nasiansa, or. 40, 3-4).
1217. Waktu pemberkatan air pembaptisan dalam liturgi Malam Paska, Gereja memperingati secara meriah peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah keselamatan yang sudah menunjuk kepada misteri pembaptisan:
“Allah, kekuasaan-Mu yang tidak kelihatan mengerjakan keselamatan umat manusia oleh tanda yang kelihatan. Dengan aneka ragam cara Engkau telah memilih air, supaya ia menunjuk kepada rahasia Pembaptisan” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1218. Sejak awal dunia, air – makhluk yang sederhana, tetapi mengagumkan ini – adalah sumber kehidupan dan kesuburan. Menurut Kitab Suci ia seakan-akan dinaungi oleh Ron Kudus Bdk. Kej 1:2.:
“Sudah sejak awal ciptaan Roh melayang-layang di atas air dan memberi kekutan kepadanya, supaya menyelamatkan dan menguduskan” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1219. Gereja memandang bahtera Nuh sebagai pratanda keselamatan oleh Pembaptisan. Di dalam bahtera Nuh hanya “sedikit yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu” (1 Ptr 3:20):
“Malahan air bah adalah tanda Pembaptisan, karena air membawa keruntuhan bagi dosa dan satu awal baru untuk kehidupan kudus” (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1220. Air dari mata air adalah- lambang kehidupan, air laut lambang kematian. Oleh karena itu, air juga dapat menunjuk kepada misteri salib. Atas dasar lambang ini lalu Pembaptisan merupakan satu keikutsertaan di dalam kematian Kristus.

1221. Terutama penyeberangan melalui Laut Merah – pembebasan Israel yang sebenarnya dari perhambaan Mesir – menyatakan pembebasan yang dilaksanakan oleh Pembaptisan:
“Ketika anak-anak Abraham, setelah dibebaskan dari perhambaan Firaun, melewati Laut Merah dengan kaki kering, mereka adalah pratanda bagi umat beriman, yang oleh air pembaptisan dibebaskan dari perhambaan yang jahat” (MR. Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).
1222. Akhirnya pratanda Pembaptisan juga adalah penyeberangan sungai Yordan, yang olehnya Umat Allah menerima hadiah tanah, yang dijanjikan kepada keturunan Abraham – satu pratanda kehidupan abadi. Janji akan warisan yang membahagiakan ini terpenuhi dalam Perjanjian Baru.
1223. Semua pratanda Perjanjian Lama mendapatkan penyempurnaannya di dalam Yesus Kristus. Ia memulai kehidupan-Nya di depan umum sesudah Pembaptisan-Nya di sungai Yordan Bdk. Mat 3:13 par.. Setelah kebangkitan-Nya Ia memberi perutusan kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20) Bdk. Mrk 16:15-16.
1224. Untuk “menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15) Tuhan kita telah menerima dengan sukarela pembaptisan oleh Yohanes, yang ditentukan untuk para pendosa. Dalam tindakan ini terlihatlah “pengosongan diri” Yesus Bdk. Flp 2:7.. Roh, yang melayang-layang di atas air penciptaan pertama, turun ke atas Kristus, untuk menunjukkan penciptaan baru, dan Bapa memberi kesaksian tentang Yesus sebagai “Putera-Nya yang kekasih” (Mat 3:17).

1225. Di dalam Paska-Nya Kristus telah membuka sumber-sumber Pembaptisan untuk semua manusia. Ia berbicara mengenai kesengsaraan-Nya, yang akan Ia alami di Yerusalem, sebagai satu “pembaptisan”, yang dengannya Ia harus “dibaptiskan” (Mrk 10:38) Bdk. Luk 12:50.. Darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang tertikam Bdk. Yoh 19:34., merupakan gambaran asli Pembaptisan dan Ekaristi, Sakramen kehidupan baru Bdk. 1 Yoh 5:6-8.. Dengan demikian kita dimungkinkan untuk “dilahirkan dalam air dan Roh”, supaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:5):
“Lihatlah, di mana engkau dibaptis, dari mana Pembaptisan datang, kalau bukan dari salib Kristus, dari kematian Kristus. Di dalamnya terletak seluruh misteri: Ia telah menderita untuk engkau. Di dalam Dia engkau telah ditebus, di dalam Dia engkau telah diselamatkan (Ambrosius, sacr. 2,6).
1226. Pada hari Pentekosta, Gereja sudah merayakan dan menerimakan Pembaptisan kudus. Santo Petrus berkata kepada rakyat, yang sangat terharu oleh khotbahnya: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Para Rasul dan rekan kerjanya menawarkan Pembaptisan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus: orang Yahudi, orang yang takut akan Allah, dan orang kafir Bdk. Kis 2:41; 8,12-13; 10:48; 16:15.. Pembaptisan selalu dihubung-hubungkan dengan iman: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”, demikian perkataan santo Paulus kepada kepala penjaranya di Filipi. Dan “seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis” (Kis 16:31.33).
1227. Menurut santo Paulus, seorang yang percaya diikutsertakan di dalam kematian Kristus oleh Pembaptisan; ia dimakamkan bersama Dia dan bangkit bersama Dia.
“Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4) Bdk. Kol 2:12.
1228. Jadi, Pembaptisan adalah permandian dalam air, di mana “benih yang tidak fana”, yakni Sabda Allah, menghasilkan daya yang menghidupkan Bdk. 1 Ptr 1:23; Ef 5:26.. Santo Agustinus mengatakan tentang Pembaptisan: “Perkataan ditambah pada unsur [materi], dan terjadilah Sakramen” (ev. Jo. 80,3).
1229. Orang menjadi Kristen – sudah sejak zaman para Rasul – dengan mengikuti jalan inisiasi dalam beberapa tahap. Jalan ini dapat ditempuh cepat atau perlahan. Tetapi ia harus selalu mempunyai beberapa unsur hakiki: pewartaan Sabda, penerimaan Injil yang menuntut pertobatan, pengakuan iman, Pembaptisan itu sendiri, pemberian Roh Kudus, dan penerimaan ke dalam persekutuan Ekaristi.
1230. Inisiasi ini, dalam peredaran waktu dan sesuai dengan pelbagai situasi, dilaksanakan atas cara berbeda. Dalam abad-abad pertama Gereja, inisiasi Kristen ini mengalami pengembangan yang luas: waktu yang lama untuk katekumenat, dan satu deretan ritus, yang menandakan jalan persiapan secara liturgis, akhirnya mengantar ke perayaan Sakramen-sakramen inisiasi Kristen.
1231. Ditempat dimana Pembaptisan anak-anak sudah menjadi bentuk yang sangat biasa untuk pemberian Pembaptisan, perayaan ini sangat dipersingkat menjadi satu upacara, yang mencakup juga tahap-tahap awal menuju inisiasi Kristen dalam bentuk sangat singkat. Pembaptisan anak-anak menuntut dengan sendirinya katekumenat sesudah Pembaptisan. Pada kesempatan itu tidak hanya diperhatikan pengajaran iman yang perlu sesudah Pembaptisan, tetapi juga pengembangan rahmat Pembaptisan dalam perkembangan pribadi orang yang dibaptis. Di sinilah pelajaran katekese mendapat tempatnya.
1232. Konsili Vatikan II mengadakan kembali “katekumenat bertahap untuk orang dewasa” dalam Gereja Latin (SC 64). Ritusnya dapat ditemukan dalam Ordo Initiationis Christianae Adultorum (1972). Di samping itu Konsili memperbolehkan, supaya “di daerah-daerah misi… dimasukkan juga unsur-unsur inisiasi yang terdapat sebagai kebiasaan pada masing-masing bangsa, sejauh itu dapat disesuaikan dengan upacara kristiani” (SC 65) Bdk. SC 37-40. 1204
1233. Dalam segala ritus Latin dan Gereja Timur dewasa ini, inisiasi Kristen untuk orang dewasa mulai dengan penerimaan ke dalam katekumenat, sampai memuncak dalam perayaan ketiga Sakramen, – Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi – dalam satu upacara Bdk. AG 13; CIC, cann. 851; 865; 866.. Dalam ritus Gereja Timur inisiasi Kristen untuk anak-anak mulai dengan Pembaptisan, yang langsung disusul oleh Penguatan dan penerimaan Ekaristi. Sedangkan dalam ritus Roma inisiasi berjalan terus selama tahun-tahun katekumenat, supaya kemudian diselesaikan oleh penerimaan Penguatan dan Ekaristi, puncak inisiasi Kristen Bdk. CIC, cann. 851,20; 868.
1234. Arti dan rahmat Sakramen Pembaptisan tampak dengan jelas dalam ritus perayaan. Kalau umat beriman dengan penuh perhatian mengikuti perbuatan dan perkataan dari perayaan ini mereka diantar ke dalam kekayaan-kekayaan, yang ditandakan dan dikerjakan Sakramen ini dalam tiap penerima baptis yang baru.
1235. Tanda Salib pada awal perayaan menyatakan bahwa Kristus mengukir tanda-Nya pada orang yang akan bergabung dengan-Nya. Ia menandakan rahmat penebusan, yang Kristus telah beroleh bagi kita dengan salib-Nya.
1236. Pewartaan Sabda Allah menerangi penerima baptis dan jemaat oleh kebenaran yang diwahyukan dan memancing jawaban iman. Iman tidak dapat dipisahkan dari Pembaptisan. Pembaptisan itu atas cara yang khusus adalah “Sakramen iman”, karena melalui dia orang masuk secara sakramental ke dalam kehidupan iman.
1237. Karena Pembaptisan adalah tanda pembebasan dari dosa dan penggodanya, ialah setan, maka diucapkan satu atau beberapa eksorsisme ke atas orang yang dibaptis. Selebran mengurapi orang yang dibaptis atau meletakkan tangan di atasnya; sesudah itu orang yang dibaptis dengan tegas menyangkal setan. Dengan persiapan ini, ia dapat mengakui iman Gereja, yang dipercayakan kepadanya melalui Pembaptisan Bdk. Rm 6:17.
1238. Air pembaptisan diberkati dengan doa epiklese pada perayaan pembaptisan itu sendiri atau pada malam Paska. Gereja berdoa kepada Allah supaya kekuatan Roh Kudus turun ke atas air ini melalui Putera-Nya, sehingga semua orang yang menerima Pembaptisan di dalamnya, “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:5).
1239. Sesudah itu menyusul ritus inti dari Sakramen ini: pembaptisan yang sebenarnya. Ia menandakan dan benar-benar menyebabkan kematian terhadap dosa serta menghantar masuk ke dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, karena orang yang dibaptis itu diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus. Atas cara yang paling nyata pembaptisan dilaksanakan melalui pencelupan ke dalam air pembaptisan sebanyak tiga kali. Tetapi sudah sejak zaman Kristen purba ia juga dapat diterimakan, dengan menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepala orang yang dibaptis.
1240. Dalam Gereja Latin pemberi Pembaptisan berkata : “N. aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, sambil mencurahkan air sebanyak tiga kali. Di dalam ritus Gereja Timur katekumen menghadap ke timur dan imam berkata: “Pelayan Allah N. dibaptis atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Dan setiap kali, ia mengucapkan nama seorang dari Tritunggal Mahakudus, ia mencelupkan orang yang dibaptis itu ke dalam air dan mengeluarkannya lagi.

1241. Pengurapan dengan minyak krisma yang kudus – satu minyak wangi yang diberkati Uskup – berarti bahwa Roh Kudus diserahkan kepada yang baru dibaptis. Ia menjadi seorang Kristen, artinya seorang yang “diurapi” oleh Roh Kudus, digabungkan sebagai anggota dalam Kristus, yang telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja Bdk. OBP 62.
1242. Dalam liturgi Gereja-gereja Timur pengurapan sesudah pembaptisan adalah Sakramen Krisma (Penguatan). Dalam Liturgi Roma ia menunjuk kepada pengurapan kedua dengan krisma kudus, yang akan diberikan Uskup: Sakramen Penguatan, yang dalam arti tertentu “menguatkan” dan menyelesaikan urapan Pembaptisan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Validitas dan Dampak Dari Sakramen Baptis
Sebagaimana efek dari sakramen-sakramen timbul secara ex opere operato (oleh kenyataan bahwa sakramen-sakramen tersebut dilayankan). Karena Kristus sendiri yang bekerja melalui sakramen-sakramen, maka efektivitas sakramen-sakramen tidak tergantung pada kelayakan si pelayan, demikianpun halnya sakramen baptis. Kisah Namun demikian, sebuah pelayanan sakramen yang dapat dipersepsi akan invalid jika:
1) orang yang bertindak selaku pelayan tidak memiliki kuasa yang diperlukan untuk itu, misalnya jika seorang diakon merayakan Misa.
2) “materi” atau “formula”nya kurang sesuai dari pada yang seharusnya. Materi adalah benda material yang dapat dipersepsi, seperti air (bukannya anggur) dalam pembaptisan atau roti dari tepung gandum dan anggur dari buah anggur (bukannya kentang dan bir) untuk Ekaristi, atau tindakan yang nampak. Formula adalah pernyataan verbal yang menyertai pemberian materi, seperti “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”.
3) Si pelayan positif mengeluarkan beberapa aspek esensial (pokok) dari sakramen yang dilayankannya, maka sakramen tersebut invalid.
4) Syarat terakhir berada di balik penilaian Tahta Suci pada tahun 1896 yang menyangkal validitas imamat Anglikan.
Sebuah sakramen dapat dilayankan secara valid, namun tidak sah, jika suatu syarat yang diharuskan oleh hukum tidak dipenuhi. Kasus-kasus yang ada misalnya pelayanan sakramen oleh seorang imam yang tengah dikenai hukuman ekskomunikasi atau suspensi, dan pentahbisan uskup tanpa mandat dari Sri Paus.
Hanya Tahta Suci yang secara otentik dapat mengeluarkan pernyataan bilamana hukum ilahi melarang atau membatalkan suatu pernikahan, dan hanya Tahta Suci yang berwenang untuk menetapkan bagi orang-orang yang sudah dibaptis halangan-halangan pernikahan (kanon 1075). Adapun masing-masing Gereja Katolik Ritus Timur, setelah memenuhi syarat-syarat tertentu termasuk berkonsultasi dengan (namun tidak harus memperoleh persetujuan dari) Tahta Suci, dapat menetapkan halangan-halangan (Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur, kanon 792).
Jika suatu halangan timbulnya hanya karena persoalan hukum Gerejawi belaka, dan bukannya menyangkut hukum ilahi, maka Gereja dapat memberikan dispensasi dari halangan tersebut.
Pembaptisan adalah salah satu dari tiga sakramen yang efeknya bersifat permanen. Ajaran ini telah diekspresikan dengan citra-citra dari karakter atau tanda, dan di Timur dengan sebuah meterai (KGK 698). Akan tetapi, jika ada keraguan mengenai validitas dari pelayanan satu atau lebih sakramen-sakramen tersebut, maka dapat digunakan suatu formula kondisional pemberian sakramen misalnya: “Jika engkau belum dibaptis, aku membaptis engkau …”
Sakramen baptis dalam pelayanan biasanya dilayankan oleh seorang uskup, imam atau diakon, yang biasanya dikhususkan bagi imam paroki setempat. Namun dalam keadaan darurat, sakramen ini memiliki pelayan luar biasa yang boleh dilakukan oleh umat awam yang didelegasikan oleh uskup, atau siapapun.
Materia adalah berupa;
1. Air melambangkan pembersihkan dari dosa dan penyasatuan sebagai anggota gereja.
2. Lilin yang melambangkan terang Kristus, agar orang yang dibaptis dapat menjadi terang bagi umat orang – orang disekitarnya.
3. Kain putih melambangkan kehidupan baru di dalam Kristus.
4. Serta Minyak Krisma sebagai lambang pengurapan dan penguatan iman.
Baptisan memiliki enam efek utama, yang semuanya adalah rahmat adikodrati:
1) Penghapusan kesalahan baik dosa asal (dosa disampaikan kepada seluruh umat manusia oleh Kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden) dan dosa pribadi (dosa yang didalamnya kita telah berkomitmen).
2) Pengampunan hukuman atas semua hutang karena dosa- dosa kita, baik temporal (di dunia ini dan di Api Penyucian) dan abadi (hukuman bahwa kita akan menderita di neraka).
3) Bentuk rahmat pengudusan (kehidupan Allah dalam diri kita) dengan tujuh karunia Roh Kudus , dan tiga kebajikan teologis .
4) Menjadi bagian dari Kristus.
5) Menjadi bagian dari Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus di bumi.
6) Mengaktifkan partisipasi dalam sakramen, imamat semua orang percaya, dan pertumbuhan dalam kasih karunia.
3.2 Sejarah Perkembangan Ritus Pembaptisan
Seperti sebuah karya seni yang telah diperbaiki, difernis sampai beberapa kali dan kadang kala sedikit disalahgunakan, ritus Sakrament Pembaptisan dalam Gereja Kristen juga telah mengalami perubahan selama berabad-abad dengan alasan dan latar belakang tertentu. Namun demikian, perubahan ritus itu tetap tidak mengubah hakekat Pembaptisan sebagai Sakrament tanda kelahiran baru seseorang ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. Tapi dewasa ini Gereja dihimbau untuk kembali ke ritus pembaptisan yang dipraktekkan oleh Gereja Kristen pada abad-abad pertama yaitu pembaptisan dengan dengan “mencelupkan” seorang catechumen ke dalam kolam air. Karena ritus pembaptisan seperti ini dirasa lebih efektif mengungkapkan peristiwa “kelahiran baru” seseorang ke dalam Karajaan Allah yang dimasukinya melalui Sakramen Permandian. Tapi demi alasan praktis, Gereja tetap diijinkan untuk memakai ritus pembaptisan sederhana dengan “menuangkan sedikit air pada kepala”. Maka untuk lebih mamahami hal ini, mari kita kembali menengok sejarah Gereja seputar ritus sakramen permandian.

Dalam bab pertama Injil Markus, seperti telah diramalkan Nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis tampil di padang gurung sambil memaklumkan sebuah “pembaptisan pertobatan” demi pengampunan atas dosa. Orang banyak berkerumun mendengar kothbah Yohanes Pembaptis yang berkobar-kobar. Mereka berbondong-bondong ke Sungai Yordan dan memberi diri mereka untuk disucikan (Kata pembaptisan sendiri berasal dari kata Yunani “bapizo” yang berarti “membasuh atau mencelupkan atau menenggelamkan”).

Markus menceriterakan bahwa Yesus juga kemdian datang kepada Yohanes dan dibaptis. Ketika Ia keluar dari air, Ia melihat surga terbuka dan Roh Kudus dalam rupa seekor burung merpati turun ke atasNya. Dan Ia mendengar suara dari atas yang mengatakan:”Engkaulah PuteraKu yang terkasih; kepadamu aku berkenan.”

Penginjil Markus kemudian melanjutkan ceriteranya dengan mengatakan bahwa segera setelah peristiwa permandian di Sungai Yordan, Yesus dibawa Roh Allah ke padang gurun and tinggal di sana untuk berdoa dan berpuasa 40 hari lamanya, sambil digodai iblis. Setelah berdoa dan berpuasa, Yesus mulai menjalankan perutusanNya di depan umum.

Lima belas bab kemudian, pada bagian akhir dari Injilnya, Penginjil Markus kembali mencatat kata-kata terakhir Yesus kepada kesebelas rasul (dikurangi Yudas Iskariot yang telah mengkianati Yesus): “Pergilah ke seluruh bumi dan wartakanlah Injil…Barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan.”

Kalau kita meneliti Kitab Suci Perjanjian Baru (PB) maka kita akan menemukan kenyataan bahwa Kitab Suci PB tidak menceriterakan “bagaimana para Rasul membaptis”. Tapi ahli sejarah Gereja berpendapat bahwa kemungkinan besar seorang calon permandian berdiri di air sungai atau di sebuah kolam umum, dan kemudian air dituangkan ke atas kepalanya, sambil ditanyakan kepadanya: Apakah saudara (saudari) percaya kepada Allah Bapa? Apakah saudara percaya akan Allah Putera, yaitu Yesus Kristus? Apakah saudara percaya akan Allah Roh Kudus? Setiap kali calon menjawab “ya” atas masing-masing pertanyaan itu, ia ditenggelamkan (dicelupkan ) ke dalam air sebanyak tiga kali juga.

Tentang hal ini, Yustinus Martir (100-165 AD) menulis demikian:
“Calon permandian berdoa dan berpuasa.
Komunitas beriman berdoa dan berpuasa dengan dia.
Calon permandian masuk ke dalam air.
Petugas Gereja mengajukan kepadanya tiga pertanyaan Trinitaris.
Calon sekarang diperkenalkan kepada komunitas umat beriman.
Doa umat kemudian disampaikan oleh semua untuk yang baru saja dibaptis.
Ciuman tanda kasih dan damai diberikan kepadanya oleh semua umat beriman.
Lalu Ekaristi kudus dirayakan.”

Setengah abad kemudian, pujangga Gereja Tertulianus menjelaskan lebih detail lagi. Ia mulai menyebut adanya “pengurapan” minyak suci, “tanda salib” dan “penumpangan tangan” atas calon permandian.

Untuk orang-orang yang hidup pada tiga abad yang pertama sesudah Yesus, langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum dibaptis tidak terlalu gampang. sering mereka diarahkan kepada kemartiran.

Sebelum Kaisar Romawi Konstantinus mengumumkan pada tahun 313 bahwa Gereja Kristen bukan lagi sebuah agama ilegal, maka setiap orang, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang menggabungkan diri menjadi orang Kristen dipandang sebagai sebagai penjahat dan dihukum dengan sangat keji. Ingat sejarah Gereja. Selama tiga abad pertama orang-orang Kristen dianiaya dan dibunuh oleh pemerintahan kafir Romawi. Orang Romawi pada masa itu mempunyai agama sendiri dengan pusat kultus penyembahan kepada dewa-dewi. Orang Kristen yang tidak menyembah dewa-dewi sembahan kaisar dianggap kafir, kriminal, melawan kaisar dan mereka dihukum dengan sangat keji seperti digantung hidup-hidup dikayu salib, dibakar hidup-hidup, digoreng dan direbus hidup-hidup, dilempar hidup-hidup ke dalam kandang singa yang sengaja tidak diberi makan berhari –hari supaya mereka lapar betul dan makan orang Kristen.

Kemungkian besar Gereja waktu itu menyusun sebuah proses perkenalan kepada orang yang baru bergabung ke dalam komunitas umat beriman. Gereja (umat beriman) butuh waktu untuk mengenal dan percaya kesungguhan hati setiap calon permandian sebelum mereka dipermandikan (sama seperti si calon permadian juga butuh waktu untum memperlajari lebih tentang Gereja yang merupakan agama “di bawah tanah” pada masa itu).

Ada suatu alasan mengapa calon permandian membutuhkan sponsor (wali permandian, bapa-ibu permandian), yaitu seorang anggota komunitas beriman yang menjamin si calon permandian. Sponsorlah yang bertugas pergi menghadap uskup dan membuktikan kepadanya bahwa calon permandian merupakan seorang yang sungguh baik. Lalu, selama bertahun-tahun sponsor bekerja, berdoa dan berdoa bersama anak/orang didikannya sampai pada hari pembaptisan tiba.

Pada waktu itu, masa katekumen (dari bahasa Yunani yang berarti “instruction” atau pelajaran) terdiri atas dua bagian.

Bagian pertama adalah sebuah “masa persiapan rohani” yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Bagian kedua adalah masa persiapan akhir menjelang permbaptisan. Bagian ini dimulai pada masa Puasa dan kegiatannya terdiri atas doa-doa yang rutin, puasa, dan penelitian kelayakan sang calon permandian oleh uskup.

Kemudian si calon dibawa ke depan uskup dan para imam, sementara sang sponsor ditanyai. jika sponsor bisa menjamin bahwa sang calon tidak mempunyai tabiat buruk yang serius (seperti mabuk, tiak menghormati orangtua dan lain-lain) uskup kemudian mencatat nama calon ke dalam buku baptis.

Calon tidak diijinkan untuk mengambil bagian secara penuh dalam perayaan misa kudus. Setelah Liturgi Sabda (sesudah homili) seorang calon permandian diminta untuk meninggalkan Gereja atau tempat berlangsungnya perayaan misa kudus. Para calon hanya diijinkan untuk mendengar Credo dan doa Bapa Kami dan menghafalnya secara diam-diam.

Puncak dari upacara itu dimulai pada Hari Kamis Suci dengan sebuah wadah pemandian sebagai sarana penyucian rohani. Calon kemudian berdoa dan berpuasa keras pada Hari Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Pada malam hari Sabtu Suci, calon permandian laki-laki dan wanita ditempatkan di ruangan yang terpisah dan gelap. di ruangan yang gelap ini, setiap calon berdiri sambil menghadapkan wajah ke arah barat (barat dianggap simbol kegelapan dan setan, karena matahari terbit di timur). Seorang diakon akan meminta para calon untuk merentangkan lengan mereka dan menghembuskan nafas untuk mengeluarkan semua roh yang tidak baik dari dalam tubuh, sambil berkata: “Saya melepaskan diri dari kau, setan, dari kungkunganmu, dari segala pernyembahan terhadapmu dan semua malaikatmu yang jahat.” Lalu sesudah itu, sambil memutarkan badan ke arah timur, para calon berseru: “Sekrang saya menyerahkan diriku kepadaMu, O Yesus Kristus.” Berdasarkan ini, bertobat kemudian harafiah berarti “memutar haluan” (turning around).

Sampai di sini, para calon kemudian menurunkan tangan dan lengan mereka, dan uskup lalu mengurapi kepala mereka masing-masing dengan minyak. Ini adalah lambang meterai Kristus. Sekarang secara rohani mereka ditandai, sama seperti seorang gembala menandai (mencap) kawanan ternaknya.

Sesudah itu setiap kelompok akan pergi ke ruang lain dan menanggalkan pakaian mereka. Peristiwa “penanggalan pakaian” ini melambakan “penanggalan manusia lama dari seseorang” (taking off the old self) dan kembali ke keadaan murni taman Eden sebelum munusia pertama jatuh ke dalam dosa dan lebih dari itu ada kepercayaan orang pada masa itu bahwa roh-roh jahat sering melekat pada pakaian seseorang seperti kutu busuk.

Lalu dalam keadaan “telanjang” dan terpisan menurut jenis kelamin, para calon dihantar ke tempat permandian. Setiap calon masuk ke dalam air yang dalamnya sampai setinggi dada dan uskup akan berlutut di samping kolam air. uskup lalu dengan halus menekan kepada calon ke dalam air sampai tiga kali, sambil mempermandikan (menuangkan air) mereka satu persatu di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Setelah orang Kristen yang baru dipermandikan itu keluar dari air dan setelah tubuh mereka dilap, mereka diberi pakaian baru berbentuk kain linen putih yang mereka pakai sampai minggu berikut. Setiap anggota baru dari komunitas umat beriman dibagikan sebuah lilin bernyala dan ciuman tanda kasih dan damai.

Setelah semua calon dibaptis, mereka merayakan Ekaristi dengan seluruh komunitas umat beriman. Untuk pertama kali, orang yang baru dibaptis mengambil bagian secara penuh dalam seluruh misa dan menerima Komuni Kudus.

Kemudian hari, aspek kerahasiaan dan kesedian calon untuk mengorbankan hidupnya untuk mati demi Kristus menjadi pudar setelah Gereja Kristen diterima sebagai agama resmi Kekaisaren Roma pada awal abad IV. Lebih dari itu, sejak Gereja Kristen diakui sebagai agama resmi dari negara, menggabungan diri ke dalam Gereja merupakan suatu kebijakan politis.

Penting untuk diingat bahwa doktrin tentang Sakramen Pembaptisan kemudian berkembangan seturut perkembangan zaman. Tidak terlalu mudah, misalnya, untuk menentukan apa yang harus dibuat dengan orang-orang yang melakukan dosa berat setelah pembaptisan atau dengan orang-orang yang menyangkap iman mereka, lalu kemudian bertobat lagi dan minta diterima lagi ke dalam komunitas umat beriman.

Salah satu dari masalah-masalah itu adalah masalah peranan pembaptisan bayi. Para ahli Kitab Suci mengandaikan bahwa ketika “seluruh rumahtangga” dipermandikan, permandian itu termasuk anak-anak, bahkan yang paling kecil sekalipun (bayi). Tapi sekali lagi, oleh karena perkembangan refleksi iman/teologi, seperti penjelasan St. Agustinus tentang Dosa Asal pada abad V, yang akhirnya membuat permandian bayi menjadi amat populer dan dominan. Pada point ini, Pembaptisan tidak lagi dilihat terutama sebagai awal dari kehidupan moral, tapi lebih ditekankan sebagai jaminan untuk diterima di dalam kerajaan surga setelah kematian.

Pada awal Abad Pertengahan, ketika seluruh suku di Eropa utara bertobat dan seluruh suku (sering jumlahnya sampai ribuan) harus dibaptis secara serempak jikalau kepala suku atau raja mau masuk Kristen. Dalam keadaan seperti itu, sebuah ritus (tata upacara) yang lebih sederhana, praktis dan cepat, amat dibutuhkan. Sampai pada akhir abad VIII, upacara permandian yang sebelumnya panjang dan berlangsung selama berminggu-minggu telah dibuat sangat singkat. Anak-anak menerima upacara pengusiran roh jahat selama tiga kali pada minggu-minggu sebelum Paska dan Sabtu Suci. Setelah air pembaptisan dan bejana pembaptisan (bukan lagi kolam) diberkati, anak-anak kecil dicelupkan kepadanya ke dalam bejana air itu sampai tiga kali. Sesudah itu para imam mengurapi kepala mereka dengan minyak, uskup menumpangkan tangan ke atas mereka dan mengurapi mereka sekali lagi dengan minyak suci, dan mereka diberi Komuni Kudus dalam perayaan misa Kudus.

Ritus kemudian terus dibuat semakin singkat ketika kebiasaan bayi menerima komuni suci pada waktu permandian dihapus oleh Konsili Trente pada tahun 1562.

Dan karena Pembaptisan sekarang dilihat sebagai kunci untuk diterima dalam kerajaan surga, Gereja kemudian menawarkan sebuah ritus darurat yang pendek untuk bayi-bayi yang berada dalam bahaya kematian. Sebelum awal abad XI sejumlah uskup mengingatkan bahwa bayi kemungkian besar selalu berada dalam bahaya kematian yang tiba-tiba dan karena itu mereka mendorong para orangtua untuk tidak menunggu sampai perayaaan besar pada Hari Sabtu suci untuk mempermandikan bayi-bayi mereka.
Sebelum abad XIV, perayaan pembaptisan pada hari Sabtu Paska benar-benar sudah hilang, kecuali upacara pemberkatan bejana dan air, dan ritus permandian yang lama dipersingkat lagi dan hanya dibuat sebagai upacara kecil waktu imam masuk Gedung Gereja.
Sejak masa ini pembaptisan hanya disaksikan oleh anggota keluarga inti dan sejumlah kecil kaum kerabat, daripada disaksikan oleh seluruh komunitas umat beriman (seperti sebelumnya). Ketimbang mencelupkan bayi-bayi ke dalam kolam air, para imam hanya menuangkan sedikit air ke atas kepala anak-anak.

Seiring dengan perjalanan sejarah, dan ritus pendek permandian yang semula disusun khusus hanya untuk bayi-bayi, yang berada dalam bahaya kematian, menjadi begitu universal, ritus permandian Gereja perdana (abad I sampai III) semakin lama semakin dilupakan. Tapi kemudian pada akhir tahun 1950-an para ahli sejarah Gereja mulai meneliti dan studi kembali mengenai ritus-ritus Gereja abad pertama. Hasilnya adalah bahwa pada tahun 1969, sebuah ritus Pembaptisan untuk anak-anak (bayi), yang telah direvisi, diterbitkan. Sama seperti ritus Gereja perdana, ritus yang disempurnakan ini menekankan aspek kommunal dari perayaan sakramen-sakramen. Upacara pembaptisan dianjurkan untuk dibuat dalam rangkaian perayaan misa (seperti sakramen perkawinan). Ritusnya diperpanjang juga. Sekarang orangtua diharapkan menghadiri pembinaan (pendalaman) iman setiap kali anak mereka mau dipermandikan. Dan penekanan teologis bergeser dari Pembaptisan sebagai “jaminan masuk surga” ke upacara permulaan masuk ke dalam kehidupan moral. Pada tahun 1980, sebuah dokument dari Vatikan menegaskan bahwa jika orangtua tidak menjamin dan tidak mau memastikan bahwa anak (bayi) mereka akan dibesarkan dalam iman Katolik, maka Pambaptisan sebaiknya ditunda sampai tidak ada batas waktu.

Setelah beberapa dekade berlalu, kita perlahan-lahan kembali kepada simbol-simbol, drama dan spiritutalitas komunal umat beriman yang merupakan ciri khas pembaptisan pada abad-abad pertama sejarah Gereja yang dirasa lebih efektif mengungkapkan makna permandian sebagai tanda kelahiran baru ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus, sambil tetap mengakui keabsahan pembaptisan dengan ritus yang sederhana dan singkat. Karena biar bagaimanapun bentuk, panjang atau pendeknya ritus Sakramen Permandian, hakekatnya tetapi sama dan sah sebagai tanda kelahiran baru.

3.3 Materai (character) Baptisan
Umumnya para pujangga gereja dan para teolog di zaman pertengahan berpendapat bahwa pembaptisan diluar gereja katolik roma memang sah, namun tidak memberikan Roh Kudus, pembenaran, dan pengudusan. Sementara itu, dilain pihak pembaptisan tidak diterimakan diulang.
Bagaimana dengan orang yang dibaptis secara sah diluar gereja katolik yang kemudian bergabung dengan gereja itu sendiri? Apakah pembaptisan yang diterimanya akan menghasilkan buah sebagaimana buah yang diperoleh pada baptisan yang diterimakan oleh gereja katolik?
St. Agustinus menjelaskan hal ini dengan gambaran materai (Agustinus, contra cresconium donatistam 2,13.28-29), yang tentunya mau menyatakan bahwa pembaptisan tidak dapat diulang. Hal inipulalah yang kemudian coba dijelaskan pula oleh Petrus Cantor, petrus lombardus, dan paus Inosentius III(DS 781)
Materai tersebut dinilai sebagai sesuatu yang terselip diatara sakramen (upacara/ sacramentum tamtum) dan buah-buah hasil sakramen (rahmat/ restantum). Dengan demikian, maka materai itu dapat dapat dihasilkan oleh sakramen baptis, sedangkan rahmat tidak, oleh karena adanya halangan/ obex yang terdapat pada para penganut bidaah dan anggota gereja myang terpisah. Ketika penghalang tersebut diambil, maka rahmat diberikan berkat materai/ upacara yang telah ia terima. Maka materai itu disebut pula res sakramen. Tetapi oleh karena dilain pihak ketika materai itu seolah- olah berperan sebagai sakramen yang memberikan rahmat maka materai itu disebut pula sebagai res et sacramentum.
Thomas aquinas menyajikan suatu teologi agak lengkap mengenaimaterai yang inilai sebagai suatu kuasa (potestas) tetap yang menyanggupkan orang untuk berbakti (kultus) secara kristen dan beroleh pengudusan(consekratio) yang menjadikan seseorang milik Kristus.
Konsili florence 1439 umumnya mengambil alih sakramentologi Thimas Aquinas dan memaparkan materai (tiga sakramen) merupakan semacam tanda rohani yang tak terhapus dan diterakan pada jiwa dan membedakannya dengan orang lain(DS 1313), itulah yang menyebabkan sakramen tidak dapat diulang.
Perjanjian baru (2kor 1:22, Ef 1:13,4:30) menjelaskan bahwa sesungguhnya, materai yang dalam bahasa yunani dikenal sebagai spharagis adalah Roh Kudus. Roh Allah sendiri yang menjadi materai “cap” khusus bagi kehidupan jemaat kristen dalam “Roh” yang menjamin masa depan. Marerai adalah baptisan itu sendiri yang menjadikan seseorang milik Kristus yang tetap. Penulis kolose 2:11 sedikit menjurus kearah materai sebagaimana yang dipakai dalam teologi skolastik dengan membandingkan antara baptisan kristen dengan sunat yahudi sebagai tanda perjanjian Allah “dalam daging”(bdk Rm 4:11). Sementara Konsili Vatikan II (LG Nota Praevia 2) menyatakan materai lebih pada hubungannya dengan penyertaan (participatio) ontologis dalam tugas suci (munera sacra) Kristus. Maka materai baptis dapat dikatakan “adanya dibaptis, adanya secara kelihatan-sakramental, dimasukkannya seseorang kedalam jemaat Kristen yang tidak terhapuskan (indelebile).

3.4 Fenomena Baptisan Masa Kini
1) Baptisan Bayi
Fenomena membuktikan bahwa beberapa Gereja Protestan tidak dapat menerima praktek babtisan bayi. Dengan alasan bahwa Babtisan memerlukan pertobatan dan iman yang tidak bisa dilakukan oleh bayi dan anakkecil, serta tidak adanya dasar alkitab bagi babtisan bayi. Akan tetapi, hal yang juga perlu untuk kita ketahui ialah bahwa babtisan bayi lebih merupakan Tradisi Apostolik, sebab dasar Iman Katolik tidak hanya Alkitab tetapi juga Tradisi Apostolik dan Magisterium. Jika kita ingin mencari babtisan bayi dalam kitab suci hal itu memang sulit didapat karena dalam Kitab Suci tidak diungkapkan secara eksplisit mengenai babtisan bayi. Tetapi didalamnya, kita juga tidak menemukan larangan secara eksplisit agar anak-anak(bayi) dibabtis. Gereja mengimani bahwa babtisan melahirbarukan dan menghapus dosa asal, oleh karena itu maka Gereja tidak mengadakan larangan bayi dibabtis.
Lalu bagaimana dengan iman anak?? jawaban yang mudah adalah bahwa perkembangan iman anak adalah tanggung jawab orang tua. Sebab itu pulalah yang menjadi janji mereka ketika menikah, yakni untuk membesarkan anak-anak dalam iman katolik.
Kisah Para Rasul 2:38-39 mencatat perkataan Petrus ketika ia menjawapi pertanyaan orang-orang yang bertanya kepadanya mengenai pertobatan “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ ” disini jelas sekali ungkapan Petrus bahwa kita perlu bertobat dan dibabtis yang akhirnya kita mendapat buah dari babtisan itu yaitu menerima Karunia Roh Kudus (ayat 38) dan janji itu berlaku pula untuk anak-anak (bayi juga termasuk anak-anak) (ayat 39) tentunya juga dengan melakukan hal yang sama yaitu dibabtis.
Demikianpun Perjanjian Lama mencatat kan sebuah peraturan dasar yahudi dimana bayi harus disunat meskipun mereka tidak tahu apa-apa soal iman, lihat pada Kej 17:12, Im 2:21, Luk 2:21. Kolose 2:11-12 hendaknya menjelaskan akan hal ini, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” disin jelas bahwa Paulus mempararelkan antara Sunat dengan Babtisan. Kis16:15,33 mencatat pula sebuah fenomena pembaptisan dimana sebuah keluarga dibaptis dengan seisi rumahnya “ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya” (ayat 15) dan “Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (ayat 33). Kedua ayat ini tidak menututup kemungkinan akan adanya bayi dan ikut dibabtis karena sebelum atau sesudah ayat itu tidak ada kata “kecuali bayi atau anak-anak”.
Sementara itu, Pada abad ke II sudah ditemukan Babtisan bayi seperti St. Polikarpus, yang dibunuh sebagai martir pada tahun 155 M. Pada saat penguasa Romawi memaksa Polikarpus untuk menyangkal Yesus Kristus dan untuk menyembah kaisar Roma, ia berseru demikian, “Delapan puluh enam tahun saya menjadi hamba-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat yang tidak baik kepadaku, bagaimana mungkin saya dapat menghojat Rajaku yang telah menebusku?” Kesaksian ini berarti bahwa Polikarpus dibaptis sejak ia masih bayi atau kanak-kanak, yakni sekitar tahun 70-an. Hal ini tidak benar hanya jika Polikarpus sudah mencapai usia yang amat tinggi pada tahun 155 M itu, sehingga 86 tahun sebelumnya ia sudah dewasa dan baru dibaptis waktu itu.
Sementara KGK menyatakan:
Karena anak-anak dilahirkan dengan kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam Pembaptisan Bdk. DS 1514., supaya dibebaskan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah Bdk. Kol 1:12-14., ke mana semua manusia dipanggil. Dalam Pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita. Gereja dan orang-tua akan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran Bdk. CIC, can. 867; CCEO, cann. 681; 686,1.. 403, 1996 (KGK 1250)
Orang-tua Kristen harus mengerti bahwa kebiasaan ini sesuai dengan tugasnya, memajukan kehidupan yang Tuhan percayakan kepada mereka Bdk. LG 11; 41; GS 48; CIC, can 868.. (KGK 1251)

Adalah satu tradisi Gereja yang sangat tua membaptis anak-anak kecil. Dari abad kedua kita sudah memiliki kesaksian jelas mengenai kebiasaan ini. Barangkali sudah pada awal kegiatan khotbah para Rasul, bila seluruh “rumah” menerima Pembaptisan Bdk. Kis 16:15.33; 18:8; 1 Kor 1:16. anak-anak juga ikut dibaptis Bdk. CDF. Instr. “Pastoralis actio”.. (KGK 1252)
Berikut kesaksian para Bapa Gereja tentang Babtisan Bayi:
1) “Karena Ia [Yesus] datang untuk menyelamatkan semua melalui dirinya sendiri bagi semua, maka saya mengatakan, melalui Dia dilahirkan kembali dari Allah, bayi, dan anak-anak, pemuda, dan orang tua” (St Ireneus, Against Heresies,, 2 22, 4)

2) “Gereja yang diterima dari tradisi para Rasul memberikan Baptisan bahkan untuk bayi. Bagi para Rasul, kepada siapa itu diterimakan adalah rahasia misteri ilahi, tetapi kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki noda dosa bawaan, yang harus dibasuh melalui air dan Roh “(Origenes, Komentar Roma 5, 9).

3) “Baptisan bayi yang dimiliki Gereja, berpegang dan diterima dari iman nenek moyang kita; dan gereja akan dengan tekun menjaga bahkan sampai akhir” (Agustinus, Khotbah 11, De Verb Apost.)

4) “Siapakah yang begitu saleh untuk ingin mengecualikan bayi dari kerajaan surga dengan melarang mereka untuk dibaptis dan dilahirkan kembali dalam Kristus?” (Agustinus, 2 20).

5) Maka datanglah mereka membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus supaya Ia menyentuh mereka, dan ketika para murid melihat itu, murud – muridnya memarahi mereka. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata kepadanya, “Biarkan anak-anak datang kepada-Ku, dan jangan menghalangi mereka, karena untuk seperti milik Kerajaan Allah” (Luk 18:15-16). Dalam Gereja awal bagian ini dipahami sebagai perintah untuk membawa bayi kepada Kristus untuk dibaptis. Pertama kalinya bagian ini muncul dalam literatur Kristen (c. 200), yang digunakan dalam referensi untuk Baptisan Bayi (Tertullian, De Baptismo 18:5).

Berdosakah keluarga Katolik yang membiarkan anak-anaknya tidak dipermandikan supaya kelak kalau sudah dewasa dapat memilih sendiri agamanya?
Pertama, dalam pandangan Gereja, dengan menerima baptisan seseorang menjadi anggota Gereja dan menerima pengampunan atas dosa. Nah, pertanyaan berikut muncul: apakah bayi sudah mempunyai dosa? Seorang bayi memang belum melakukan dosa pribadi (peccatum morale), tetapi menurut iman Gereja, seorang bayi yang lahir dalam dirinya sudah membawa dosa Adam. Itulah yang sering disebut dengan dosa asal (peccatum originale). Oleh sebab itu, dalam baptisan bayi ada pengampunan dosa. Maka, Gereja yakin bahwa Gereja harus membaptis bayi.
Kedua, biasanya orang beranggapan bahwa iman merupakan sesuatu yang sangat pribadi, bukan urusan orang lain termasuk orangtua. Seorang bayi belum bisa membuat pengakuan yang bersifat pribadi itu. Anggapan ini memang ada benarnya, terlebih bagi mereka yang sangat mengagungkan otonomi dan kemandirian pribadi. Tetapi harus disadari, bahwa iman secara mendasar bukan hanya urusan pribadi melainkan kenyataan yang selalu terkait dalam hidup bersama dengan orang lain.
Iman Katolik bukan kenyataan yang melulu bersifat pribadi, melainkan iman yang berada dalam kerangka seluruh Gereja. Maka, biasanya kita sebut ”iman Gereja yang kita akui bersama”. Itu berarti, tindakan membaptis seorang bayi bukan merupakan kenyataan yang melanggar otonomi dan kemandirian pribadi, melainkan justru menghargai pribadi seorang bayi dan membiarkannya bertumbuh dalam kebersamaan dengan komunitas Gereja.
Ketiga, terkait dengan baptisan bayi, berlaku prinsip berikut: orangtua memilih yang terbaik untuk anak-anaknya. Analogi berikut ini barangkali bisa membantu. Sama sekali bukan melanggar kemandirian dan otonomi pribadi bayi jika orangtua memilih dan menentukan makanan dan pakaian yang cocok bagi bayinya. Justru orangtua yang bertanggung jawab haruslah memilih dan menentukan makanan dan pakaian apa yang cocok bagi bayi yang dikasihinya. Jika menerima baptisan merupakan sesuatu yang baik, maka orangtua yang bertanggung jawab pastilah memberikan dan mewariskan apa yang baik itu juga kepada anak. Tentu saja akan dipandang kurang tepat jika orangtua Katolik justru membiarkan anak-anaknya bertumbuh sampai dewasa untuk menentukan sendiriapakah menerima baptisan atau tidak.
Keempat, terkait dengan pembaptisan anak-anak, Katekismus Gereja Katolik berkata, ”Karena anak-anak dilahirkan dalam kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam pembaptisan, supaya dibebabkan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah, ke mana semua manusia dipanggil. Dalam pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita. Gereja dan orangtua dapat menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran (KGK No 1250).

Jelas, bahwa dengan baptisan seseorang memperoleh rahmat keselamatan. Oleh karena baptisan, seseorang diampuni dari semua dosa, dosa asal, semua dosa pribadi, dan siksa-siksa dosa. Dalam baptisan yang kudus, seseorang digabungkan dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Pembaptisan ikut membentuk persekutuan umat Kristen. Pembaptisan menandai semua orang Kristen dengan meterai rohani yang bersifat kekal.

2) Baptis Dewasa
Sejak awal Gereja, Pembaptisan orang-orang dewasa diberikan paling sering di tempat, di mana Injil belum lama diwartakan. Karena itu katekumenat [persiapan Pembaptisan] mendapat tempat yang penting. Sebagai bimbingan ke dalam iman dan kehidupan Kristen, ia harus mempersiapkan orang untuk menerima rahmat Allah di dalam Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi. (KGK 1247)

Waktu persiapan ini, bertujuan membantu katekumen untuk memberi jawaban kepada tawaran keselamatan ilahi dan untuk mematangkan pertobatan dan imannya dalam kesatuan dengan persekutuan Gereja. Yang dipentingkan di sini ialah suatu “pembinaan dalam seluruh hidup kristiani dan masa percobaan yang lamanya memadai, yang membantu para murid untuk bersatu dengan Kristus Guru mereka. Maka hendaknya para katekumen diantar sebagaimana harusnya untuk memasuki rahasia keselamatan, menghayati cara hidup menurut Injil, dan ikut serta dalam upacara-upacara suci, yang harus dirayakan dari masa ke masa. Hendaknya mereka diajak memulai hidup dalam iman, merayakan liturgi dan mengamalkan cinta kasih Umat Allah” (AG 14) Bdk. OICA 19 dan 98.. 1230 (KGK 1248)

Para katekumen “sudah termasuk rumah (keluarga) Kristus, dan tidak jarang sudah menghayati kehidupan iman, harapan, dan cinta kasih” (AG 14). “Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya (LG 14) Bdk. CIC, cann. 206; 788, ? 3.. (KGK 1249)

Pembaptisan adalah Sakramen iman Bdk. Mrk 16:16.. Iman membutuhkan persekutuan umat beriman. Setiap orang beriman hanya dapat beriman dalam iman Gereja. Iman, yang dituntut untuk Pembaptisan, tidak harus sempurna dan matang; cukuplah satu tahap awal yang hendak berkembang. Kepada para katekumen atau walinya disampaikan pertanyaan: “Apa yang kamu minta dari Gereja Allah ?” Dan ia menjawab: “Iman”. (KGK 1253)

Pada semua orang yang sudah dibaptis, apakah anak-anak atau orang dewasa, Iman masih harus tumbuh sesudah Pembaptisan. Persiapan Pembaptisan hanya menghantar sampai ke ambang kehidupan baru. Pembaptisan adalah sumber kehidupan baru dalam Kristus, yang darinya seluruh kehidupan Kristen mengalir. Karena itu, setiap tahun pada malam Paska, Gereja merayakan pembaharuan janji Pembaptisan. (KGK 1254)

3) Babtis cara Selam
Setelah berbicara banyak mengenai Hakekat Babtis yang membuat kita lahir baru, Ada baiknya kita membahas mengenai masalah Babtis selam. Babtis selam dalam gereja Pantekosta dimutlakkan dan mereka terkadang (tidak semuanya) mengatakan babtisan selain cara selam tidak sah. Secara umum terkadang mereka mengajukan bukti dari Matius 3:16 “Yesus segera keluar dari air” kata “keluar dari air” menurut mereka berarti Yesus sebelumnya berada didalam air. Sementara kata “keluar dari air” dalam hal ini tidak menunjukkan berapa banyak bagian tubuh yang terendam. (yang menarik bahwa lukisan kristen kuno tentang pembabtisan Yesus pada Katakombe, dll pada jaman yang dekat dengan jaman para rasul digambarkan bahwa Yesus masuk ke air hanya sebatas lutut).
Lebih rumitnya adalah pembahasan dari kata Babtizo (Yunani untuk membabtis) yang menurut mereka berarti “menenggelamkan sesuatu dalam air”. Sebenarnya kata Babtizo memiliki beberapa arti yaitu “menenggelamkan” dan arti yang lain “mencelupkan”. Akan tetapi hal yang menarik bahwa Lukas 11:38 mengungkapkan “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan”, dan kata “Mencuci” pada bagian ini pun ditulis dalam bahasa Yunani babtizo. Namun dalam hal ini baptizo tentu bukan berarti menenggelamkan, melainkan mungkin hanya mencelupkan sebagian sebagaimana dalam tradisi yahudi tersedia tempayan yang digunakan untuk pembasuhan sebelum besantap yang rasanya tidak etis dan higienis jika seseorang mencelupkan tangannya yang kotor kedalam tempayan itu sementara tempayan itu digunakan untuk pembasuhan tidak hanya untuk satu orang, tentunya orang akan mengambil gayung dan mengambil air dari tempayan itu lalu mengucurkannya ke tangan. Jadi jelaslah penggunaan kata “babtizo” sangat fleksibel tidak hanya menenggelamkan, oleh karena itu Tradisi Babtis Kristen sangat fleksibel (tidak hanya dengan diselam saja).
Dokumen 12 Rasul (berasal dari abad II M) mengatakan bahwa jika tidak ada air yang cukup untuk membabtis maka pembabtisan dengan pengucuran airpun adalah sah. hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Didache (sekitar tahun 100 Masehi) yang berisi hal yang sama dan juga pernyataan St. Agustinus. Kita tahu kitab suci tidak memberikan petunjuk yang jelas dengan cara apakah Para Rasul membabtis (apakah dengan cara selam, dibasuh, atau dengan cara lain) tetapi kesaksian Yustinus Martir bahwa pembabtisan dilakukan dengan cara “masuk ke air” dan menurut banyak sejarah Gereja, pembabtisan dilakukan dengan cara menenggelamkan orang dan ini merupakan cara Babtis pada Gereja perdana yang akhirnya berevolusi menjadi Ritus yang lebih sederhana. Cara (Ritus) apapun yang digunakan untuk pembabtisan tentulah tetap tidak mengubah hakekat sakramen Babtis, selama pembaptisan yang dilakukan sesuai dengan hukum Validitas/ keabsahan pelayanan sakramen. Informasi media membuktikan bahwa bahkan di beberapa Gereja Katolik di Amerika terdapat “kolam” untuk membabtis.
Apa itu baptis rindu (keinginan) dan baptis darah:
1) Baptism of Desire/ Baptisan Keinginan:
Baptisan dari keinginan berlaku baik kepada mereka yang, sementara ingin dibaptis, mati sebelum menerima sakramen dan “Mereka yang, bukan karena kesalahan mereka sendiri, tidak tahu Injil Kristus atau Gereja-Nya, namun tetap mencari Tuhan dengan hati yang tulus, dan, digerakkan oleh rahmat, cobalah dalam tindakan mereka untuk melakukan kehendak-Nya karena mereka mengetahui melalui hati nurani “(Konstitusi tentang Gereja, Konsili Vatikan II).
2) Baptism of Blood/ Baptisan darah: Baptisan darah mirip dengan baptisan keinginan. Hal ini mengacu pada kemartiran orang-orang beriman yang dibunuh demi iman sebelum mereka punya kesempatan untuk dibaptis. Ini adalah kejadian umum di abad-abad awal Gereja, tetapi juga di kemudian hari di tanah-tanah misi. Baptisan darah memiliki efek yang sama seperti baptisan air.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sabagaimana yang diungkapkan oleh St. Bona Ventura, baptisan adalah pintu bagi sakramen- sakramen lain. Melalui sakramen ini pula seseorang melalui tahapan sosio-antropologisnya unntuk memasuki sebuah kehidupan dan persekutuan baru bersama orang-orang yang telah lebih dulu menyatakan dirinya sebagai pengikut kristus.
Sebagaimana sakramen- sakramen lainnya yang juga mengalami perkembangannya dalam lintasan sejarah demikianpun halnya dengan sakramen baptis. Dalam perkembangannya berbagai pertanyaan berkaitan dengan validitas pelayanannya masih diperdebatkan hingga kini. Menyikapi hal ini, gereja mengatur sedemikian rupa tatacara pelayanan dan pandangan- pandangan para bapa Gereja terhadap sakramen baptis, sebagaimana yang terdapat di dalam katekismus, kitab hukum kanonik, maupun konsili vatikan dan berbagai dokumen lainnya. Pembaptisan sebagai sakramen dengan rahmatnya yang tak terhapuskan membawa seseorang persatuan dengan Kritus dan jemaatnya, menerima materai Roh Kudus yang memberi pengudusan dan rahmat kekuatan untuk hidup secara benar dalam kematian dan kebangkitan bersamanya.

Metode Pemberian Tugas ( Resitasi)

Metode pemberian tugas adalah metode yang dimaksudkan memberikan tugas-tugas kepada siswa baik untuk di rumah atau yang dikarenakan di sekolah dengan mempertanggung jawabkan kepada guru (Abdul Kadir Munsyi Dip. Ad. Ed, tanpa tahun). Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa, guru memberikan pekerjaan kepada siswa berupa soal-soal yang cukup banyak untuk dijawab atau dikerjakan yang selanjutnya diperiksa oleh guru.

Dalam literatur yang dijelaskan bahwa pemberian tugas dapat diartikan pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pemberian tugas dan pekerjaan rumah, untuk pekerjaan rumah guru menyuruh siswa membaca buku kemudian memberi pertanyaan-pertanyaan di kelas, tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh siswa membaca dan menambahkan tugas (Roestiyah N.K, 1989).
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk guru secara langsung. Dengan metode ini siswa dapat mengenali fungsinya secara nyata. Tugas dapat diberikan kepada kelompok atau perorangan.
Penggunaan suatu metode dalam proses belajar mengajar, seorang guru sebaiknya tetap memonitoring keadaan siswa selama penerapan metode itu berlangsung. Apakah yang diberikan mendapat reaksi yang positif dari siswa atau sebaliknya justru tidak mendapatkan reaksi. Bila hal tersebut terjadi maka guru sedapat mungkin mencari alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode yang lain, yang sesuai dengan kondisi psikologi anak didik.
Semua guru harus menyadari bahwa semua metode mengajar yang ada, saling menyempurnakan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena tidak ada satupun metode yang sempurna tetapi ada titik kelemahannya. Oleh karena itu penggunaan metode yang bervariasi dalam kegiatan mengajar akan lebih baik dari pada penggunaan satu metode mengajar. Namun penggunaan satu metode tidaklah salah selama apa yang dilakukan itu untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Dalam buku lainnya yang berjudul Startegi Belajar Mengajar hal.132, Roestiyah mengatakan teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi. Melatih atau menunjang materi yang diberikan dalam kegiatan intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan.
Metode pemberian tugas sebagai salah satu metode yang dikaji penulis dalam pembahasan ini tentunya juga memiliki kelemahan dan kelebihan seperti halnya dengan metode yang lain. Mengenai kelemahan dan kelebihan metode pemberian tugas adalah sebagai berikut :
Kelebihan metode pemberian tugas :
1. Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
2. Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan dengan kedisiplinan tertentu.
3. Memberi kebiasaan anak untuk belajar.
4. Memberi tugas anak yang bersifat praktis (H. Zuhairini, 1977).
5. Dapat memupuk rasa percaya diri sendiri
6. Dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah menginformasikan dan dan mengkomunikasikan sendiri.
7. Dapat mendorong kegiatan belajar, sehingga peserta didik tidak cepat bosan
8. Dapat mengembangkan kreativitas siswa
9. Dapat mengembangkan pola berfikir dan ketrampilan anak.
10. dapat lebih memperdalam, memperkaya, dan memperluas wawasan yang dipelajarinya
Dari berbagai kelebihan-kelebihan yang telah dipaparkan di atas tentunya metode pemberian tugas juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
1. Seringkali tugas di rumah itu dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan itu, berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
2. Sulit untuk memberikan tugas karena perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar.
3. Seringkali anak-anak tidak mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya.
4. Apabila tugas itu terlalu banyak, akan mengganggu keseimbangan mental anak (H. Zuhairini, 1977).
5. Khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif.
6. Pemberian tugas yangmonoton dapat menimbulkan kebosanan siswa apabila terlalu sering.
Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode pemikiran tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan satu metode mengajar. Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugasnya mengajarnya di depan kelas.

Salah satu dampak yang sering kita lihat dari penggunaan metode yang tidak tepat yaitu ; anak atau siswa setelah diberi ulangan, sebagian besar tidak mampu untuk menjawab setiap item soal dengan baik dan benar. Akibatnya sudah dapat dipastikan bahwa prestasi belajar anak didik rendah. Di sisi lain, anak didik sering merasakan kebosanan. Situasi demikian menjadikan proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan kurang efisien.

Perlu dipahami bagi seorang guru bahwa waktu belajar siswa di sekolah sangat terbatas untuk menyajikan sejumlah materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas kepada siswa diluar jam pelajaran, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam hubungan ini, guru sangat diharapkan agar setelah memberikan tugas kepada siswa supaya dicek atau diperiksa pada pertemuan berikutnya apakah sudah dikerjakan oleh siswa atau tidak. Kesan model pengajaran seperti ini memberikan manfaat yang banyak bagi siswa, terutama dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajarnya.
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama mengerjakan tugas. Dari proses seperti itu, siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi akibat pendalaman dan pengalaman siswa yang berbeda-beda pada saat menghadapi masalah atau situasi yang baru. Disamping itu, siswa juga dididik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktivitas dan rasa tanggung jawab serta kemampuan siswa untuk memanfaatkan waktu belajar secara efektif dengan mengisi kegiatan yang berguna dan konstruktif.
Bagi seorang guru dalam menerapkan metode pemberian tugas tersebut diharapkan memperjelas sasaran atau tujuan yang ingin dicapai kepada siswa. Demikian halnya dengan tugas sendiri, jangan sampai tidak dipahami tidak dengan jelas oleh siswa tentang tugas yang harus dikerjakan.
Dalam penggunaan teknik pemberian tugas atau resitasi, siswa memiliki kesempatan yang besar untuk membandingkan antara hasil pekerjaannya dengan hasil pekerjaan orang lain. Ia juga dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Kesemuanya itu dapat memperluas cakrawala berfikir siswa, meningkatkan pengetahuan dan menambah pengalaman berharga bagi siswa.
Sebagai petunjuk dalam penerapan metode pemberian tugas Roestiyah N.K (1989) mengemukakan perlunya memperhatikan langkah-langkah berikut:
1. Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan.
2. Pertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik pemberian tugas itu telah tepat untuk mencapai tujuan yang anda rumuskan.
3. Anda perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti.
4. Bentuk pelaksanaan tugas
5. Manfaat tugas
6. Bentuk Pekerjaan
7. Tempat dan waktu penyelesaian tugas
8. Memberikan bimbingan dan dorongan
9. Memberikan penilaian
Adapun jenis-jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa yang dapat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar :
1. Tugas membuat rangkuman
2. Tugas membuat makalah
3. Menyelesaikan soal
4. Tugas mengadakan observasi
5. Tugas mempraktekkan sesuatu
6. Tugas mendemonstrasikan observasi
Dalam menerapkan metode pemberian tugas seperti dikemukakan di atas, guru hendaknya memahami bahwa suatu tugas yang diberikan kepada siswa minimal harus selalu disesuaikan dengan kondisi obyektif proses belajar mengajar yang dihadapi, sehingga tugas yang diberikan itu betul-betul bermakna dan dapat menunjang efektifitas pengajaran. Berbicara lebih jauh mengenai penerapan metode pemberian tugas, seringkali diterjemahkan oleh sebahagian orang hanya terkait dengan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa.

Akan tetapi sebenarnya metode ini harus dipahami lebih luas dari pekerjaan rumah karena siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya tidak mutlak harus dilakukan di rumah, melainkan dapat dilaksanakan di sekolah, di laboratorium atau di tempat-tempat lainnya yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas. Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (1989) mengemukakan bahwa; Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lain. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar diberikan secara individual atau dengan kelompok.
Penguasaan itu tidak harus selalu didiktekan oleh guru melainkan dapat berasal dari perencanaan kelompok, sehingga kelompok dapat membagi tugas kepada anggotanya secara baik menurut minat dan kemampuannya. Jelasnya bahwa penguasaan yang diberikan kepada siswa harus selalu dirumuskan dengan seksama agar tugas itu tidak terlalu memberatkan siswa dan juga tidak membosankan. Ini tidak berarti bahwa tugas itu tidak boleh sukar. Bahkan senantiasa diharapkan menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan pemberian tugas yang menantang buat siswa.

Menurut Sutomo (1993) bahwa metode pemberian tugas dapat digunakan apabila
1. Suatu pokok bahasan tertentu membutuhkan latihan atau pemecahan yang lebih banyak di luar jam pelajaran yang melibatkan beberapa sumber belajar.
2. Ruang lingkup bahan pengajaran terlalu luas, sedangkan waktunya terbatas. Untuk itu guru perlu memberikan tugas.
3. Suatu pekerjaan yang menyita waktu banyak, sehingga tidak mungkin dapat diselesaikan hanya melalui jam pelajaran di sekolah.
4. Apabila guru berhalangan untuk melaksanakan pengajaran, sedangkan tugas yang harus disampaikan kepada murid sangat banyak. Untuk itu pemberian tugas perlu diberikan melalui bimbingan guru lain yang menguasai bahan pengajaran yang dipegang oleh guru yang berhalangan tadi.
Beberapa jenis tugas penugasan dianggap sudah ditunaikan apabila siswa telah mengerjakannya. Di sini tidak diperlukan standar minimum. Akan tetapi jika suatu keterampilan tertentu ingin dikembangkan, maka tolok ukur penilaian perlu ditentukan dan disampaikan kepada siswa, sehingga mereka berkesempatan untuk mempraktekkan keterampilan itu dengan memuaskan. Demikian pula jika penugasan itu berupa laporan atau makalah yang harus dipersiapkan, para siswa sedapat mungkin sering diberitahu apa saja target atau sasaran yang diharapkan dari mereka atau dari tugas yang diberikan, sehingga mereka memiliki cukup pedoman dalam bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya.

Sumber
– AADESANJAYA.BLOGSPOT.COM
http://id.shvoong.com
– Blogger Kompasiana

EDELWEIS ABADI

Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Keserakahan dan mitos ini telah membuat edelweis sebagai bunga langka bahkan terancam kepunahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Hakim Luqman dalam Kasodo, Tourism, and Local People Perspectives for Tengger Highland Conservation, menyimpulkan bahwa tanaman ini telah punah dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Padahal Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Kini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diklaim sebagai tempat perlindungan terakhir bunga abadi ini. Di sini terdapat hamparan bunga edelweis yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.

APA SICH MITOS YANG ADA DIBALIK BUNGA ABADI INI??

Di balik keindahan dari bunga edelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, YAKNI bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi.
meskipun terkadang itu tidak masuk akal. Tapi di lain sisi, ketika posisi kita telah menjadi korbannya, justru sebaliknya, “Mitos mampu mengalahkan sebuah logika dan keyakinan”.

Siapa yang nggak tahu bunga edelweis, atau banyak orang yang memberikan istilah dengan bunga abadi. Kalau dilihat dari bentuknya bunga ini sangat cantik, dan di balik kecantikannya itu tersimpan makna ataupun mitos yang cukup banyak mempercayainya. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya, karena bunga yang satu ini biasanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung.
Oleh karena itu kamu bisa membayangkan betapa susahnya untuk bisa memetik si bunga abadi ini. Orang bilang, “Untuk mendapatkan bunga edelweis yang indah, maka semakin besar resiko yang dihadapi”, karena nyawa adalah tantangannya.

HARAPAN ESKATOLOGIS MASYARAKAT DAYAK

HARAPAN ESKATOLOGIS MASYARAKAT DAYAK

Di daerah sukamara

Pandangan tradisional mengatakan bahwa kematian adalah akhir kehidupan jasmani, saat jiwa manusia terpisah dari raganya. Dengan kematian, seluruh fungsi tubuh berhenti, seiring dengan terpisahnya raga dari jiwa. Bagi umat beriman, raga akan hancur menjadi tanah sedangkan jiwa berpulang kepada Allah. Dengan kematian, sejarah hidup manusia di hadapan Allah mencapai bentuknya yang lengkap dan tak dapat diubah. Semua orang yang hidup di dunia ini akan mengakhiri hidup duniawinya dengan kematian. Dalam KGK 1013 dikatakan: “Kematian adalah titik akhir peziarahan manusia di dunia, titik akhir dari masa rahmat dan be1as kasihan, yang Allah berikan kepadanya, supaya melewati kehidupan dunia ini sesuai dengan rencana Allah dan dengan demikian menentukan nasibnya yang terakhir.” Nasib dalam sebuah kehidupan sesudah kematian adalah bayang- bayang yang senantiasa ada dalam berbagai suku bangsa di dunia yang menganut paham ketuhanan. Hal ini pula yang menimbulkan harapan akan hidup yang kekal yang diidentikkan dengan hidup di dalam surga abadi. Lalu, apakah pengharapan itu sebenarnya?

 

2.1.         Pengertian Pengharapan Eskatologis

Secara terminologis eskatologi berasal dari bahasa Yunani eschatos (akhir) dan logos (ilmu) yang artinya ilmu atau pengetahuan tentang hal-hal akhir, hal-hal pamungkas, atau yang menyangkut realitas akhirat sebagai akhir kehidupan seperti kematian, kebangkitan, pengadilan terakhir serta kiamat sebagai akhir dunia. Eskatologis sering juga diartikan sebagai ajaran (doktrin) tentang realitas surga, purgatori (api penyucian) dan neraka. Lebih persis lagi, eskatologi diartikan sebagai ajaran yang menyangkut kedatangan kembali Kristus (parousia). Istilah Eskatologi digunakan pertama oleh Teolog Lutheran Abraham Calonicus (1612-1686). Pada hakekatnya Eskatologi itu menyangkut kejadian-kejadian di luar sejarah manusia yang bersinggungan dengan harapan kristiani.

Eschatos atau jaman akhir secara positif berarti munculnya dunia baru; Kerajaan Allah; langit dan bumi baru, Jerusalem Baru (apokaliptik, dibalik sejarah). Eskatologi menunjuk pada saat akhir yang serentak masuk pada fase baru, baik secara individual-personal ataupun secara komunal-kolektif. Artinya menyangkut nasib hidup seseorang ataupun seluruh manusia secara universal atau kosmis.

Kristianitas boleh disebut sebagai agama eskatologi. Agama yang menitikberatkan pada harapan, yang selalu memandang dan bergerak ke depan. Dimana ‘iman’ dan ‘kasih’ mendapat makna dan arti serta kekuatannya dari harapan pada realitas yang akan tejadi kelak di akhirat. Kepenuhan rencana keselamatan secara mesianik akan berujung pada kenyataan eskatologis. Penghayatan hidup kristiani baru punya makna bila mengacu pada harapan akan masa depan. Yang perlu diingat bahwa eskatologi itu menjadi bagian dari credo, rumusan pernyataan iman kita; “percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal”. Bagaimana dengan pandangan kepercayaan masyarakat dayak akan hal ini?

 

2.2.         Prosesi Pemakaman Dalam Masyarakat Dayak

Di daerah sukamara

 

Jika pada beberapa jenis suku dayak dalam tradisi kematiannya dilakukan upacara tiwah/ wara yaitu  penyembelihan hewan kurban bagi jiwa orang yang telah meninnggal dan pembersihan tulang-belulangnya untuk kemudian dimasukkan kedalam sebuah sandung. Tidaklah demikian dengan masyarakat dayak yang tinggal di daerah kabupaten sukamara. Dalam budayanya yang lebih dipengaruhi oleh budaya masyarakat dayak yang berasal dari kalimantan Barat, masyarakat dayak yang tianggal di daerah sukamara tidak berpandangan bahwa orang yang telah meninggal harus disandungkan beberapa saat/ tahun setelah kematiannya agar kelak kemudian jiwanya dapat hidup dengan tenang dalam sebuah tempat yang dalam kepercayaan tradisional masyarakat dayak disebut sebayan pengetujuh/ sebayan tujuh yang disetarakan dengan surga.

Dalam prosesi pemakaman masyarakat dayak yang terdapat di daerah kabupaten sukamara, setelah seseorang meninggal, maka sebuah gong akan ditabuh sebagai pemberitahuan bagi masyarakat yang tinggal di desa trsebut yang mereka sebut sebagai tetewak panggil. Gong ini ditabuh sebanyak tujuh kali, kemudian jenazah orang tersebut segera dipersiapkan untuk dimandikan. Sebelum jenazah tersebut dimandikan, jenazah tersebut diletakkan diatas sebuah tikar yang merupakan hasil karya kerajinan tangan masyarakat dayak setempat yang berasal dari daun semak hutan sejenis pandan. Tetua adat setempat akan menorehkan sebilah parang/ pisau pada tikar dimana mayat tersebut diletakkan sebanyak sebelas kali sebagai bagian dari prosesi yang dimaksudkan untuk meluruskan perjalanan jiwa dari orang yang telah meninggal tersebut menuju tempat dimana ia menikmati kehidupan barunya di sebayan tujuh/ surga. Setelah prosesi penorehan tikar ini dilangsungkan barulah jenazah tersebut dimandikan oleh pihak keluarga dari orang yang telah meninggal tersebut dan diberi pakaian.

Masyarakat ditempat ini meyakini bahwa apa yang akan diberikan sebagai bekal bagi orang yang telah meninggal akan menjadi perlengkapan pula baginya ditempat dimana ia akan menjalani kehidupan barunya nanti. Maka pembekalan barang- barang bagi orang yang telah meninggal sudah merupakan sebuah tradisi yang menjadi bagian dari prosesi pemakaman. Adapun barang yang disertakan dalam penguburan tersebut biasanya berupa perlengkapan rumah- tangga seperti periuk, rinjing, parang, pisau, cangkir, piring, mangkuk, kasur, pakaian, bahkan rokok, gula dan kopi.

Pada umumnya jenazah di tahan atau dibiarkan dirumah kematian selama satu malam dengan maksud menunggu kaum keluarga dari almarhum yang telah meninggal untuk memberikan bela sungkawa atau pertemuan terakhir, sehingga kemudian para kaum keluarga yang berada di tempat yang cukup jauh dapat mengantar jenazah almarhumah sampai kepemakaman. Setelah jenazah dimandikan dan diberi pakaian, tetua adat setempat akan menanak nasi dan sayur bagi orang yang telah meninggal tersebut dalam dua ruas bambu kecil yang disebut sebagai nasi pajuh. Nasi yang ditanak bagi orang yang telah meninggal tersebut harus berasal dari beras ketan, dan sayurnya harus berasal dari umbut pinang dan kelapa yang hanya dibubuhi dengan sedikit garam dan terasi. Nasi ini pun diperuntukkan sebagai bekal bagi orang yang telah nmeninggal tersebut sebagaimana barang- barang yang telah di

Sebutkan diatas. Selama sepanjang malam hingga menjelang pagi, orang yang berkumpul dirumah kematian untuk berjaga diharuskan membunyikan musik tabuhan tradisional dengan pola yang sering mereka sebut sebagai sambit.

Keesokan harinya ketika matahari siang semakin beranjak, masyarakat dayak di tempat ini akan mempersiapkan segala sesuatu yang belum dipersiapkan untuk prosesi pemakaman jenazah, seperti menanak nasi untuk makan bersama, ataupun pembuatan peti jenazah yang terbuat dari papan ulin dan dikerjakan oleh kaum pria.

Ketika pembuatan peti jenazah telah selesai, maka peti tersebut akan ditampungtawari oleh tetua adat setempat. Tampungtawar adalah kumpulan renik/ remah/ patahan kecil beras yang dicapur irisan daun hidup- hidup (sejenis tanaman bunga- bungaan), daun rakat ganting (sejenis rumput yang berakar serabut dan tertanam dengan sangat kuat), diwarnai dengan kunyit dan dicampur dengan sedikit air dan tuak (baram). Masyarakat dayak biasanya mengoleskan tampungtawar ini pada apa yang mereka mohonkan semacam berkat dari yang maha kuasa dengan tujuan dan maksud baik tertentu. Adapun maksud dari penampungtawaran peti jemazah ini adalah semacam mohon doa berkat bagi sebuat tempat/ rumah baru yang btelah selesai dikerjakan. Tampung tawar ini dibuat dengan perkiraan cukup untuk digunakan sampai pada selesainya prosesi pemakaman. Sebagian sebagai penampungtawaran peti, sebagian sebagai tabur jalan/ yang ditaburkan sepanjang perjalanan menuju pemakaman yang mendahului para pemikul jenazah, dan srbagiannya lagi akan dioleskan pada setiap orang yang turut dalam upacara penguburan tersebut setelah kembali dari makam.

Langkah selanjutnya setelah sebuah peti jenazah selesai ditampungtawari adalah mengangkat peti tersebut kedalam rumah kematian dan memasukkan jenazah serta sebagian barang- barang yang mungkin untuk dapat disertakan didalamnya, menutup peti dan kemudian mempersiapkan keberangkatan jenazah menuju pemakaman. Sebelum berangkat menuju pemakaman, orang- orang yang bereda dirumah duka itu harus menyambitkan orang yang telah meninggal tersebut sebanyak tiga pola/ tiga lagu tabuhan istrumen alat musik tradisional mereka. Kemudian peti tersebut diikat pada sebatang  kayu  yang berasal dari pohon buah- buahan yang akan berfungsi  sebagai gandar bagi para pemikul peti. Gandar ini harus berasal dari pohon buah –buahan seperti pohon rambutan yang berukuran sedang, dsb. Pohon buah- buahan ini dimaksudkan sebagai bekal bagi orang yang telah meninggal tersebut dalam kehidupannya yang akan datang. Ketika akan meninggalkan rumah tetua adat akan melakukan ritual doa. Peti di ayunkan kearah dalam rumah sebanyak tiga kali dan kearah luar sebanyak tujuh kali, untuk kemudian diberangkatkan menuju pemakaman. Adapun pengayunan peti tersebut dimaksudkan untuk menyerahkan arwah dari orang yang telah meninggal tersebut kepada seluruh anggota keluarganya yang telah meninggal. Sepanjang perjalanan menuju makam, pemikulan peti oleh anggota keluarga ini didahului oleh penaburan tampungtawar yang dicampur dengan uang logam sebagaimana telah dikatakan diatas. Pencampuran antara tampung tawar dan uang logam ini menggambarkan sebuah simbolisme pengantaran kepulangan saudaranya yang telah meninggal tersebut dan dengan segala doa dan amal bhakti semasa hidupnya.

Sesampainya dimakam, peti diletakkan disisi luang kubur yang telah disiapkan. Kemudian tetua adat setempat denga segala doa- doanya akan melemparkan sebutir telur ayam kampung yang telah disediakan kedalam lubang yang telah disiapkan tersebut. Konon sebagaimana banyak dongeng yang terdapat ditempat ini yang berkaitan dengan kematian, telur ayam ini kelak dinegeri yang lain atau dialam roh orang yang telah meninggal tersebut akan menjadi seekor ayam jantan yang akan digunakan untuk menyabung, sebelum ia mencapai sebayan pengetujuh. Setelah itu peti jenazah pun akan dimasukkan dan tetua adat mendahului semua orang yang turut serta dalam pemakaman tersebut untuk melemparkan tiga kepal tanah dengan tangan kiri kedalam lubang makam yang kemudia akan disusul setiap orang lainnya. Hal ini dilakukan sebagai isyarat pelepasan/ pembuangan sebgala mimpi- mimpi buruk seperti mimpi behanyi (memanen padi), menebang tebu, menggali keribang  (sejenis sayuran tradisional yang umbinya terdapat didalam tanah), menebas ladang, dan menugal menabur (menanam benih padi). Dalam kehidupan masyarakat dayak setempat mimpi- mimpi ini memiliki arti yang tidak baik, yakni behanyi dan menabur menugal  berarti tanah kuning pemakaman, menebang tebu dan menebas ladang berarti menebang akar nyawa/ kehidupan, menggali keribang berarti menggali lubang makam. Maka dengan melemparkan tiga kepel tanah dengan tangan kiri kedalam lobang makam segala mimpi buruk akan terkubur bertsama dengan orang yang telah meninggal  tersebut. Tetua adat setempat akan menimba atau semacam memanggil roh dari orang- orang yang masih hidup tersebut agar tidak terbawa atau dihantui oleh bayang- bayang mimpi buruk kematian tersebut. Setelah makam ditimbun, maka upacara pemakaman pun telah selesai. Orang- orang yang akan kembali kerumah duka akan diolesi dengan tampung tawar sebagai sapat atau penghelat antara orang hidup dengan orang yang telah meninggal terebut.

Tiga hari kemudian dalam kebiasaan masyarakat dayak ditempat ini, orang terdekat dari orang yang telah meninggal tersebut akan pergi mengunjungi makam  dan mencurahkan apa yang ia rasakan atas kehilangan yang ia alami dengan tidak lupa memberikan semacam penuturan bahwa sekarang mereka telah hidup di alam yang berbeda, sehingga satu sama lainnya tidak perlu saling mengganggu. Adapun upacara kunjungan setelah tiga hari ini disebut upacara membuka palang, yakni membuka palang kehidupan baru yang telah berada dalam dua alam yang berbeda dan tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pengharapan eskatologis yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi gereja pun tumbuh dan dimiliki oleh masyarakat dayak dalam kehidupan dan pandangan mereka akan adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan kekal yang akan dicapai dalam kehidupan setelah kematian adalah cita- cita yang tergambar dengan samar di dalam tradisi yang mereka miliki. Prosesi pemakaman yang mereka miliki adalah jalan atau upacara simbolis yang dilakukan untuk membantu orang yang telah meninggal tersebut menemukan jalan yang tepat menuju kediaman sanak saudaranya yang telah mendahuluinya meninggal di dalam sebayan pengetujuh. Bagi masyarakat dayak jiwa orang yang curang dalam kehidupannya akan sulit untuk mencapai sebayan pengetujuh. Bahkan seorang yang dalam kehidupannya dikenal sebagai orang yang sangat jahat tidak aakan dapat menemukan jalan menuju tempat tersebut, maka arwah orang tersebut akan gentayangan dan dikenal masyarakat sebagai hantu, demikian pun dengan orang- orang yang mati dengan cara yang tidak wajar seperti gantung diri, minum racun, ataupun kecelakaan, dan sebagainya. Kehidupan kekal itu luhur sabagaimana juga nilai kehidupan di dunia yang harus dijaga dan dihormati, dan kehidupan kekal yang luhur dan abadi itu hanya diperuntukkan  bagi orang- orang yang layak untuk menerimanya.

Dalam pandangannya akan hidup setelah kematian masyarakat dayak juga mengenal adanya penyiksaan sementara sebelum seseorang masuk kedalam kehidupan kekalnya sebagaimana api penyucian yang dikenal dalam gereja katolik. Siksa sementara ini akan menyucikan jiwa orang yng telah meninggal, dan semakin banyak perbuatan dosa sesesorang, maka akan semakin lambat pula masa penyiksaan yang ia terima. Sehingga meskipun dengan pandangan akan harapan eskatologis yang  masih samar- samar, namun dalam kehidupannya masyarakat dayak masing- masing menyadari apa yang baik dan pantas untuk dilakukan dan apa yang buruk bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dalam kehidupan bersama.  

 

 

2.3.         Harapan Eskatologis di Dalam Gereja Katolik Roma

Latar Belakang Alkitabiah

1. Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama pemahaman eskatologi itu secara implisit dihubungkan dengan sejarah keselamatan yang diatur oleh Allah. Bahwa Israel (sebagai bangsa terpilih) ‘ada’ pada hakekatnya di bawah hukum perjanjian dan pemenuhannya di kemudianhari sebagai struktur dasar imannya. Seperti kisah Abraham yang dijanjikan akan memiliki tanah perjanjian yang dialiri susu dan madu [Kej.12:4]. Atau bahwa penyelamat akan datang dari tunas Daud [2Sam: 7]. Atau dalam [Yes. 40-55] dijanjikan kelak kemudian hari secara kosmik akan ada ciptaan baru; langit dan bumi baru.

Teks yang paling banyak diacu dalam teologi Katolik mengenai hidup sesudah mati adalah [2 Makabe 12] tersurat tentang kepercayaan (secara eskatologis) akan kebangkitan orang mati. Tentang manfaat perbuatan amal baik seperti kurban bagi orang-orang yang telah meninggal dunia dengan harapan agar mereka dibebaskan dari hukum dosa. Perjanjian Lama ini memberi kepastian akan adanya pengaruh dari doa-doa kita yang masih hidup bagi mereka yang telah mati. Mungkin juga pengaruh mereka yang telah mati kepada kita yang masih hidup.

Dikisahkan bahwa Yudas Makabe bersama dengan anak buahnya hendak menguburkan jenazah para prajurit yang gugur di medan perang. Rupanya di bawah baju para jenazah itu ada jimat-jimat dan berhala yang dilarang bagi orang Yahudi. Mereka kalah dan mati diandaikan lantaran jimat-jimat itu. Jimat-jimat itu membuat mereka tak berdaya melawan musuh. Yudas Makabe dan anak buahnya memuji Tuhan. Tuhan yang adil telah menghukum para prajurit yang gugur itu. Namun Yudas Makabe dan anak buahnya serentak memohon kepada Tuhan agar menghapus dosa-dosa prajurit yang telah meninggal itu. Bahkan Yudas Makabe kemudian mengambil inisiatif untuk mengumpulkan uang dari antara mereka semua. Terkumpul dua ribu dirham perak untuk dikirim ke Yerusalem guna mempersembahkan korban penghapus dosa, menyusul suatu pernyataan, “Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas Makabe memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percumah dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagi pula Yudas Makabe ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka”.

Ayat-ayat ini menjadi “text proof” alkitabiah PL untuk menegaskan ajaran Katolik tentang adanya purgatori (api penyucian), tentang dampak atau efikasi doa-doa bagi mereka yang telah meninggal, tentang kurban silih atau kurban tebusan itu ada gunanya dan tidak sia-sia. Hal ini berlainan dengan pandangan saudara-saudara kita Protestan yang melihat Kitab Makabe ini deuterokanonika, tidak masuk dalam daftar kitab yang autentik, sehingga dianggap lemah untuk dijadikan “text proof”. Pada gilirannya mereka tidak mempercayai akan adanya purgatori serta dampak doa-doa orang hidup bagi yang sudah meninggal.

 

2. Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, sebagai contoh “text proof”, dapat dilihat [Mt.5:31-32]; “… ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Pernyataan dunia yang akan datang mengandaikan akhirat. Secara persis menunjuk pada purgatori. Begitu pula [Mt.5:26]; “… sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Suatu pernyataan yang mengandaikan situasi yang mungkin lepas dari derita sejauh telah memenuhi tuntutan yang harus dibayar. ‘Penjara’ secara metaphor memberi arti hukuman sementara. Begitu juga [1Kor3:13]; “… karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diiringi oleh api itu.” Sebutan api penyucian menunjuk pada pemurnian, pembersihan seperti emas yang dimurnikan dan mesti dibakar demi menghasilkan sesuatu yang sejati.

 

3.         Latar Belakang Patristik

Dalam Patristik, misalnya St.Ciprianus (c.200-258) mengatakan bahwa ada yang dapat langsung masuk surga tapi juga yang harus menunggu pengampunan. Ada yang langsung menerima ganjaran surga secara langsung dan ada juga yang dimasukan ke dalam penjara (purgatori) dan tidak akan keluar dari sana sampai “hutangnya” dibayar. Ada yang dapat lepas dari semua dosa di dunia ini yakni dengan mati sebagai martir, tapi ada juga yang mesti disucikan, dimurnikan dosa-dosanya di akhirat dengan penderitaan yang lumayan lama. Suatu pernyataan yang mengartikan akan adanya pergatori di samping surga dan neraka.

Yohanes Krisostomus (347-407) mencatat, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (bdk Ayub 1:5), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka”.

Gregorius Agung (590-604) mengatakan, “Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak’ (Mat 12 : 32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain”.

 

4.         Latar Belakang Magisterium

Dalam Magisterium secara dogmatis ditegaskan akan kepastian akan adanya kebangkitan badan dari semua orang yang telah meninggal.

 

(1). Misalnya dalam Konsili Taledo th.675. Suatu konsili yang menegaskan kebangkitan badan. Badan atau tubuh yang kita miliki dan kita hayati ini yang akan dibangkitkan. Jadi bukan bersifat tubuh etherial atau secara reinkarnatif dalam bentuk tubuh yang lain. Argumentasinya tentu menunjuk pada kebangkitan Yesus Kristus sendiri. Begitu pula mengacu pada Maria dan Yesus yang naik ke surga dengan tubuh apa adanya. Kedua, selain menegaskan mengenai kebangkitan badan, konsili juga dengan menyitir [2Kor 5:10]; “sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup ini, baik atau pun jahat.” Teks yang menegaskan kepada kita semua harus menghadap pengadilan terakhir sesuai dengan perbuatan-perbuatan kita. Ketiga, Konsili menegaskan baptisan bagi penghapusan dosa yang harus diimani, serta percaya pada kebangkitan orang mati. [1Kor15:12-14] mencatat, “Jadi, bilamana kami beritakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu mengaakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah kepercayaan kamu”. Iman Kristiani memperoleh dasar kekuatannya ada pada kepercayaan akan kebangkitan.

 

(2)Dalam Konsili Lateran th.1215 di bawah otoritas Paus Inocentius III ditegaskan kembali ajaran katolik tentang kebangkitan badan, pengadilan manusia sesuai dengan perbuatan masing-masing serta tentang ganjaran kebahagiaan abadi atau sebaliknya hukuman abadi. Ada teks secara eksplisit yang dikatakan: ”semuanya akan bangkit lagi dengan tubuh mereka masing-masing..”

 

(3) Konsili Lyons 1274 masih tetap menegaskan kepercayaan pada kebangkitan badan. Bagi mereka yang telah dibaptis masih jatuh ke dalam dosa tidak perlu dibaptis ulang tetapi cukup dengan memohon ampun dan menyesalinya dalam sakramen pengampunan secara sempurna. Sedang bagi mereka yang dibaptis kemudian mati dan masih dalam keadaan dosa serta tidak sempat menerima sakramen pengakuan tetapi meninggal dalam penuh cinta kasih dan penuh penyesalan, jiwa mereka akan dibersihkan setelah mati dengan hukuman yang bersifat penyucian dan purgatorial. Dalam hal ini Konsili menegaskan bahwa perlunya kaum beriman yang masih hidup untuk membantu mereka yang berada dalam penyucian tersebut dengan kurban misa, doa-doa, derma dan tindakan kesalehan lainnya. Berlainan dengan mereka yang telah menerima baptisan suci tapi tidak tercemar oleh kedosaan lalu meninggal, mereka akan langsung masuk surga. Begitu juga sebaliknya bagi mereka yang mati dengan dosa berat atau dengan dosa asal (karena tidak dipupus oleh baptisan) akan langsung masuk ke neraka untuk dihukum. Dalam hal ini Konsili masih menegaskan kondisi pada pengadilan terakhir semua orang akan tampil dengan tubuh mereka masing-masing.

 

(4) Konstitusi Apostolik “Benedictus Deus” dari Paus Benedictus XII th.1336. Paus secara pribadi memberi pendapat bahwa orang-orang yang terbekati dan suci akan menikmati “beatific vision” (kebahagiaan surgawi) itu sebelum kebangkitan umum dan pengadilan terakhir secara universal. Bagi orang-orang suci yang mati sebelum sengsara Kristus (penebusan) tidak perlu masuk ke dalam api penyucian. Bagi para martir, para rasul yang suci, para pengaku iman, para perawan dan kaum beriman yang telah menerima baptisan Kristus yang tidak memerlukan penyucian akan masuk langsung ke surga. Begitu juga bagi anak-anak yang sudah dilahirkan kembali dalam baptisan Kristus sebelum mampu menggunakan kehendak bebasnya, bila meninggal, tidak memerlukan api penyucian. Mereka ini akan langsung menikmati esensi ilahi secara intuitif dan bahkan secara ‘face to face’. Mereka akan menikmati surga sebelum ada pengadilan terakhir.

 

(5) Konsili Florence th 1439 menegaskan apa yang terjadi dalam purgatori. Menurut Gereja Latin, yang dilakukan adalah pelunasan (satisfaction-expiation), sedang bagi Gereja Yunani menekankan unsur pembersihan atau pemurinian. Konsili ini melihat daya dampak dari Sakramen Pengakuan. Bagi mereka yang telah dibaptis lalu jatuh dalam dosa, lalu menerima Sakramen Pengampunan, jiwa mereka akan disucikan dalam hukuman purgatorial. Agar kemudian mereka lepas dari hukuman purgatorial itu maka perlu ada tindakan ‘pengantaraan’ (suffragia) seperti kurban Misa, doa-doa, derma dan tindakan kesalehan lainnya dari mereka yang masih hidup. Masih ditegaskan bagi mereka yang telah dibaptis dan tidak melakukan tindakan dosa mereka akan langsung masuk ke dalam surga. Sebaliknya bagi mereka yang mati dengan dosa besar secara aktual atau dengan dosa asal, mereka akan langsung ke neraka (infernum), dihukum sesuai dengan perbuatan dan jenis hukumannya. Mengandaikan di nerekapun ada gradasi hukuman.

 

(6) Konsili Trente th 1563, suatu konsili yang cukup gigih melawan ajaran-ajaran kaum protestan atau Martin Luther secara khusus. Luther yang tidak percaya pada adanya purgatori dan manafaat serta gunanya suffraga termasuk Misa untuk orang yang telah meninggal. Konsili mempertegas sikap konsili-konsili sebelumnya. Bahwa ada purgatori. Bahwa kaum beriman yang ada di purgatori itu dapat kita bantu dengan suffraga yang pertama-tama dan utama melalui kurban altar (Misa). Konsili juga memerintahkan kepada para uskup untuk mengajarkan dan mengkotbahkan keberenaran dogmatis ini kepada kaum beriman karena sudah menjadi tradisi yang diwariskan oleh Bapa Gereja dan Konsili-konsili sebelumnya.

 

(7) Konsili Vatican II 1964, khususnya dalam Lumen Gentium dan Gaudium et Spes. Lumen Gentium memberi aksen kuat tentang hakekat Kristus sebagai Alfa dan Omega; awal dan akhir. Unsur Omega mendapat perhatian khusus. Oleh karenanya ajaran mengenai eskatologi cukup kaya yang menyangkut nasib orang perorang dan Gereja. Bab 7 LG memberi judul “Sifat Eskatologis Gereja Musafir dan Persatuannya dengan Gereja di Sorga”. Dokumen memberi makna eskatologis lebih bersifat eklesial dan komunal.

Dalam LG no. 48 dapat disarikan sebagai berikut:

Bahwa Gereja akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di sorga serta semuanya akan diperbaharui dalam Kristus.

Sambil mengacu pada [1Kor 10:11], bahwa akhir jaman sudah tiba. “Pembaharuan dunia telah ditetapkan, tak dapat dibatalkan, dan secara nyata mulai terlaksana di dunia ini”.

Keadaan Gereja sekarang sudah suci meski tidak sempurna, kelak akan terjadi langit baru dan bumi baru.

Di akhirat kita akan memandang Dia sebagaimana ada-Nya, “selama mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan.

Dokumen menyitir beberapa teks Kitab Suci antara lain [2Kor 5: 10] bahwa kita akan menghadap “tahta pengadilan Kristus, supaya masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidupnya ini, entah itu baik atau jahat”

[Yoh 5: 29 / 25: 46]; dan pada akhir jaman “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk kehidupan kekal, sedangkan mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”.

[Rom 8: 18 dan 2Tim 2: 11-12]; maka dari itu, mengingat bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita kelak”.

[Tit 2:13]; dalam keteguhan iman kita mendambakan “pengharapan yang membahagiakan serta penyataan kemuliaan Allah dan Penyelamat kita yang mahaagung, Yesus Kristus”.

[Flp 3: 21]; “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menyerupai tubuh-Nya yang mulia”.

 

Lumen Gentium no 49 dengan judul Persekutuan antara Gereja di Sorga dan Gereja di dunia. Dalam nomor ini pernyataan dari Konsili Florence masih diafirmasi, “ada di antara para murid-Nya yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal danmengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang “dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya”. Lalu menyusul pernyataan hubungan yang hidup dengan yang telah meninggal, “jadi persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani”. Hubungan dengan mereka yang telah mendahului kita diyakini kuat, bahkan mereka dapat menjadi pengantara kita di hadirat Bapa. Kelemahan kita amat banyak dibantu oleh mereka.

Lumen Gentium no 50 menegaskan penghargaan pada tradisi Gereja yang memberi penghormatan, parayaan kenangan bagi orang-orang yang telah meninggal. Sambil menjustifikasi manfaat dan nilainya dari [2Mak 12: 46]; “ini suatu pikiran yang mursid dan saleh: mendoakan mereka yang men inggal supaya dilepaskan dari dosa dosa mereka”. Gereja juga mempersembahkan korban-korban silih bagi mereka. Gereja percaya pada rasul-rasul, para martir Kristus yang telah berkompasi dengan derita Kristus, yang meneladan keperawanan dan kemiskinan Kristus itu sudah berada di surga, pertama-tama Maria dan para Malikat, dpat membantu dan menjadi perantara kita.

Lumen Gentium no 51, dalam nomor ini dokumen menganajurkan agar kita menghormati tradisi (pusaka para leluhur kita) yang ditegaskan dalam konsili Nicea II, Florence dan Trente. Yakni iman akan persekutuan hidup denganpara saudara yang sudah meninggal masih mengalami pentahiran.

Dalam Gaudium et Spes th 1965 khususnya no 39, Bapa-bapa Konsili berbicara tentang “bumi baru dan langit baru secara eskatologis. Dokumen ini menegaskan bahwa kita tidak tahu menahu mengnai akhir jaman, kapan dunia dan manusia mengalami kesudahannya. Tidak tahu bagaimana alam semesta akan dirubah. Namun kita meyakini bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi baru. Di dunia ini Kerejaan Allah itu sudah hadir dalam misteri, tetapi akan mencapai kepenuhannya bila Tuhan datang.

 

(8). Recentiores Episcoporum Synodi th. 1979. Selain dokumen Vatican II, ada hasil sinode para uskup yang dilaksanakan oleh Kongregasi Suci Urusan Ajaran Iman. Dokumen ini dianggap penting karena berurusan langsung dengan masalah-masalah sekitar realitas eskatologis seperti kebangkitan orang mati, tentang jiwa, nasib manusia di surga, purgatori dan neraka.

Sinode dianggap perlu diadakan mengingat mendesaknya penegasan akan kebenaran-kebenaran iman yang mulai kendor dan membingungkan. Khususnya Credo yang menyangkut hidup sesudah mati. Dalam hal ini sinode menegaskan beberapa poin penting;

Bahwa Gereja percaya akan kebangkitan orang mati.

Kebangkitan ini menyangkut seluruh pribadi manusia.

Gereja menerima suatu unsur spiritual yang tetap hidup sesudah kematian. Unsur spiritual itu disebut roh.

Gereja menganggap tetap berguna doa-doa dan ritus penguburan serta tindakan-tindakan religius yang diperuntukan bagi mereka yang telah meninggal.

Gereja mencari pernyataan mulia dari Tuhan Yesus Kristus yang akan dialami setelah kamatian.

Kenaikan Bunda Maria dengan tubuhnya sendiri ke surga menjadi antisipasi pada pemuliaan tubuh kaum beriman kelak sesudah mati.

Gereja tetap percaya bahwa yang baik akan masuk surga, yang jahat (berdosa) akan dihukum di neraka dan kemungkinan penyucian dalam purgatori.

 

(9). Katekismus Gereja Katolik th. 1993. Di sini kita kutip saja apa adanya.

No. 1030: “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamtan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga”.

No. 1031: “Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium (api penyucian). Ia telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firenze dan Trente. Tradisi Gereja berbicaara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci”.

No. 1032: “Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk yang sudah meninggal, tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan, “Karena itu Yudas Makabe mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya [2Mak 12: 45]. Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi dan karya penitensi demi orang-orang mati”.

 

4.1.         Surga, Neraka, dan Api Penyucian Dalam Gereja Katolik Roma

1. Surga itu apa?

Kitab Suci menyebut surga sebagai tempat kediaman Allah (1Raj 8:30; Mzm 2:4; Mrk 11:25; Mat 5:16; Luk 11:15; Why 21:2), tempat kediaman para malaikat (Kej 21:17; Luk 2:15; Ibr 12:22; Why 1:4), tempat kediaman Kristus (Mrk 16:19; Kis 1:9-11; Ef 4:10; Ibr 4:14), dan tempat kediaman orang-orang kudus (Mrk 10:21; Flp 3:20; Ibr 12:22-24). Kitab Suci memakai gambaran-gambaran yang dapat ditangkap oleh manusia dengan pengalaman hidupnya untuk menunjukkan kebahagiaan surgawi, antara lain digambarkan sebagai Firdaus yang baru, kenisah surgawi, Yerusalem baru, tanah air sejati, Kerajaan Allah. Terlihat bahwa surga lebih banyak digambarkan sebagai sebuah ”tempat”.

 

Katekismus Gereja Katolik (KGK) lebih menekankan gambaran surga sebagai suatu kondisi kehidupan yang serba sempurna jika dibandingkan dengan kehidupan manusia di dunia. Surga adalah persekutuan kehidupan abadi yang bahagia, sempurna dan penuh cinta bersama Allah Tritunggal Mahakudus, bersama Perawan Maria, para malaikat dan orang kudus. Surga merupakan keadaan bahagia sempurna, tertinggi dan definitif yang merupakan tujuan terakhir menjadi kerinduan terdalam manusia (KGK 1024).

 

Seperti apakah surga yang senyatanya? Rupanya sulit bagi kita untuk menggambarkannya sekarang. Kita hidup dalam ketidaksempurnaan, sedangkan gambaran surga memuat unsur-unsur yang serba sempurna: damai sempurna, kasih sempurna, terang yang sempruna, kemuliaan dan kebahagiaan sempurna, persatuan sempurna dengan Allah dan para kudusnya dalam kehidupan kekal. Santo Paulus mengatakan dalam 1Kor 2:9: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pemah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semuanya itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (bdk. KGK 1027).

 

2. Apa arti hidup di dalam surga?

”Hidup di dalam surga berarti ’ada bersama Kristus’. Kaum terpilih hidup ’di dalam Dia’, mempertahankan, atau lebih baik dikatakan, menemukan identitasnya yang sebenarnya, namanya sendiri” (KGK 1025).

 

3. Siapakah yang boleh masuk surga?

Yang boleh masuk surga adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah dan disucikan sepenuhnya. Mereka akan hidup bersama dengan Kristus selama-lamanya dan diperkenankan memandang Allah dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:2) dari muka ke muka (KGK 1023). Memandang Allah dalam kemuliaan surgawi-Nya biasa disebut sebagai ”pandangan yang membahagiakan” (Visio beatifica). Paus Benediktus XII mewakili pendapat Gereja Katolik menyatakan: ”Kami mendefinisikan, berkat wewenang apostolik, bahwa menurut penetapan Allah yang umum, jiwa-jiwa semua orang kudus … dan umat beriman yang lain, yang mati sesudah menerima Pembaptisan suci Kristus, kalau mereka memang tidak memerlukan suatu penyucian ketika mereka mati, … atau, kalaupun ada sesuatu yang harus disucikan atau akan disucikan, ketika mereka disucikan setelah mati, … sudah sebelum mereka mengenakan kembali tubuhnya dan sebelum pengadilan umum, sesudah Kenaikan Tuhan, dan

Penyelamat kita Yesus Kristus ke surga sudah berada dan akan berada di surga, dalam Kerajaan surga dan firdaus surgawi bersama Kristus, sudah bergabung pada persekutuan para malaikat yang kudus, dan sesudah penderitaan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus, jiwa-jiwa ini sudah melihat dan sungguh melihat hakikat ilahi dengan suatu pandangan langsung, dan bahkan dari muka ke muka, tanpa perantaraan makhluk apa pun” (Benediktus XII: OS 1000; bdk. LG 49).

 

4. Persekutuan para kudus itu apa?

Persekutuan para kudus (bhs. Latin: communio sanctorum) adalah persekutuan dari seluruh anggota Gereja yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang sudah berada di surga maupun yang masih di api penyucian. Dengan demikian anggota dari persekutuan para kudus ada tiga kelompok, yaitu: mereka yang masih ada di dunia, mereka yang sedang mengalami penyucian, dan mereka yang sudah mengalami kebahagiaan surgawi (KGK 1475). Persekutuan ini dipersatukan sebagai Tubuh Mistik Kristus.

 

Anggota Gereja yang masih hidup di dunia bersama-sama saling membantu dalam mengupayakan kesucian hidup, melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan mengakui iman yang sama. Anggota Gereja yang masih di dunia ini menyatakan kesatuannya dengan para kudus di surga dengan cara menghormati mereka, memohon pertolongan dan doa doa mereka, meneladan keutamaan hidup dan kekudusan mereka. Kesatuan dengan dengan jiwa-jiwa di api penyucian ditunjukkan oleh Gereja dengan mendoakan mereka dan melakukan perbuatan silih serta perbuatan baik demi keselamatan mereka. Para kudus di surga tetap ada dalam kesatuan dengan umat manusia yang sedang berjuang menguduskan diri di dunia ini maupun di api penyucian.

 

5. Apa kata Konsili Vatikan II tentang jasa para kudus di surga bagi kita di dunia ini?

Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium art. 49) mengatakan bahwa persatuan antara kita yang masih berada di dunia dengan para kudus di surga tidak terputus bahkan semakin diteguhkan. Mereka yang telah bersatu dengan Kristus membantu penyempurnaan hidup para anggota Gereja di dunia, menjadi perantara doa bagi kita. Sebagai saudara dalam Kristus, para kudus di surga membantu kita yang masih ada dalam kelemahan.

 

6. Apakah peranan Yesus Kristus dalam membawa manusia beriman untuk masuk surga?

Yesus mengalami kematian dan kebangkitan bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi demi seluruh umat manusia. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah ”membuka” pintu surga bagi kita. Karunia hidup surgawi bagi umat manusia adalah buah penebusan Kristus. Dia mengundang semua umat manusia yang percaya dan setia pada-Nya untuk mengambil bagian dalam kemuliaan surgawi, di mana semuanya hidup bersatu dalam kebahagiaan dan kehidupan sejati dengan Dia (KGK 1026). Dengan demikian, peran Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit adalah sebagai penyelamat sekaligus sebagai pengantara keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

Apa itu Neraka?

Istilah “neraka” sebenarnya dipakai untuk menunjuk pengertian “lubang” (hole, hollow). Sebagai kata benda yang dibentuk dari kata “helan” atau behelian yang artinya: tempat tersembunyi. Karena itu pengertian neraka pada prinsipnya menunjuk suatu tempat yang gelap dan tempat yang tersembunyi. Istilah neraka dari bahasa Latin adalah inferum, inferi. Kata infernus berasal dari akar kata “in” yang menunjuk

suatu tempat di dalam dan berada di bawah bumi. Neraka dalam bahasa Yunani adalah Hades. Pengertian Hades berasal dari akar kata “fid” yang menunjuk pada sesuatu tempat yang tersembunyi, gelap dan tidak terlihat

oleh mata. Neraka dalam bahasa Ibrani adalah Sheol atau Gehena. Pengertian Gehenna berasal dari kata gê-hinnom (Neh. 11:30), atau gê-ben-hinnom (Yos. 15:8), dan gê-benê-hinnom (2 Raj. 23:10) “lembah anak-anak Hinom. Nama

tempat lembah Hinom sekarang adalah Wadi er-rababi .Jadi istilah sheol menunjuk kepada keadaan tenggelam, berada di suatu lubang, atau gua yang berada di bawah bumi

 

Dalam pengertian gereja Roma Katolik, kata neraka dipergunakan istilah infernus, yang menunjuk kepada pengertian

yang berbeda-beda, yaitu:

a. Tempat penghukuman yang dikhususkan bagi iblis, setan dan manusia yang hidupnya sangat jahat.

b. Tempat penghukuman bagi anak-anak yang belum sempat dibaptis (limbus parvulorum) atau orang-orang yang

mewarisi dosa asal, tetapi tanpa dosa-dosa yang mematikan. Sehingga setelah penghukuman tersebut lewat, mereka akan mewarisi keselamatan dan hidup kekal di dalam kerajaan sorga.

c. Tempat penghukuman bagi nenek-moyang umat percaya (limbo partum) yang wafat sebelum Kristus, sehingga mereka masih harus menunggu penyelamatan untuk masuk ke dalam kerajaan sorga. Dalam hal ini gereja Katolik meyakini bahwa saat Kristus wafat, rohNya pergi ke neraka untuk membebaskan roh dari orang-orang yang demikian (bandingkan I Petr. 3:19-20).

d. Tempat penyucian dosa (purgatorium), yang mana umat percaya sewaktu meninggal masih memiliki dosa-dosa ringan sehingga mereka harus terlebih dahulu mengalami penghukuman yang sifatnya temporal, setelah itu mereka diizinkan masuk ke dalam kerajaan sorga.

 

Menurut Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, pengertian neraka dipakai untuk menunjuk tempat penghukuman seperti gua yang gelap bagi malaikat-malaikatNya (2 Pet.2:4). Neraka sebagai jurang maut atau “abyss” (Luk. 8:31). Neraka sebagai tempat

penderitaan/ “place of torments” (Luk. 16:28). Neraka sebagai lautan api/ “pool of fire” (Why. 19:20). Neraka sebagai  dapur api/”furnace of fire” (Mat. 13:42, 50). Neraka sebagai tempat di mana api yang tak terpadamkan/”unquenchable

fire” (Mat. 3:12). Neraka sebagai suatu api yang kekal/”everlasting fire” (Mat.18:8; 25:41; Jud. 7). Neraka sebagai suatu keadaan di mana hanya ada kegelapan yang paling gelap/”exterior darkness” (Mat. 22:13; 25:30). Neraka merupakan  kegelapan yang paling dahsyat/”storm of darkness” (2 Pet. 2:17; Jude 13). Pengertian neraka juga dipakai untuk tempat  kebinasaan (apoleia), lihat Fil. 3:19. Keruntuhan dan kebinasaan (olethros). Lihat 1 Tim. 6:9. Kebinasaan selamalamatnya (olethros aionios). Lihat di 2 Tes. 1:9. Neraka dipakai untuk menunjuk kebinasaan dalam dagingnya (phthora). Lihat di Gal. 6:8. Neraka sebagai suatu kematian (Rom. 6:21). Neraka sebagai “kematian kedua” (Why.2:11).

 

KGK 1033 menyebutkan  neraka sebagai sebuah keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus. Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah (KGK 1035). Penderitaan jiwa-jiwa di neraka akan berlangsung selama-lamanya. Kitab Suci memakai gambaran simbolik tentang neraka, yaitu bagaikan ”perapian yang menyala-nyala”, ”api yang tak terpadamkan” (gehenna). Tradisi Gereja menyebut neraka sebagai tempat atau keadaan di mana setan-setan dan para pendosa yang tidak bertobat menderita untuk selama-lamanya (DS 1002). Paham mengenai neraka saat ini lebih menekankan segi keterpisahan secara definitif dari perseklutuan dengan Allah, yang berlangsung selamalamanya. Dalam arti inilah kehidupan dalam neraka merupakan suatu penderitaan. Gereja mengajarkan bahwa ada neraka dan bahwa neraka itu berlangsung untuk selama-lamanya.

 

 Siapakah yang masuk neraka?

Mereka yang masuk neraka adalah orang yang dengan sukarela memutuskan untuk tidak mencintai Allah, mereka yang berada dosa berat tanpa menyesalinya, tidak mau menerima belaskasih Allah, tidak mau mengasihi sesama lebih-lebih kaum lemah, mengingkari Tuhan dengan sukarela. KGK 1035 menyatakan: ”Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, ”api abadi”. Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.” Namun demikian, Tuhan tidak pernah menentukan lebih dahulu siapakah yang akan masuk neraka. Penderitaan di neraka berpangkal dari suatu pilihan bebas. Tidak ada seorang pun ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan supaya masuk ke dalam neraka; hanya pengingkaran secara sukarela terhadap Tuhan (dosa

berat), di mana orang bertahan sampai akhir, mengantarnya ke sana (KGK 1037).

 

 Apa maksud Gereja dengan pengajaran tentang neraka?

Gereja mengajarkan adanya neraka dengan maksud untuk memperingatkan umat Katolik agar mempergunakan kebebasannya secara bertanggungjawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya di saat nanti (KGK 1036). Bukan maksud Gereja untuk menakutnakuti, tetapi tujuannya adalah untuk mengajak orang Katolik agar bertobat. Konsili Vatikan II mengajarkan: ”Karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya (saat Tuhan memanggil kita), atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja, kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati, dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas, diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam kegelapan di luar, tempat ’ratapan dan kertakan gigi ” (LG 48).

 

 Api penyucian itu apa?

Dalam bahasa Latin, api penyucian disebut purgatorium, artinya pembersihan. Sebenarnya bahasa resmi Gereja tidak menyebutnya sebagai api, tetapi hanya penyucian saja, artinya tahap terakhir dalam proses pemurnian sebelum masuk surga. Dalam KGK 1030 dikatakan bahwa ”Api penyucian” adalah keadaan yang harus dialami oleh orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Keselamatan abadi sudah jelas baginya, namun dia harus menjalani penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu agar diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan surgawi. Dengan demikian Api penyucian bukanlah tempat antara surga dan neraka, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai proses untuk masuk surga. Santo Gregorius Agung mengatakan:

”Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ’di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak’ (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, beberapa dosa yang lain diampuni di dunia lain” (Gregorius Agung, dial. 4,39). Bapa-Bapa Gereja lainnya yang menulis tentang proses pemurnian sesudah kematian dan perlunya mendoakan orang yang sudah meninggal adalah: St. Klemens dari Aleksandria (150-215), Origenes (185-254), S. Yohanes Krisostomus (347-407), Tertulianus (160-225), St. Cyprianus (meninggal th 258), St. Agustinus dari Hippo (354-430). Dari banyaknya tulisan para Bapa Gereja, terbukti bahwa keyakinan akan adanya api penyucian sudah dimiliki dan diajarkan oleh Gereja Katolik sejak abad-abad pertama.

 

Siapakah yang akan masuk ke api penyucian?

Yang harus masuk api penyucian adalah mereka yang belum siap masuk surga karena masih mempunyai banyak cacat-cela dan akibat-akibat dosanya masih melekat. Mereka adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Mereka bukanlah calon penghuni neraka, karena mereka yang sudah positif dan definitif masuk neraka tidak perlu mengalami api penyucian. Bagi orang yang masuk neraka tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan keselamatan. Lain dengan mereka yang harus mengalami proses pemurnian di api penyucian. Sudah lama Gereja mengajarkan adanya api penyucian. Namun, rumusan secara resmi baru dinyatakan dalam konsili di Florence (1439-1445) dan Trente (1545-1563). Lalu berapa lama jiwa-jiwa harus berada di api penyucian? Sulit menjawab pertanyaan ini, karena keadaan di api penyucian tidak dapat dihitung menurut ukuran waktu kita di dunia ini.

 

Apa dasar Kitab Suci tentang api penyucian atau purgatorium?

2Mak 12:38-45: Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam. Mereka tiba pada hari yang ketujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat dan merayakan hari Sabat di situ. Pada hari berikutnya waktu hal itu menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kerabat mereka mengebumikan jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang. Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

 

1Kor 3:11-15:  Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

(Dapat dilihat juga Mat 5:25-26; 12:31-32 yang secara tidak langsung menyebut adanya api penyucian)

 

Apakah jiwa-jiwa di api penyucian perlu didoakan?

Jelas bahwa jiwa-jiwa di api penyucian amat membutuhkan doa-doa kita yang masih hidup di dunia ini. Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan.

Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi dan karya penitensi demi orang-orang mati (KGK 1032). Jiwa-jiwa di api penyucian akan dapat ditolong doa-doa, amal atau silih yang kita lakukan demi mereka, dan belas kasih Allah. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan: ”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Ka1au anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh Kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka”. Konsili Lyons II (1274) dan Konsili Florence (1438-1445) mengajarkan dengan jelas tentang proses pemurnian setelah kematian dan perlunya doa serta karya saleh yang dipersembahkan untuk keselamatan mereka.

 

Apa itu indulgensi?

Indulgensi adalah penghapusan dari hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa yang sudah disesali dan diampuni. Selama hidup di dunia, ada dosa-dosa yang sudah disesali dan diampuni, namun masih ada hukuman yang harus ditanggung di api penyucian. Indulgensi diperoleh dari Tuhan dengan kewenangan yang diberikan kepada Gereja berkat tindakan amal saleh dan doa-doa tertentu yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Hak dan kewenangan untuk memberi indulgensi pada dasarnya dipegang oleh Tahta Suci. Paus Paulus VI (1967) menegaskan kembali ajaran mengenai indulgensi ini dalam Konstitusi Apostolik Indulgentiarum Doctrina.

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 992 dikatakan: ”Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan dan dirumuskan, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para kudus.

tradisi mennyapat tahun dalam masyarakat dayak di kab. sukamara

Natai sedawak adalah sebuah desa yang merupakan bagian dari kabupaten sukamara. Asal mula tradisi tahunan dalam kehidupan masyarakat dayak di natai sedawak ini berkaitan erat dengan interaksi masyarakat pemula di tempat ini dengan masyarakat dayak yang berasal dari daerah tanjung yang merupakan bagian dari kabupaten ketapang, Kalimantan Barat. Dalam perkembangan interaksinya, kemudian terjadilah pernikahan antara kedua masyarakat dayak yang berasal dari dua tempat yang berbeda ini. Pernikahan diantara mereka menyebabkan beberapa dari masyarakat tanjung tersebut harus tinggal dan menetap di daerah natai sedawak. Hingga akhirnya dalam perkembangan kehidupan mereka, akhirnya tradisi menyapat tahun ini pun teradopsi menjadi suatu budaya atau tradisi yang tetap mereka yakini dan laksanakan hingga saat ini.

2.2   Tujuan Tradisi Tahunan Dalam Keyakinan Masyarakat Dayak 

 

Sebagaimana kehidupan masyarakat dayak  pada umumnya yang hidup berdampingan dengan alam dan meyakini adanya kekuatan- kekuatan yang mempengaruhi kehidupan manusia, masyarakat dayak di daerah natai sedawak pun meyakini hal tersebut. Dalam tradisi ini, terlihat jelas pengungkapan kehidupan mereka yang meyakini adanya pengaruh antra kekuatan alam dan kehidupan manusia. Tradisi ini dilaksanakan satu kali dalam setiap tahunnya, dan terbagi dalam dua rangkaian acara pada waktu yang berbeda yakni upacara menyapat tahun dan upacara mendarai tahun/ membaharui panen. Pada dasarnya, jika dipandang dari sudut pandang ilmu pengetahuan ritual adat menyapat tahun adalah suatu upacara yang diadakan untuk memohon berkat bagi hasil panen dan segenap kehidupan yang akan dijalani ditahun baru yang akan dijalani kemudian, sementara upacara mendarai tahun sebagai pengungkapan rasa syukur atas hasil panenan yang telah diterima, yakni dengan mempersembahkan hasil panen terlebih dahulu kepada roh- roh penghuni kampung tersebut sebelum mereka sendiri yang menikmatinya.

Upacara yang terbagi menjadi dua bagian ini selalu dilaksanakan ketika masyarakat di desa natai sedawak  akan memulai dan mengakhiri panen yang biasanya berpatokan pada panen padi yang mereka taman di ladang pindah. Masyarakat dayak ditempat ini meyakini bahwa dengan mengakhiri tahun panen dengan upacara menyapat tahun mereka beserta segenap isi kampung tersebut akan mendapat berkat bagi hasil panenan mereka yang akan datang dengan mempersembahkan apa yang telah mereka dapatkan terlebih dahulu kepada roh- roh penghuni kampung sebagai ungkapan syukur mereka maka mereka dapat menyilih segala kesalahan dan kecemaran- kecemaran yang telah dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dalam kampung tersebut seperti sumpah serapah, perkelahian, dan sebagainya, melalui upacara ini juga mereka meyakini bahwa mereka akan dijauhkan dari segala mala petaka, bencana alam, kelaparan, dan kerusuhan yang akan menimpa kampung mereka.  

2.3  Tatanan Upacara Adat Menyapat Tahun

Tradisi menyapat tahun diadakan ketika masyarakat dayak ditempat ini akan memulai pembangunan ladang pindah yang akan menjadi tempat bagi mereka untuk menanam padi dan berbagai jenis sayuran tradisional yakni sekitar bulan mei atau juni. Maka sebelum mereka mulai menggarap ladang- ladang mereka (menebas, menebang, membakar, dan menugal/ menanam padi) yang seringkali mereka kerjakan bersama- sama secara bergantian yang disebut dengan juruk mereka harus mengadakan upacara ini. Menyapat sendiri, dalam bahasa Indonesia berarti membatasi atau memisahkan. Maka menyapat tahun sendiri berarti memisahkan antara tahun yang telah mereka lalui dan tahun yang akan mereka jalani kemudian. Dalam upacara ini, para penatua kampung menyampaikan kepada roh- roh yang diyakini sebagai penunggu kampung tersebut penghantaran tahun yang telah mereka lalui dan penjemputan yang mereka lakukan terhadap tahun yang akan mereka jalani kemudian beserta segala berkat bagi kehidupan masyarakat ditempat tersebut, dan segala hasil panen yang akan mereka terima. Penyampaian niat merekalah yang kemudian menghadirkan tradisi ini, dimana mereka harus mengadakan sebuah upacara penghantaran ancak (sesajen) yang kemudian dilanjutkan dengan pesta Begendang yang diiringi dengan musik- musik tabuhan tradisional Kalimantan seperti gong, kelenang, dan gendang.

Hal pertama yang dilakukan sebelum upacara ini dilangsungkan adalah pemberitahuan kepada seluruh masyarakat di kampung tersebut yang dilakukan oleh seorang yang memang ditugaskan oleh ketua adat di kampung tersebut untuk melakukannya. Seminggu atau beberapa hari menjelang dilaksanakannnya upacara adat btersebut, maka orang yang telah ditugaskan tersebut wajib mendatangi setiap rumah penduduk, memberitahukan akan diadakannya upacara menyapat tahun, serta memohon partisipasi masyarakat dengan memberikan sumbangan yang telah ditetapkan sesuai proposal anggaran yang telah ditentukan bersama oleh para pengurus kampung yang telah membicarakan bersama pelangsungan upacara ersebut, misalnya setiap keluarga diharapkan menyumbangkan uang sebesar sepuluh ribu, beras sebanyak satu kilo gram, dan tuak (minuman tradisional masyarakat dayak yang mengandung alcohol) sebanyak satu botol. Dalam kebiasaan yang telah berlangsung, dalam tahap ini masyarakat diharapkan untuk memberikan uang sumbangan pada saat yang bersamaan ketika seorang yang ditugaskan untuk memberitahukan akan dilaksanakannya upacara menyapat tahun tersebut, sementara beras dan tuak yang juga diwajibkan untuk diberikan sebagai sumbangan akan diantar sendiri oleh si pemilik rumah yang telah di beri tahu akan diadakannya upacara menyapat tahun kerumah berlangsungnya upacara tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan, pagi- pagi sekali masyarakat berkumpul bersama- sama untuk mempersiapkan ucara tersebut. Para wanita berkumpul untuk memasak nasi, sayur, dan berbagai hal yang diperlukan. Semeentara para pria mempersiapkan hal- hal yang berkaitan dengan jalannya upacara, seperti membantu para wanita yang memasak, mencari bambu, membersihkan dan memolesnya dengan minyak kelapa, mengolahnya menjadi bilah dan menatanya menjadi ancak tempat sesajen, serta barang- barang yang harus dipersiapkan sebagai sesajen. Hal yang perlu diingat dalam mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan pelaksanaan upacara adat ini adalah bahwa semua barang yang diperlukan sebagai sesajen dalam upacara ini harus dikerjakan pada hari ini dan tidak boleh dipersiapkan pada hari- hari sebelumnya. Menurut kepercayaan masyarakat, persiapan yang telah dilakukan pada hari- hari sebelum upacara tersebut dilangsungkan akan menyebabkan sesajen tersebut menjadi basi dan idak diterima para roh- roh penghuni kampong yang naninya akan menerima persembahan tersebut, sehingga kemudian dampaknya pun akan menjadi tidak baik bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di desa tersebut, seperti mereka tidak akan menerima hasil panen yang baik, erserang wabah penyakit, dan sebagainya.

Upacara ini memerlukan lima buah ancak yang akan diisi penuh dengan berbagai sesajen sperti:

*    Satu ekor ayam yang dibelah menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah ancak, ancak yang berisi bagian dari kepala ayam harus diletakkan dibawah sebatang pohon durian,

*      kue- kue yang meliputi berbagai bentuk seperti cincin, gelang, kalung, bintang, bulan, beliung, kapak, kelamai (kue berupa bola- bola yang berbentuk semacam bubur dengan santan dan gula merah)  dsb,  

*      Sengkatik/ Nasi beruas yang ditanak di dalam bamboo sebanyak dua ruas bamboo, beras biasa dan beras ketan,

*      Dua buah ketupat kecil terbuat dari daun kelapa yang  juga berisi nasi ketan dan nasi biasa,

*      Bubur merah ( bubur yang dicampur dengan kesumba atau gula merah) dan bubur putih

*      Dua buah lumpang (ruas buluh yang dipotong dan dijadikan cangkir) yang berisi tuak dan air

*      Rokok kerapitan yakni rokok yang dibuat dari tembakau dan dibungkus dengan daun untuk merokok, beserta sebuah perlengkapan menginang yang telah digulung dan disatukan  dalam selembar daun sirih, meliputi kapur, gambir, dan pinang. Rokok dan kerapitan ini kemudian diikat dengan sobekan tali kapua (tali yang terbuat dari kulit pohon ) secukupnya.

*      Dua buah bendera dengan warna yang berpasang- pasangan (merah, kuning, hijau, atau putih) berukuran kurang lebih satu jari, dan ditihangi dengan lidi kelapa ditaruh pada masing- masing ancak.

*      Lima batang bambu  yang akan dijadikan tempat untuk menggantung ancak disetiap tempat yang telah ditentukan.

Selain berbagai perlengkapan diatas yang diperlukan sebagai perlengkapan sesajen, barang- barang lainnya yang juga digunakan sebelum prosesi penghantara kelima ancak ini adalah;

*   Beras kuning (beras yang diwarnai dengan menggunakan kunyit) dan beras putih yang ditempatkan dalam sebuah mangkuk dan akan dimanfaatkan sebagai penyabur ancak sebelum dihantar kemasing- masing tempat yang akan dituju.

*   Perapian yang terbuat dari bara api yang ditempatkan pada sebuah tempurung kelapa paruh bagian atasnya, dimanfaatkan sebagai tempat pembakaran berbagai wewangian tradisional seperti gaharu, menyan, dan tentanjan sebagai ukupan yang harus dilaksanakan diatas ancak sesajen sebelum dipersembahkan/ dihantar ke tempat yang telah ditentukan.

Selain barang- barang yang digunakan sebagai sesajen dan perlengkapan yang diperlukan saat pemberangkatan sesajen, hal yang  juga perlu disiapkan adalah perlengkapan barang- barang yang diperlukan untuk pemiringan beras, yakni beras ketan dan beras biasa serata telur ayam yang masing- masing dimasukkan kedalam piring sebanyak sebanyak sepuluh buah. Beras- beras ini dipersiapkan pada hari yang sama saat upacara tersebut akan dilaksanakan sebagaimana yang diberlakukan terhadap persiapan- persiapan yang lainnya. Setelah upacara ini selesai, beras- beras ini tetap dilaminkan dan ditutup dengan kain batik panjang dirumah ketua adat tersebut selama tiga hari, setelah itu barulah beras tersebut diberikan kepada para penatua yang telah menghantar ancak- ancak sesajen tersebut pada saat peristiwa tersebut berlangsung. Satu orang mendapatkan masing- masing satu piring takaran beras ketan dan satu piring takaran beras biasa serta sebutir telur sebagai upah yang wajib diberikan dari beras- beras yang telah disiapkan dan dilaminkan selama tiga hari tersebut.

 Setelah segala sesuatu yang harus dipersiapkan tersebut telah siap, maka upacara penghantaran ancak tersebut pun akan segera dilakukan. Kelima ancak yang telah diisi dengan berbagai macam bahan sesaji tersebut ditenpatkan ditengah rumah.  Bersama dengan orang- orang yang telah berkumpul dirumah tersebut kepala adat pun memulai prosesi adat tahunan ini. Ancak yang telah disiapkan ditengah rumah tersebut di diukupi dengan perapian yang telah dicampur dengan wewangian tradisional sebagaimana yang telah disampaikan diatas. Seraya mengucapkan mantra- mantra yang berisi harapan- harapan masyarakat di desa tersebut, kelima ancak tersebut pun disabur/ ditaburi dengan beras kuning dan beras putih yang telah dipersiapkan. Kemudian kepala adat mengangkat sebuah ancak yang disebut sebagai ancak kepala yakni ancak yang berisi bagian kepala dari ayam yang dipotong menjadi lima bagian sebagai sesajen, mengambukan/ mengayunkan ancak tersebutkearah matahari hidup dan kearah matahari mati sebanyak delapan kali yang menandakan sebagai penyambutan sebuah kehidupan baru dan penolakan segala marabahaya, agar segala marabahaya tersebut pergi kedunianya yakni dunia orang mati/ dunia matahari mati. Kemudian ancak- ancak inipun dihantar ke tempat tempat yang telah ditentukan oleh para tetua yang telah dipilih sebagai orang yang menguasai mantra- mantra atau tatau- mamang penyerahan sesajen tersebut. Adapun tempat- tempat tersebut yakni;

*      Ancak kepala, ditaruh diatas sebatang bamboo yang dicangkang empat dan diletakkan dibawah sebuan pohon durian perkampungan yang disebut dengan Durian Sengkabungan. Ancak ini dipersembahkan kepada Kepampakuk Burung Buah, Patih Jirau Bujang Landum sebagai pengungkpan harapan masyarakat akan hasil buah- buahan tahunan yang baik seperti padi, durian, duku, langsat, manggis, rambutan, asam kuini, asam sembawang, asam Kalimantan, dan sebagainya.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bambu diletakkan ditengah kampong, yakni di depan rumah kepala adat yang menyelenggarakan upacara tersebut, sebagai pengungkapan harapan akan kampong yang aman, damai tenang dan tentram serta penuh berkat.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bamboo dan diletakkan ditepi sungai yang terdapat di kampong tersebut, dipersembahkan kepada roh yang memellihara kehidupan di dalam air dengan harapan agar masyarakat boleh memperoleh berkat dalam mencari ikan dan sebagainya yang berkaitan dengan sungai.

*      Dua buah ancak lainya juga ditaruh pada batang bamboo dam diletaakkan pada setiap muara/ jalan masuk menuju kampong tersebut. Ancak ini dipersembahkan kepada roh- roh yang diyakini masyarakat dayak sebagai penunggu tanah yakni Abu Basar Abu Basir Dtauk Gandum Jembalanng Tanah dengan harapan mereka akan memperoleh berkat derkaitan dengann  kehidupan mereka dalam kampong tersebut, terhindar dari segala sakit penyakit yang disebabkan karena murkanya roh- roh penghuni tanah kampong dimana mereka tinggal.

Seusai prosesi penghantaran kelima ancak tersebut, masyarakat melanjutkan prosesi upacara tersebut dengan upacara bergendang bersama sampai pada malam harinya. Melalui pesta ini mereka mengungkapkan sukacita mereka yang telah berhasil melalui tahun dimana mereka boleh memperoleh segala berkat dan hasil panen dalam semangat kekeluargaan. Setelah mengakhiriri pesta penyapatan tahun ini, keesokan harinnya masyarakat dayak di tempat memiliki beberapa pantangan yang wajib mereka lakukan yakni tidak boleh boleh membunuh barang/ benda bernyawa, termasuk memetik dedaunan, memancing, menuba, menangguk ikan, serta pergi kekebun. Bagi kepala kampong, pantangan ini berlangsung selama tiga hari, sementara bagi masyarakat, pantangan ini hanya berlangsung selama satu hari saja. Ketika kepala kampong mengetahui adanya masyarakat yang melanggar pantangan yang telah ditetapkan ini, maka ia wajib memberikan hukuman denda yang wajib ditanggung oleh orang yang melanggar pantangan tersebut. Denda yang harus dibayar dapat berupa mangkuk atau piring yang berisi cincin dan gelang terbuat dari kawat serta tampung tawar yang terbuat dari beras kuning bercampur dengan potongan dari daun hidup- hidup yang kemudian akan dihantarkan oleh ketua adat kampong tersebut kebawah pohon durian dimana diletakkan ancak kepala.

2.4  Tatanan Upacara Adat Men’dara’i  Tahun

Upacara adat mendarai tahun yang merupakan rangkaian dari upacaratahuna masyarakat dayak yang biasanya dilaksanakan saat masyarakat dayak di desa natai sedawak memulai panen padi mereka yakni sekitar bulan februari atau maret. Pada dasarnya, rangkaian upacara ini sama dengan upacara menyapat tahun, namun makna dari upacara ini lebih pada sebagai ungkapan syukur atas panen yang baru akan mereka lakukan. Beberapa hal yang membedakan antar keduanya adalah penggunaan ancak pada upacara adata mendarai tahun hanyalah sebanyak empat buah serta isi-isian didalamnya yang sedikit berbebeda dengan pengisian ancak pada prosesi adat menyapat tahun.

Empat buah ancak yang digunakan dalam prosesi adat mendarai tahun inni adalah ancak- ancak yang anak dihantar kebeberapa tempat sebagaimana dalam upacara adat menyapat tahun yakni;

*     Ancak kepala, ditaruh diatas sebatang bamboo yang dicangkang empat dan diletakkan dibawah sebuan pohon durian perkampungan yang disebut dengan Durian Sengkabungan. Ancak ini dipersembahkan kepada Kepampakuk Burung Buah, Patih Jirau Bujang Landum sebagai pengungkpan harapan masyarakat akan hasil buah- buahan tahunan yang baik seperti padi, durian, duku, langsat, manggis, rambutan, dsb.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bamboo dan diletakkan ditepi sungai yang terdapat di kampong tersebut, dipersembahkan kepada roh yang memellihara kehidupan di dalam air dengan harapan agar masyarakat boleh memperoleh berkat dalam mencari ikan dan sebagainya yang berkaitan dengan sungai.

*      Dua buah ancak lainya juga ditaruh pada batang bamboo dam diletaakkan pada setiap muara/ jalan masuk menuju kampong tersebut. Ancak ini dipersembahkan kepada roh- roh yang diyakini masyarakat dayak sebagai penunggu tanah yakni Abu Basar Abu Basir Dtauk Gandum Jembalanng Tanah dengan harapan mereka akan memperoleh berkat derkaitan dengann  kehidupan mereka dalam kampong tersebut, terhindar dari segala sakit penyakit yang disebabkan karena murkanya roh- roh penghuni tanah kampong dimana mereka tinggal.

Adapun  beberapa hal yang membedakan pengisian sesajen pada upacara adat mendarai tahu ini adalah sebagai berikut;

*      Tujuh tangkai padi yang baru dipetik dari ladang yang telah mulai dipanen dan diisikan pada setiap ancak.

*      Kembang tahun, yaitu bunga yang biasa ditabur diladang tempat menanam padi biasanya terdiri atas warna merah hati, kuning, putih, dan orange.

*      Buah- buah tahunan seperti buah duku, langsat, isi durian, rambutan, dsb

*      Beras baru, beras yang berasal dari padi yang baru dipanen dan di ukupi sebelum proses pengolahannya.

*      ekor ayam yang dibelah menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah ancak, ancak yang berisi bagian dari kepala ayam harus diletakkan dibawah sebatang pohon durian,

*      Sengkatik/ Nasi beruas yang ditanak di dalam bamboo sebanyak dua ruas bamboo, beras biasa dan beras ketan,

*      Dua buah ketupat kecil terbuat dari daun kelapa yang  juga berisi nasi ketan dan nasi biasa,

*      Bubur merah ( bubur yang dicampur dengan kesumba atau gula merah) dan bubur putih

*      Dua buah lumpang (ruas buluh yang dipotong dan dijadikan cangkir) yang berisi tuak dan air

*      Rokok kerapitan yakni rokok yang dibuat dari tembakau dan dibungkus dengan daun untuk merokok, beserta sebuah perlengkapan menginang yang telah digulung dan disatukan  dalam selembar daun sirih, meliputi kapur, gambir, dan pinang. Rokok dan kerapitan ini kemudian diikat dengan sobekan tali kapua (tali yang terbuat dari kulit pohon ) secukupnya.

*      Dua buah bendera dengan warna yang berpasang- pasangan (merah, kuning, hijau, atau putih) berukuran kurang lebih satu jari, dan ditihangi dengan lidi kelapa ditaruh pada masing- masing ancak.

*      Empat  batang bambu  yang akan dijadikan tempat untuk menggantung ancak disetiap tempat yang telah ditentukan.

Selain dari hal- hal diatas, tidak ada hal lain yang membedakan antara upacara menyapat tahun dan upacara mendarai tahun. Sebagaimana juga rangkaian upacaranya yang dimulai dengan pemberitahuan kepada warga masyarakat yang tinggal di kampong tersebut, persiapan, pengukupan ancak, penghantaran ancak, serta pesta yang diselenggarakan sebagai sebuah keluarga besar.

REKSA PASTORAL DAN KATEKESE BAGI BERAKARNYA IMAN KRISTIANI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

 

Melalui sebuah inisiasi, seseorang akan masuk kedalam sebuah kelompok persekutuan baru yakni persekutuan gerejawi. Berapa besar perhatian dan pandangan akan pentingnya hal ini bagi seorang yang akan menerima sakramen inisiasi tentu akan menentukan dan mempengaruhi semangat militansi dan kehidupan imannya kelak setelah ia disahkan sebagai seorang anggota gereja. Semakin mudah dan kurangnya pandangan akan pentingnya hal ini pun tentu juga akan memiliki pengaruh negatif, seperti tidak adanya semangat militansi iman dan pandangan bahwa liturgi inisiasi hanyalah sebuah seremonial belaka yang berlalu begitu saja tampa implikasi dan efektifitas terhadap orang yang menerimanya. Sementara gereja dalam teologinya meyakini bahwa liturgiinisiasi ini adalah upacara simbolik yang mempersatukan seseorang kedalam persekutuan gereja yang dilandasi oleh ajaran Kristus sendiri, “ pergilah, jadikanlah seluruh bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu ” (Mat 28:19,20).

Dengan dasar yang demikian maka Inisiasi adalah sebuah titik tolah kehidupan iman yang harusnya mendapatkan sebuah perhatian khusus dari seorang katekis ataupun para kateket. Namun fakta- fakta yang ada dalam kehidupan menggereja menyatakan bahwa seringkali umat meninggalkan iman katolik yang dimilikinya dengan alasan– alasan yang sangat manusiawi  dan bukan berdasarkan pandangan teologis, seperti mereka meninggalkan agama katolik kaena peribadatan di gereja- gereja reformasi lainnya lebih meriah, seorang wanita meninggalkan iman katoliknya hanya untuk menikah dengan seorang laki- laki yang beragama lain, atau sebaliknya. Realitas ini layaknya seperti sebuah kepahitan yang harus ditelan dengan paksa oleh gereja dalam perjalalanan panjangnya di dunia. Dengan realita ini pula hendaknya para kandidat katekis memiliki keprihatinan dan tinjauan serta reksa- reksa pastoral yang mungkin kelak akan dilakukannya bersama umat dan para imam dimana ia akan berkarya sebagai seorang pewarta sabda.

 

1.2        Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang penulisan diatas, maka penulis ingin mengangkat permasalahan pokok berkaitan dengan hal tersebut yakni bagaimana meningkatkan kesadaran  umat akan pentingnya sakramen inisiasi yang merupakan sebuah titik tolak menuju sebuah kehidupan iman sebagai seorang anggota gereja. Maka beberapa pertanyaan penuntun dalam pemecahan masalah sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang tersebut adalah sebagai berikut;

1.      Hal –hal apa saja yang menyebabkan umat tidak berakar dalam kehidupan imannya?

2.      Bagaimana reksa pastoral dan katekese untuk menyikapi hal tersebut?

3.      Apakah sumbangan studi inisiasi bagi seorang katekis dalam pelaksanaan tugas pastoralnya?  

 

1.3            Tujuan penulisan

 

Berdasarkan  rumusan masalah diatas, maka beberapa tujuan dari  dalam penulisan  karya ilmiah ini adalah sebagai berikut;

1.      Meninjau kembali sejauh mana pemahaman umat akan sakramen inisiasi, telebih umat- umat yang baru dibaptis dan disahkan sebgai seorang anggota gereja.

2.      Meninjau kembali peran katekis sebagai pengajar dan peran serta umat dalam kehidupan beriman.

3.      Mempelajari  reksa pastoral dan katekese yang mungkin bagi berakarnya iman umat, khususnya berkaitan dengan sakramen inisiasi.

 

1.4            Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari makalah ini adalahsebagai berikut;

1.        Bab I yang merupakan pendahuluan berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

2.        Bab II yang merupakan isi berisikan hal- hal apa saja yang menyebabkan umat tidak berakar dalam imannya, bagaimana reksa pastoral dan katekese, serta apa yang menjadi sumbangan dari pengajaran inisiasi bagi seorang katekis.

3.        Bab III yang merupakan penutup berisikan kesimpulan dari apa yang telah dipaparkan pada bab I dan II.

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

Akar secara biologis adalah bagian pokok dari tumbuhan selain batang dan daun yang pada umumnya terdapat didalam tanah, menuju pusat bumi (geotrop), dan air (hidrotrop), menyerap unsur- unsur hara yang terdapat didalam tanah dengan pertumbuhan yang jauh lebih pesat dibandingkan dengan bagiantumbuhan yang ada di permukaan tanah. Jelaslah mengapa fungsi akar dikatakan sangat penting, tanpa akarnya sebatang tanaman tidak akan mampu untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tubuh tumbuhan itu sendiri. Tanpa akar, sebatang tumbuhan tidak akan dapat bertumbuh dengan baik kerena tumbuhan akan kekurangan air, garam-garam mineral, serta zat- zat makanan yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup, bagaimana sebatang tumbuhan akan dapat menyimpan cadangan makanannya atau melakukan respirasi jika ia tidak memiliki akar yang ia butuhkan sebagai sebuah dasar bagi hidupnya.

 

Pengontekstualan akar dalam kehidupan beriman tentunya ingin menyatakan betapa pentingnya iman bagi seorang katolik. Seorang katolik  diharapkan memiliki iman yang mendalam akan Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat. Sebuah iman yang seharusnya lebih besar dari pertumbuhan diri secara jasmani, yang kemudian menjadi dasar kehidupan dan tata cara dalam bertingkah laku. Akan tetapi, pada kenyataannya bahwa semakin  banyak fakta- fakta akan kekurang berakaran dan semakin menipsnya kehidupan beriman dewasa ini. Jika dibandingkan dengan kehidupan beriman orang- orang yang hidup jauh sebelum era globalisasi, kita bahkan dapat mengatakan bahwa kehidupan, semangat militansi, penghormatan, dan penghayatan yang mereka miliki bahkan jauh lebih baik daripada kebanyakan orang yang hidup pada masa kini. Hal ini dapat kita lihat bahwa semakin sedikitnya orang- orang ataupun generasi muda yang perduli terhadap kesusahan hidup yang dialami sesamanya, dengan mudahnya orang meninggalkan kekatolikannya demi sebuah jabatan atau keramaian di tempat- temat ataupun gereja lain ataupun bahkan demi seorang pasangan hidup, seberapa banyak orang yang pergi ke gereja dengan pakaian yang kurang sopan bagi perayaan Ekaristi Kudus, dan berapa banyakkah keluarga yang mengajarkan dan menekankan pentingnya kehidupan doa dalam keluarganya.

 

Mengapa pertanyaan mengenai umat yang tidak berakar dalam iman ini terus berakar dalam kehidupan gereja?

 

2.1 Mengapa Umat Tidak Berakar Dalam Imannya

 

Liturgi inisiasi atau sakramen inisiasi adalah bagian pokok yang harus diterima oleh seorang katolik sebelum ia disahkan menjadi seorang anggota gereja. Meliputi penerimaan Sakramen Baptis, Krisma, dan Ekaristi serta segala langkah- langkah yang harus dipenuhi didalamnya. Ensiklopedi gereja jilid iii H-J yang disusun oleh Adolf Heuken SJ menyatakan bahwa Inisiasii kristen adalah pembinaan bertahap manusia seluruhnya supaya menjadi orang kristiani  yang mengenal iman kristiani (pembinaan doktrinal), menghayatinya (pembinaan rohani), hidup dalam dan bersama umat (pembinaan liturgi) dan bersedia menjalankan pengutusannyadalam masyarakat (pembinaan apostolis). Dituliskan pula bahwa pangkal tolak seluruh proses ini adalah pertobatan, yang membawa seorang kedalam sebuah kelahiran baru dan menjadi anggota keluarga Allah. Dengan demikian, inisiasi kristen bukanlah hanya sebatas in+re yang berarti masuk kedalam atau memulai, melainkan juga harus memenuhi hal- hal sebagaimana yang dipaparkan dalam ensiklopedi gereja tersebut.

 

Jika demikian, apakah yang menyebabkan pertanyaan mengenai ketidak berakaran iman katolik terus berakar dari masa- kemasa dalam kehidupan menggereja?

 

Penyebab dari terus berakarnya pertanyaan “mengapa umat tidak berakar dalam kehidupan berimannya” tentu adalah pola- pola kehidupan umat yang bahkan telah dinyatakan sah sebagai anggota gereja (telah menerima sakramen inisiasi) bahkan tidak memiliki cara hidup yang jauh lebih baik  dari kehidupannya sebelum ia mengenal kristus serta kehidupan orang- orang yang berada di sekitarnya. Inisiasi kristen bahkan hanya dipandang sebagai sebuah momentum yang harus dilalui sebagai syarat untuk dapat diterima dalam sebuah kelompok, tanpa penghayatan yang kemudian akan berlalu  begitu saja sebagai sebuah mimpi manis yang pernah dialami. Seorang gadis di stasi Pudu Rundun, paroki Santo Petrus sukamara bahkan dengan mudahnya meninggalkan iman katoliknya tepat tiga hari setelah ia menerima sakramen Krisma dan Ekaristi pada tahun 2006, karena ia akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pemuda muslim. Siapakah yang patut untuk dipersalahkan dalam hal ini? Seorang gadis desa yang dengan pendidikan  minim yang ia miliki karena bahkan tidak melanjutkan sekolahnya kejenjang SLTP? seorang katekis yang harus membina umat dari tiga buah stasi yang diantaranya termasuk pusat paroki? ataukah pastor paroki yang pada  saat itu merupakan imam yang melayani Paroki Santo Petrus Sukamara secara berkala dari Paroki Santo Paulus Pangkalan Bun? 

 

Dengan melihat peristiwa ini, maka ndapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai hal- hal apa saja yang menjadi pemicu ketidakberakaran iman katolik dalam kehidupan umat sehingga kemudian pertanyaan ini terus berakar dalam kehidupan menggereja.

 

1.             Kurangnya tenaga pastoral

Disadari atau tidak satu hal tidak dapat dipungkiri adalah bahwa umat memerlukan imam, dan  gereja memerlukan tenaga pastoral untuk berkarya didalamnya dan melanjutkan hal- hal apa   saja yang dicita- citakan gereja. Akan tetapi, hingga saat ini kita dapat melihat dengan mudah betapa gereja sangat kekurangan tenaga untuk melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang dialami Paroki Santo Petrus Sukamara sebelum imam- imam CSsR datang dan menetap ditempat itu pada tahun 2008, bahwa paroki ini harus dilayani secara  berkala sebanyak satu kali dalam sebulan dari paroki santo Paulus pangkalan bun. Keadaan yang demikian menjadi lebih rumit ketika dihadapkan pula pada keadaan stasi- stasi yang  saling berjauhan. Sementara umat yang berada di stasi- stasi tersebut harus mendapatkan pelayanan. Dalam rentang waktu  yang sangat singkat, berapa banyakkah yang dapat dilakukan seorang imam? Adakah ia mempunyai banyak waktu untuk berbagi pengetahuan dan berbincang- bincang bersama umat sebagai pendekatan atau sebagi figur seorang gembala yang mengenal domba- dombanya. Dalam hal ini, bahkan untuk mengharapkan seorang katekis untuk berkarya secara aktif  pun sangat sulit, karena bahkan ada beberapa stasi yang tidak memiliki katekis dan didominasi oleh masyarakat dayak dengan pengetahuuan yang minim. Fakta laiannya ialah bahwa hal ini tidak hanya terjadi di paroki santo petrus sukamara melainkan juga di beberapa tempat di bumi tambun bungai ini, seperti juga beberapa stasi yang terdapat di pedalaman Murung raya dan sempat menjadi buah bibir kesaksian iman beberapa umat di lingkungan.

 

2.             Minimnya pembinaan penerimaan sakramen inisiasi

Minimnya pembinaan sakrmen inisiasi ini berkaitan erat dengan kurang aktifnya seorang katekis  dalam karyanya sebagai seorang yang serarusnya mempersiapkan secara matang dasar- dasar insiasi yang akan menjadi dasar kehidupan iman seorang kristiani. Bertolak dari apa yang pernah saya alami, ketika saya dan begitu banyak orang yang yang pada saat yang sama terdaftarkan sebagai seorang calon baptis ataupun calon penerimaan sakramen krisma, saya dapat merasakan minimnya pembinaan tersebut. Kami hanya menerima pengajaran melalui pertemuan di sekolah saat pelajaran agama berlangsung. Sebelum pembaptisan, kami hanya dikumpulkan satu kali diluar jam sekolah untuk membicarakan pemilihan nama baptis. Dampak hal ini sungguh sangat jelas bagi saya yang pada saat itu sekaligus dipersiapkan untuk menerima sakramen ekaristi, Sementara pembinaan yang saya dapatkan sangat minim. Hingga saya duduk dikelas dua SMA saya baru mengerti mengapa kita harus menghormati Ekaristi, dan mengapa kita tidak boleh tidur saat perayaan ekaristi berlangsung. Karena sebelumnya memeng tidak pernah dijelaskan mengapa ekaristi disebut sebagai tubuh dan darah Kristus sendiri dan hal- hal apa saja yang mendukung atau dapat membuktikan pernyataan tersebut. Jika seorang kristiani yang telah menerima sakramen Ekaristi yang adalah Tubuh dan Darah Kristus saja tidak memahami apa sebenarnya sakramen ekaristi itu sendiri, bagaimana mungkin ia dapat memiliki semangat militansi iman yang harus ia perjuangkan.

 

3.             Ketidakmampuan orang tua untuk mendidik iman anak dan ketidak bertanggungjawaban seorang wali baptis

Ketidak mampuan orangtua untuk mendidik anak- anaknya seturut ajaran iman kristiani adalah salah satu faktor yang menyebabkan ketidakberakaran iman umat. Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah minimnya pendidikan masyarakat daerah. Sebagaimana masyarakat dayak yang berada di desa natai sedawak. Desa ina hanya berjarak beberapa kilometer dari kecamatan sukamara, bahkan merupakan pusat perkantoran deerah kabupaten sukamara sendiri. Namun hal ini tidak lantas mempengaruhi pandangan masyarakat akan pentingnya pendidikan. Banyak dari orangtua yang bahkan tetap berpandangan bahwa akhir dari sebuah pendidikan pun adalah rumah tangga, terlebih bagi seorang wanita. Pandangan mereka yang demikian kemudian juga berpengaruh terhadap pendidikan anak- anak mereka, yakni “yang penting bisa baca tulis”. Sehingga sampai saat ini putus sekolah dan pernikahan dini masih seringkali terjadi.

Dengan keadaan yang demikian, harusnya gereja masih boleh berharap pada sosok seorang wali baptis, yang harusnya menjadi teladan bagi anak- anak baptis nyang diwalikan kepadanya serta menjadi penuntun kehidupan iman anak- anak ntersebut dalam kehidupannya. Namun sebagaimana myang saya alami, wali baptis nsaya hanya lah sebatas tempelan nama pada surat baptis saja. Saya bahkan dan teman- teman saya yang diwalikan kepadanya pada saat itu bahkan tidak pernah diperhatikan. Dalam keluarganya, beberapa saat yang lalu bahkan bapak yang menjadi wali baptis kami ini kerap pergi ketempat- temlpat hiburan malam untuk mbermabuk- mabukan. Entah karena tidak menngerti akan peranan seorang wali baptis atau ditempatkan dengan paksa sebagai wali baptis, tidak jelas apa yang membuat hal ini kemudian menjadi demikian.

 

4.             Kurangnya tanggung jawab pribadi untuk mencari pengetahuan tentang iman

Mimpi adalah awal dari sebuah perjuangan yang akan diperjuangkan untuk mencapai apa yang diinginkan dalam impian tersebut. Tetapi mimpi tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan selama oarang yang memimpikannya tidak pernah berusaha untuk mencapainya dengan sebuah perjuangan. Demikian pun dalam hal kehidupan beriman, seorang yang telah sah sebagai anggota gereja pada dasarnya memiliki tanggung jawab atas perkembangan imannya, sebagaimana diungkapkan dalam penutup dokumen konsili vatikan II mengenai tanggung jawab setiap orang beriman yakni bahwa mereka diharapkan  lebih jelas memahami panggilan hidupnya, lebih menyelaraskan dunia dengan martabat manusia yang amat luhur, menghendaki persaudaraan universal dengan dasar yang lebih mendalam, dan atas dorongan cinta kasih, melalui usaha- usaha terpadu terdorong oleh kebesaran jiwa untyuk menanggapi tuntutan- tuntutan mendesak masa kini. Dasar mendalam bagi seorang kristiani adalah sabda Allah yang harusnya senatiasa menjadi kompas kehidupan. Tetapi fakta yang ada dalam masyarakat adalah bahwa banyak dari antara .mereka bahkan tidak memiliki kitab suci. Seorang anak yang telah dibaptis, dengan latar belakang pendidikan orangtua yang tidak memadai dan pandangan mereka terhadap pendidikan sebagaimana yang telah dipaparkan diatas menumbuh kembangkan pula kemalasan pribadi untuk mengenal dan mencari tahu lebih banyak mengenai apa yang mereka imani. Mereka telah terbiasa menerima begitu saja apa yang telah diberikan oleh guru- guru agama dalam pendidikan formal di sekolah, tanpa harus menyulitkan diri untuk mencari informasi yang lebih mengenai haltersebut.

 

5.             Keadaan masyarakat

Masyarakat dayak pada umumnya memiliki prinsip hidup santai. Hal ini dikarenakan segala sesuatu yang telah tersedia dialam dan selalu memanjakan mereka. Pola hidup yang demikian hingga saat ini masih sangat berpengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Mereka tidak bekerja mati- matian setiap saat untuk mendapatkan uang sebagaimana yang dilakukan masyarakat kota pada umumnya. Mereka  bekerja kemudian beristirahat setelah mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka untuk beberapa saat.

Pengaruh negatif dari kebiasaan mereka yang demikian ialah bahwa seringkali mereka memanfaatkan kesenggangan waktu mereka dengan berkumpul dan mabuk- mabukan, khususnya kaum laki- laki. Hal ini pulalah yang kemudian memicu terjadinya berbagai konflik dalam rumah tangga dan terombang- ambingnya kehidupan anak, terlebih jika mereka tidak memiliki pendamping yang senantiasa mendampingi dan menguatkan mereka dalam kehidupan beriman.

 

2.2            Bagaimana Reksa Pastoral Dan katekese Untuk Menyikapi Hal Tersebut

Reksa pastoral pertama –tama adalah tritugas Kristus yang diwariskan kepada setiap orang yang telah dibaptis dalam persekutuan gereja kudus. Yakni sebagai nabi yang mewartakan Injil, sebagai imam yang menguduskan dengan pelayanan sakramen, dan sebagai raja yang murah hati dalam pelayanan, yang dilaksanakan untuk kaum beriman. Sementara katekese berarti pengajaran, yang dalam konteks ini tentu pengajaran tentang materi iman berkaitan dengan tritugas tersebut sebagai upaya pengembangan iman umat dalam persekutuan gerejani.

Bertolak dari permasalahan- permasalahan  yang telah dikemukakan diatas serta faktor- faktor yang penyebab ketidak berakaran umat dalam kehidupan berimannya maka seorang katekis yang memiliki kewajiban dan tugas untuk menyebarluaskan iman dan gereja sebagaimana diungkapkan oleh dokumen konsili Vatikan II dalam AG art. 17 mengenai pendidikan para katekis bertanggung jawab pula atas hal ini. bagaimanakah reksa pastoral dan katekese yang harus dipersiapkan oleh seorang katekis yang dijiwai semangat merasul untuk menyikapi hal ini?

Reksa pastoral dan katekese pertama- tama yang harus dipersiapkan oleh seoranng katekis ialah reksa patoral dan katekese mengenai liturgi inisiasi, sebagaimana telah disinggung diatas bahwa semangat militansi seorang beriman diantaranya terletak pada seberapa besar perjuangan dan kerja keras orang tersebut ketika ia dipersiapkan untuk masuk dan diakui secara sah dalam persekutuan gereja. Tentu bsaja bukan sebagaimana istilah “ngambek” yang kerap kali terjadi di kalangan para simpatisan dan katekumen “kenapa saya belom boleh dibaptis tahun ini, padahal saya sering pergi kegereja, dsb…” kemudian berpikir bahwa ia ditolak  hingga akhirnya memutuskan untuk pergi mencari gereja- gereja yang lain.

Raksa pastoral dan katekese yang dapat dilakukan seorang katekis berkaitan dengan sakramen baptis adalah membimbing para katekumenat untuk menyadari secara utuh kelahiran barunya di dalam kristus, yakni penyadaran akan kehidupan baru yang membawa kepada sebuah pertobatan. Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ajaran gereja bahwa seorang katekumenat harus melalui tiga tahap dan empat masa untuk menjadi seorang anggota gereja. Maka para katekumenat pun juga harus mengetahui hal ini agar kemudian tidak bertanya- tanya mengapa harus ada serentetan upacara yang begitu panjang yang harus mereka ikuti bahkan setelah mereka dibaptis.

 

                                                    Tahap ketiga         Masa mistagogi

                                                                           

            Masa persiaan

             Tahap kedua                          terakhir

 

                             Masa          

Tahap pertama               katekumenat     

 

 Masa  prakatekumenat

                                                                   

 

Masa  prakatekumenat: masa ini bertujuan agar para simpatisan mulai berkenalan denngan gereja, Yesus Kristus, iman dan cara hidup orang katolik.

Masa katekumenat: pada masa ini para katekumenat semakin mendapat kesempatan untuk lebih banyak belajar pokok- pokok iman katolik dan lebih meningkatkan hidupnnya sebagai orang katolik (pengetahuan dan penghayatan)

Masa persiapan terakhir: masa ini disebut pula sebagai masa penyucian dan penerangan, karena masa ini ditutup dengan upacara penerimaan sakramen inisiasi yang didalamnya seorang katekumenat disucikan dalam pembaptisan dan diterima dalam persekutuan gereja yang diterangi dan dituntun oleh sabda Allah.

Masa mistagogi: masa ini disebut pula sebagai masa pendalaman iman yang didalamnya disamlpaikan pula tiga bentuk katekese;

a)    Katekese praktis yang meliputi pengarhan peserta katekese untuk mempraktekkan hidup keagamaannya seperti berdoa, berdevosi, bergairah meng hadiri perayaan ekaristi, mengenal masa-masa liturgi, dsb.

 

b)   Katekese historis meliputi ajakan kepada umatuntuk mempelajari kedekatan umat israel dengan Allah dalam pengalaman perziarahan imannya mulai dari proses pembebasan dari tahah mesir hingga pejalanan menuju tanah terjanji.

 

 

c)    Katese sistematis yang tersusun secara sistematis, singkat dan padat. Katekese ini biasanya bersumber pada buku katekismus yang menyampaikan satu pokok ajarannya secara sistematis mulai dari ilmu teologi, ajaran dogma (keputusan / ketetapan yang dikeluarkan oleh gereja), serta diadakan secara teratur sehingga mudah dipahami dan ditangkap oleh orang- orang yang mendengarkannya.

Bagaimana dengan reksa pastoral dan katekese Sakramen Penguatan dan Sakramen Ekaristi yang juga merupakan sakramen inisiasi?

Sakramen krisma yang diterimakan oleh seorang uskup(Bdk. LG 26) dalam bentuk minyak Krisma diyakini gereja sebagai penerimaan rahmat Roh Kudus Allah secara penuh sebagaimana yang pernah dialami para rasul pada hari pentakosta. penerimaan Penguatan ini perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan Bdk. Ocf praenotanda 1.. “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (LG 11) Bdk. Ocf praenotanda 2..       Oleh sebab itu, maka persiapan bagi penerima Sakramen Penguatansebagaimana myang ditantukan dalam katekismus gereja katolik;

 

1309              harus diarahkan sedemikian supaya warga Kristen dihantar kedalam suatu kesatuan yang lebih erat dengan Kristus, ke suatu kemesraan yang lebih hidup dengan Roh Kudus, dengan perbuatan-Nya, dengan anugerah Nya, dan dengan dorongan-Nya, supaya ia dapat menanggung lebih baik kewajiban hidup Kristen yang sifatnya apostolik. Karena itu, katekese Penguatan harus berusaha membangkitkan pengertian tentang keanggotaan dalam Gereja Yesus Kristus – baik Gereja universal maupun Gereja lokal.

 

1310              Untuk menerima Penguatan, orang harus berada dalam suasana rahmat. Karena itu, dihimbau supaya menerima Sakramen tobat, sehingga dibersihkan sebelum menerima anugerah Roh Kudus. Di samping itu doa yang intensif juga harus mempersiapkan orang untuk menerima kekuatan dan rahmat Roh Kudus dengan Kerelaan batin Bdk. Kis 1:14

 

1311              Sangat dianjurkan bahwa yang menerima Penguatan, sama seperti waktu Pembaptisan, menerima bantuan rohani dari seorang wali. Untuk menjelaskan kesatuan dari kedua Sakramen ini, maka dianjurkan agar wali Pembaptisan sekaligus juga menjadi wali Penguatan Bdk. Ocf praenotanda 15; 16; CIC, can.

 

Ekaristi sebagai sakramen  merupakan bagian dalam kurban Tuhan bersama seluruh jemaat.   Maka Ekaristi disebut jugasebagaiPerjamuan Tuhan Bdk. 1 Kor 11:20., karena ia menyangkut perjamuan malam, yang Tuhan adakan bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum sengsara-Nya. Didalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk-Nya, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

Dalam  Ekaristi umat dipersatukan dengan Kristus sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan iman dalam syahadat para rasul sebagai “persekutuan para kudus”. Apa yang dihasilkan makanan jasmani dalam kehidupan jasmani kita, itu yang dicapai komuni dalam kehidupan rohani kita atas cara yang mengagumkan. Komuni dengan tubuh Kritus yang telah bangkit, suatu daging “yang berkat Roh Kudus dihidupkan dan menghidupkan” (PO 5), melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan. Maka reksa pastoral dan katekese yang harus disampaikan kepada umat maupun katekumenat Ekaristi adalah bagaimana mereka dapat mmahami hal- hal sebagaimana yang telah diuraikan diatas yakni bahwa hosti bundar yang kecil dan tipis itu setelah dikonsekrasikan oleh seorang imam mengalami transubstansi menjadi Tubuh dan Darah Kristus suatu daging “yang berkat Roh Kudus dihidupkan dan menghidupkan” (PO 5), melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan. Obat kebakaan, penangkal racun, sehingga orang tidak mati, tetapi hidup selama-lamanya dalam Yesus Kristus” (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2).

Memaksimalkan katekese inisiasi  dan peran seorang katekis tentu tidak cukup begitu saja dalam mengembangkan iman umat, terlebih bila kita melihat faktor- faktor sebagaimana yang telah disebutkan diatas, berkaitan dengan ketidak mampuan orang tua untuk mengajar anak- anaknya dalam kehidupan imannya, peran serta seorang wali baptis, kemalasan pribadi, dan keadaan masyarakat. Maka selain langkah- langkah pemaksimalan katekese inisiasi sebagaimana yang telah di paparkan diatas langkah yang juga harus dilaksanakan seorang katekis dalam kerjasama dengan pastor paroki adalah:

1)        Menumbuhkan kesadaran para katekumenat akan tugas serta tanggung jawab pribadi mereka setelah mereka menerima sakramen- sakramen inisiasi, bahwa setiap onggota gereja memiliki tritugas kristus sebagai imam yang menguduskan, nabi yang mewartakan, dan raja yang memimpin diri sendiri dan orang lain kedalam kehidupan yang ilahi, serta tidak terbawa arus kehidupan dan pandangan masyarakat yang terkadang tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Agar kemudian setelah menerima sakramen- sakramen inisiasi mereka tidak berhenti sampai disitu saja melainkan sungguh- sungguh terlibat dalam persekutuan gereja bersama umat.

 

2)        menghidupkan kegiatan- keiatan doa bersama di lingkungan agar umat boleh bertumbuh bersama sama dan tidak merasa terasing atau hidup dalam iman yang mati, kaku dan tidak berkembang, melainkan dapat merasakan indahnya persaudaraan kristiani dalam kebersamaan.

 

3)      Mengadakan pembinaan bagi para wali baptis yang akan mendampingi para katekumenat dalam penerimaan sakramen inisiasi, yakni bahwa seorang wali baptis dan penerimaan sakramen- sakramen inisiasi lainnya memiliki tanggung jawab dan peranan untuk memberikan bantuan rohani dalam pertumbuhan iman dan perjalanan hidup katekumenat yang akan diwalikan kepadanya. Pembinaan ini tentu juga peru diberikan kepada orang tua dari para katekumenat anak yang beragama katolik agar sekurang-kuranya mereka boleh mengetahui peran yang dapat mereka lakukan terhadap pertumbuhan iman anak- anak mereka. Bagaimana dengan seorang anggota katekumenat yang orangtuanya tidak beragama katolik? Selain wali baptisnya, maka saudara- saudaranya yang mungkin beragama katolik diharapkan berperan terhadap perkembangan iman anak tersebut sebagaimana orangtua terhadap anaknya sendiri, dimana seorang katekis juga akan membantu dalam melaksanakan hal ini, mendampingi dan memotivasi kehidupan iman anak ini.                        

 

2.3            Sumbangan  Pengajaran  Sakramen  Inisiasi  Bagi  Karya Katekis  Dalam  Berkatekese  dan  Berpastoral

Sumbangan dari pengajaran sakramen inisiasi bagi karya katekis dalam berkatekese dan berpastoral adalah

1)      Seorang katekis dapat mempelajari peranan dan fungsi, serta betapa pentingnya sakramen- sakramen inisiasi

2)      Seorang katekis mendapatkan sebuah landasan teori untuk kemudian mengajarkannya kepada orang lain dalam hidup dan karyanya mengembangkan iman umat

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

                                                                       

3.1       KESIMPULAN

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, dan uraian- uraian pada bagian isi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja seorang katekis dalam mengupayakan pengakaran iman umat perlu diimbangi dengan peran serta pribadi yang bersangkutan, orang tua, saudara,  dan wali baptis. Dengan  memaksimalkan katekese inisiasi  dan peran serta tokoh- tokoh tersebut diharapkan  akan terbentuk pribadi yang sungguh- sungguh berakar dalam imnnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

          Anggota IKAPI. “Alkitab Deuterokanonika”. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta 2005

          Departemen dokumentasi dan penerangan KWI, diterjemahkan oleh Hardawiryana R. “Dokumen Konsili Vatikan II”. Penerbit Obor. Jakarta 1993

          Heuken, Adolf Heuken SJ “Ensiklopedi gereja jilid iii H-J”. Cipta Loka Caraka, Jakarta 1992

          Katekismus gereja katolik online sumber http://www.imankatolik.or.id

          Diktat liturgi inisiasi dan pengantar katekese

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.