HARAPAN ESKATOLOGIS MASYARAKAT DAYAK

HARAPAN ESKATOLOGIS MASYARAKAT DAYAK

Di daerah sukamara

Pandangan tradisional mengatakan bahwa kematian adalah akhir kehidupan jasmani, saat jiwa manusia terpisah dari raganya. Dengan kematian, seluruh fungsi tubuh berhenti, seiring dengan terpisahnya raga dari jiwa. Bagi umat beriman, raga akan hancur menjadi tanah sedangkan jiwa berpulang kepada Allah. Dengan kematian, sejarah hidup manusia di hadapan Allah mencapai bentuknya yang lengkap dan tak dapat diubah. Semua orang yang hidup di dunia ini akan mengakhiri hidup duniawinya dengan kematian. Dalam KGK 1013 dikatakan: “Kematian adalah titik akhir peziarahan manusia di dunia, titik akhir dari masa rahmat dan be1as kasihan, yang Allah berikan kepadanya, supaya melewati kehidupan dunia ini sesuai dengan rencana Allah dan dengan demikian menentukan nasibnya yang terakhir.” Nasib dalam sebuah kehidupan sesudah kematian adalah bayang- bayang yang senantiasa ada dalam berbagai suku bangsa di dunia yang menganut paham ketuhanan. Hal ini pula yang menimbulkan harapan akan hidup yang kekal yang diidentikkan dengan hidup di dalam surga abadi. Lalu, apakah pengharapan itu sebenarnya?

 

2.1.         Pengertian Pengharapan Eskatologis

Secara terminologis eskatologi berasal dari bahasa Yunani eschatos (akhir) dan logos (ilmu) yang artinya ilmu atau pengetahuan tentang hal-hal akhir, hal-hal pamungkas, atau yang menyangkut realitas akhirat sebagai akhir kehidupan seperti kematian, kebangkitan, pengadilan terakhir serta kiamat sebagai akhir dunia. Eskatologis sering juga diartikan sebagai ajaran (doktrin) tentang realitas surga, purgatori (api penyucian) dan neraka. Lebih persis lagi, eskatologi diartikan sebagai ajaran yang menyangkut kedatangan kembali Kristus (parousia). Istilah Eskatologi digunakan pertama oleh Teolog Lutheran Abraham Calonicus (1612-1686). Pada hakekatnya Eskatologi itu menyangkut kejadian-kejadian di luar sejarah manusia yang bersinggungan dengan harapan kristiani.

Eschatos atau jaman akhir secara positif berarti munculnya dunia baru; Kerajaan Allah; langit dan bumi baru, Jerusalem Baru (apokaliptik, dibalik sejarah). Eskatologi menunjuk pada saat akhir yang serentak masuk pada fase baru, baik secara individual-personal ataupun secara komunal-kolektif. Artinya menyangkut nasib hidup seseorang ataupun seluruh manusia secara universal atau kosmis.

Kristianitas boleh disebut sebagai agama eskatologi. Agama yang menitikberatkan pada harapan, yang selalu memandang dan bergerak ke depan. Dimana ‘iman’ dan ‘kasih’ mendapat makna dan arti serta kekuatannya dari harapan pada realitas yang akan tejadi kelak di akhirat. Kepenuhan rencana keselamatan secara mesianik akan berujung pada kenyataan eskatologis. Penghayatan hidup kristiani baru punya makna bila mengacu pada harapan akan masa depan. Yang perlu diingat bahwa eskatologi itu menjadi bagian dari credo, rumusan pernyataan iman kita; “percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal”. Bagaimana dengan pandangan kepercayaan masyarakat dayak akan hal ini?

 

2.2.         Prosesi Pemakaman Dalam Masyarakat Dayak

Di daerah sukamara

 

Jika pada beberapa jenis suku dayak dalam tradisi kematiannya dilakukan upacara tiwah/ wara yaitu  penyembelihan hewan kurban bagi jiwa orang yang telah meninnggal dan pembersihan tulang-belulangnya untuk kemudian dimasukkan kedalam sebuah sandung. Tidaklah demikian dengan masyarakat dayak yang tinggal di daerah kabupaten sukamara. Dalam budayanya yang lebih dipengaruhi oleh budaya masyarakat dayak yang berasal dari kalimantan Barat, masyarakat dayak yang tianggal di daerah sukamara tidak berpandangan bahwa orang yang telah meninggal harus disandungkan beberapa saat/ tahun setelah kematiannya agar kelak kemudian jiwanya dapat hidup dengan tenang dalam sebuah tempat yang dalam kepercayaan tradisional masyarakat dayak disebut sebayan pengetujuh/ sebayan tujuh yang disetarakan dengan surga.

Dalam prosesi pemakaman masyarakat dayak yang terdapat di daerah kabupaten sukamara, setelah seseorang meninggal, maka sebuah gong akan ditabuh sebagai pemberitahuan bagi masyarakat yang tinggal di desa trsebut yang mereka sebut sebagai tetewak panggil. Gong ini ditabuh sebanyak tujuh kali, kemudian jenazah orang tersebut segera dipersiapkan untuk dimandikan. Sebelum jenazah tersebut dimandikan, jenazah tersebut diletakkan diatas sebuah tikar yang merupakan hasil karya kerajinan tangan masyarakat dayak setempat yang berasal dari daun semak hutan sejenis pandan. Tetua adat setempat akan menorehkan sebilah parang/ pisau pada tikar dimana mayat tersebut diletakkan sebanyak sebelas kali sebagai bagian dari prosesi yang dimaksudkan untuk meluruskan perjalanan jiwa dari orang yang telah meninggal tersebut menuju tempat dimana ia menikmati kehidupan barunya di sebayan tujuh/ surga. Setelah prosesi penorehan tikar ini dilangsungkan barulah jenazah tersebut dimandikan oleh pihak keluarga dari orang yang telah meninggal tersebut dan diberi pakaian.

Masyarakat ditempat ini meyakini bahwa apa yang akan diberikan sebagai bekal bagi orang yang telah meninggal akan menjadi perlengkapan pula baginya ditempat dimana ia akan menjalani kehidupan barunya nanti. Maka pembekalan barang- barang bagi orang yang telah meninggal sudah merupakan sebuah tradisi yang menjadi bagian dari prosesi pemakaman. Adapun barang yang disertakan dalam penguburan tersebut biasanya berupa perlengkapan rumah- tangga seperti periuk, rinjing, parang, pisau, cangkir, piring, mangkuk, kasur, pakaian, bahkan rokok, gula dan kopi.

Pada umumnya jenazah di tahan atau dibiarkan dirumah kematian selama satu malam dengan maksud menunggu kaum keluarga dari almarhum yang telah meninggal untuk memberikan bela sungkawa atau pertemuan terakhir, sehingga kemudian para kaum keluarga yang berada di tempat yang cukup jauh dapat mengantar jenazah almarhumah sampai kepemakaman. Setelah jenazah dimandikan dan diberi pakaian, tetua adat setempat akan menanak nasi dan sayur bagi orang yang telah meninggal tersebut dalam dua ruas bambu kecil yang disebut sebagai nasi pajuh. Nasi yang ditanak bagi orang yang telah meninggal tersebut harus berasal dari beras ketan, dan sayurnya harus berasal dari umbut pinang dan kelapa yang hanya dibubuhi dengan sedikit garam dan terasi. Nasi ini pun diperuntukkan sebagai bekal bagi orang yang telah nmeninggal tersebut sebagaimana barang- barang yang telah di

Sebutkan diatas. Selama sepanjang malam hingga menjelang pagi, orang yang berkumpul dirumah kematian untuk berjaga diharuskan membunyikan musik tabuhan tradisional dengan pola yang sering mereka sebut sebagai sambit.

Keesokan harinya ketika matahari siang semakin beranjak, masyarakat dayak di tempat ini akan mempersiapkan segala sesuatu yang belum dipersiapkan untuk prosesi pemakaman jenazah, seperti menanak nasi untuk makan bersama, ataupun pembuatan peti jenazah yang terbuat dari papan ulin dan dikerjakan oleh kaum pria.

Ketika pembuatan peti jenazah telah selesai, maka peti tersebut akan ditampungtawari oleh tetua adat setempat. Tampungtawar adalah kumpulan renik/ remah/ patahan kecil beras yang dicapur irisan daun hidup- hidup (sejenis tanaman bunga- bungaan), daun rakat ganting (sejenis rumput yang berakar serabut dan tertanam dengan sangat kuat), diwarnai dengan kunyit dan dicampur dengan sedikit air dan tuak (baram). Masyarakat dayak biasanya mengoleskan tampungtawar ini pada apa yang mereka mohonkan semacam berkat dari yang maha kuasa dengan tujuan dan maksud baik tertentu. Adapun maksud dari penampungtawaran peti jemazah ini adalah semacam mohon doa berkat bagi sebuat tempat/ rumah baru yang btelah selesai dikerjakan. Tampung tawar ini dibuat dengan perkiraan cukup untuk digunakan sampai pada selesainya prosesi pemakaman. Sebagian sebagai penampungtawaran peti, sebagian sebagai tabur jalan/ yang ditaburkan sepanjang perjalanan menuju pemakaman yang mendahului para pemikul jenazah, dan srbagiannya lagi akan dioleskan pada setiap orang yang turut dalam upacara penguburan tersebut setelah kembali dari makam.

Langkah selanjutnya setelah sebuah peti jenazah selesai ditampungtawari adalah mengangkat peti tersebut kedalam rumah kematian dan memasukkan jenazah serta sebagian barang- barang yang mungkin untuk dapat disertakan didalamnya, menutup peti dan kemudian mempersiapkan keberangkatan jenazah menuju pemakaman. Sebelum berangkat menuju pemakaman, orang- orang yang bereda dirumah duka itu harus menyambitkan orang yang telah meninggal tersebut sebanyak tiga pola/ tiga lagu tabuhan istrumen alat musik tradisional mereka. Kemudian peti tersebut diikat pada sebatang  kayu  yang berasal dari pohon buah- buahan yang akan berfungsi  sebagai gandar bagi para pemikul peti. Gandar ini harus berasal dari pohon buah –buahan seperti pohon rambutan yang berukuran sedang, dsb. Pohon buah- buahan ini dimaksudkan sebagai bekal bagi orang yang telah meninggal tersebut dalam kehidupannya yang akan datang. Ketika akan meninggalkan rumah tetua adat akan melakukan ritual doa. Peti di ayunkan kearah dalam rumah sebanyak tiga kali dan kearah luar sebanyak tujuh kali, untuk kemudian diberangkatkan menuju pemakaman. Adapun pengayunan peti tersebut dimaksudkan untuk menyerahkan arwah dari orang yang telah meninggal tersebut kepada seluruh anggota keluarganya yang telah meninggal. Sepanjang perjalanan menuju makam, pemikulan peti oleh anggota keluarga ini didahului oleh penaburan tampungtawar yang dicampur dengan uang logam sebagaimana telah dikatakan diatas. Pencampuran antara tampung tawar dan uang logam ini menggambarkan sebuah simbolisme pengantaran kepulangan saudaranya yang telah meninggal tersebut dan dengan segala doa dan amal bhakti semasa hidupnya.

Sesampainya dimakam, peti diletakkan disisi luang kubur yang telah disiapkan. Kemudian tetua adat setempat denga segala doa- doanya akan melemparkan sebutir telur ayam kampung yang telah disediakan kedalam lubang yang telah disiapkan tersebut. Konon sebagaimana banyak dongeng yang terdapat ditempat ini yang berkaitan dengan kematian, telur ayam ini kelak dinegeri yang lain atau dialam roh orang yang telah meninggal tersebut akan menjadi seekor ayam jantan yang akan digunakan untuk menyabung, sebelum ia mencapai sebayan pengetujuh. Setelah itu peti jenazah pun akan dimasukkan dan tetua adat mendahului semua orang yang turut serta dalam pemakaman tersebut untuk melemparkan tiga kepal tanah dengan tangan kiri kedalam lubang makam yang kemudia akan disusul setiap orang lainnya. Hal ini dilakukan sebagai isyarat pelepasan/ pembuangan sebgala mimpi- mimpi buruk seperti mimpi behanyi (memanen padi), menebang tebu, menggali keribang  (sejenis sayuran tradisional yang umbinya terdapat didalam tanah), menebas ladang, dan menugal menabur (menanam benih padi). Dalam kehidupan masyarakat dayak setempat mimpi- mimpi ini memiliki arti yang tidak baik, yakni behanyi dan menabur menugal  berarti tanah kuning pemakaman, menebang tebu dan menebas ladang berarti menebang akar nyawa/ kehidupan, menggali keribang berarti menggali lubang makam. Maka dengan melemparkan tiga kepel tanah dengan tangan kiri kedalam lobang makam segala mimpi buruk akan terkubur bertsama dengan orang yang telah meninggal  tersebut. Tetua adat setempat akan menimba atau semacam memanggil roh dari orang- orang yang masih hidup tersebut agar tidak terbawa atau dihantui oleh bayang- bayang mimpi buruk kematian tersebut. Setelah makam ditimbun, maka upacara pemakaman pun telah selesai. Orang- orang yang akan kembali kerumah duka akan diolesi dengan tampung tawar sebagai sapat atau penghelat antara orang hidup dengan orang yang telah meninggal terebut.

Tiga hari kemudian dalam kebiasaan masyarakat dayak ditempat ini, orang terdekat dari orang yang telah meninggal tersebut akan pergi mengunjungi makam  dan mencurahkan apa yang ia rasakan atas kehilangan yang ia alami dengan tidak lupa memberikan semacam penuturan bahwa sekarang mereka telah hidup di alam yang berbeda, sehingga satu sama lainnya tidak perlu saling mengganggu. Adapun upacara kunjungan setelah tiga hari ini disebut upacara membuka palang, yakni membuka palang kehidupan baru yang telah berada dalam dua alam yang berbeda dan tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pengharapan eskatologis yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi gereja pun tumbuh dan dimiliki oleh masyarakat dayak dalam kehidupan dan pandangan mereka akan adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan kekal yang akan dicapai dalam kehidupan setelah kematian adalah cita- cita yang tergambar dengan samar di dalam tradisi yang mereka miliki. Prosesi pemakaman yang mereka miliki adalah jalan atau upacara simbolis yang dilakukan untuk membantu orang yang telah meninggal tersebut menemukan jalan yang tepat menuju kediaman sanak saudaranya yang telah mendahuluinya meninggal di dalam sebayan pengetujuh. Bagi masyarakat dayak jiwa orang yang curang dalam kehidupannya akan sulit untuk mencapai sebayan pengetujuh. Bahkan seorang yang dalam kehidupannya dikenal sebagai orang yang sangat jahat tidak aakan dapat menemukan jalan menuju tempat tersebut, maka arwah orang tersebut akan gentayangan dan dikenal masyarakat sebagai hantu, demikian pun dengan orang- orang yang mati dengan cara yang tidak wajar seperti gantung diri, minum racun, ataupun kecelakaan, dan sebagainya. Kehidupan kekal itu luhur sabagaimana juga nilai kehidupan di dunia yang harus dijaga dan dihormati, dan kehidupan kekal yang luhur dan abadi itu hanya diperuntukkan  bagi orang- orang yang layak untuk menerimanya.

Dalam pandangannya akan hidup setelah kematian masyarakat dayak juga mengenal adanya penyiksaan sementara sebelum seseorang masuk kedalam kehidupan kekalnya sebagaimana api penyucian yang dikenal dalam gereja katolik. Siksa sementara ini akan menyucikan jiwa orang yng telah meninggal, dan semakin banyak perbuatan dosa sesesorang, maka akan semakin lambat pula masa penyiksaan yang ia terima. Sehingga meskipun dengan pandangan akan harapan eskatologis yang  masih samar- samar, namun dalam kehidupannya masyarakat dayak masing- masing menyadari apa yang baik dan pantas untuk dilakukan dan apa yang buruk bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dalam kehidupan bersama.  

 

 

2.3.         Harapan Eskatologis di Dalam Gereja Katolik Roma

Latar Belakang Alkitabiah

1. Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama pemahaman eskatologi itu secara implisit dihubungkan dengan sejarah keselamatan yang diatur oleh Allah. Bahwa Israel (sebagai bangsa terpilih) ‘ada’ pada hakekatnya di bawah hukum perjanjian dan pemenuhannya di kemudianhari sebagai struktur dasar imannya. Seperti kisah Abraham yang dijanjikan akan memiliki tanah perjanjian yang dialiri susu dan madu [Kej.12:4]. Atau bahwa penyelamat akan datang dari tunas Daud [2Sam: 7]. Atau dalam [Yes. 40-55] dijanjikan kelak kemudian hari secara kosmik akan ada ciptaan baru; langit dan bumi baru.

Teks yang paling banyak diacu dalam teologi Katolik mengenai hidup sesudah mati adalah [2 Makabe 12] tersurat tentang kepercayaan (secara eskatologis) akan kebangkitan orang mati. Tentang manfaat perbuatan amal baik seperti kurban bagi orang-orang yang telah meninggal dunia dengan harapan agar mereka dibebaskan dari hukum dosa. Perjanjian Lama ini memberi kepastian akan adanya pengaruh dari doa-doa kita yang masih hidup bagi mereka yang telah mati. Mungkin juga pengaruh mereka yang telah mati kepada kita yang masih hidup.

Dikisahkan bahwa Yudas Makabe bersama dengan anak buahnya hendak menguburkan jenazah para prajurit yang gugur di medan perang. Rupanya di bawah baju para jenazah itu ada jimat-jimat dan berhala yang dilarang bagi orang Yahudi. Mereka kalah dan mati diandaikan lantaran jimat-jimat itu. Jimat-jimat itu membuat mereka tak berdaya melawan musuh. Yudas Makabe dan anak buahnya memuji Tuhan. Tuhan yang adil telah menghukum para prajurit yang gugur itu. Namun Yudas Makabe dan anak buahnya serentak memohon kepada Tuhan agar menghapus dosa-dosa prajurit yang telah meninggal itu. Bahkan Yudas Makabe kemudian mengambil inisiatif untuk mengumpulkan uang dari antara mereka semua. Terkumpul dua ribu dirham perak untuk dikirim ke Yerusalem guna mempersembahkan korban penghapus dosa, menyusul suatu pernyataan, “Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas Makabe memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percumah dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagi pula Yudas Makabe ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka”.

Ayat-ayat ini menjadi “text proof” alkitabiah PL untuk menegaskan ajaran Katolik tentang adanya purgatori (api penyucian), tentang dampak atau efikasi doa-doa bagi mereka yang telah meninggal, tentang kurban silih atau kurban tebusan itu ada gunanya dan tidak sia-sia. Hal ini berlainan dengan pandangan saudara-saudara kita Protestan yang melihat Kitab Makabe ini deuterokanonika, tidak masuk dalam daftar kitab yang autentik, sehingga dianggap lemah untuk dijadikan “text proof”. Pada gilirannya mereka tidak mempercayai akan adanya purgatori serta dampak doa-doa orang hidup bagi yang sudah meninggal.

 

2. Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, sebagai contoh “text proof”, dapat dilihat [Mt.5:31-32]; “… ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Pernyataan dunia yang akan datang mengandaikan akhirat. Secara persis menunjuk pada purgatori. Begitu pula [Mt.5:26]; “… sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Suatu pernyataan yang mengandaikan situasi yang mungkin lepas dari derita sejauh telah memenuhi tuntutan yang harus dibayar. ‘Penjara’ secara metaphor memberi arti hukuman sementara. Begitu juga [1Kor3:13]; “… karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diiringi oleh api itu.” Sebutan api penyucian menunjuk pada pemurnian, pembersihan seperti emas yang dimurnikan dan mesti dibakar demi menghasilkan sesuatu yang sejati.

 

3.         Latar Belakang Patristik

Dalam Patristik, misalnya St.Ciprianus (c.200-258) mengatakan bahwa ada yang dapat langsung masuk surga tapi juga yang harus menunggu pengampunan. Ada yang langsung menerima ganjaran surga secara langsung dan ada juga yang dimasukan ke dalam penjara (purgatori) dan tidak akan keluar dari sana sampai “hutangnya” dibayar. Ada yang dapat lepas dari semua dosa di dunia ini yakni dengan mati sebagai martir, tapi ada juga yang mesti disucikan, dimurnikan dosa-dosanya di akhirat dengan penderitaan yang lumayan lama. Suatu pernyataan yang mengartikan akan adanya pergatori di samping surga dan neraka.

Yohanes Krisostomus (347-407) mencatat, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (bdk Ayub 1:5), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka”.

Gregorius Agung (590-604) mengatakan, “Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak’ (Mat 12 : 32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain”.

 

4.         Latar Belakang Magisterium

Dalam Magisterium secara dogmatis ditegaskan akan kepastian akan adanya kebangkitan badan dari semua orang yang telah meninggal.

 

(1). Misalnya dalam Konsili Taledo th.675. Suatu konsili yang menegaskan kebangkitan badan. Badan atau tubuh yang kita miliki dan kita hayati ini yang akan dibangkitkan. Jadi bukan bersifat tubuh etherial atau secara reinkarnatif dalam bentuk tubuh yang lain. Argumentasinya tentu menunjuk pada kebangkitan Yesus Kristus sendiri. Begitu pula mengacu pada Maria dan Yesus yang naik ke surga dengan tubuh apa adanya. Kedua, selain menegaskan mengenai kebangkitan badan, konsili juga dengan menyitir [2Kor 5:10]; “sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup ini, baik atau pun jahat.” Teks yang menegaskan kepada kita semua harus menghadap pengadilan terakhir sesuai dengan perbuatan-perbuatan kita. Ketiga, Konsili menegaskan baptisan bagi penghapusan dosa yang harus diimani, serta percaya pada kebangkitan orang mati. [1Kor15:12-14] mencatat, “Jadi, bilamana kami beritakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu mengaakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah kepercayaan kamu”. Iman Kristiani memperoleh dasar kekuatannya ada pada kepercayaan akan kebangkitan.

 

(2)Dalam Konsili Lateran th.1215 di bawah otoritas Paus Inocentius III ditegaskan kembali ajaran katolik tentang kebangkitan badan, pengadilan manusia sesuai dengan perbuatan masing-masing serta tentang ganjaran kebahagiaan abadi atau sebaliknya hukuman abadi. Ada teks secara eksplisit yang dikatakan: ”semuanya akan bangkit lagi dengan tubuh mereka masing-masing..”

 

(3) Konsili Lyons 1274 masih tetap menegaskan kepercayaan pada kebangkitan badan. Bagi mereka yang telah dibaptis masih jatuh ke dalam dosa tidak perlu dibaptis ulang tetapi cukup dengan memohon ampun dan menyesalinya dalam sakramen pengampunan secara sempurna. Sedang bagi mereka yang dibaptis kemudian mati dan masih dalam keadaan dosa serta tidak sempat menerima sakramen pengakuan tetapi meninggal dalam penuh cinta kasih dan penuh penyesalan, jiwa mereka akan dibersihkan setelah mati dengan hukuman yang bersifat penyucian dan purgatorial. Dalam hal ini Konsili menegaskan bahwa perlunya kaum beriman yang masih hidup untuk membantu mereka yang berada dalam penyucian tersebut dengan kurban misa, doa-doa, derma dan tindakan kesalehan lainnya. Berlainan dengan mereka yang telah menerima baptisan suci tapi tidak tercemar oleh kedosaan lalu meninggal, mereka akan langsung masuk surga. Begitu juga sebaliknya bagi mereka yang mati dengan dosa berat atau dengan dosa asal (karena tidak dipupus oleh baptisan) akan langsung masuk ke neraka untuk dihukum. Dalam hal ini Konsili masih menegaskan kondisi pada pengadilan terakhir semua orang akan tampil dengan tubuh mereka masing-masing.

 

(4) Konstitusi Apostolik “Benedictus Deus” dari Paus Benedictus XII th.1336. Paus secara pribadi memberi pendapat bahwa orang-orang yang terbekati dan suci akan menikmati “beatific vision” (kebahagiaan surgawi) itu sebelum kebangkitan umum dan pengadilan terakhir secara universal. Bagi orang-orang suci yang mati sebelum sengsara Kristus (penebusan) tidak perlu masuk ke dalam api penyucian. Bagi para martir, para rasul yang suci, para pengaku iman, para perawan dan kaum beriman yang telah menerima baptisan Kristus yang tidak memerlukan penyucian akan masuk langsung ke surga. Begitu juga bagi anak-anak yang sudah dilahirkan kembali dalam baptisan Kristus sebelum mampu menggunakan kehendak bebasnya, bila meninggal, tidak memerlukan api penyucian. Mereka ini akan langsung menikmati esensi ilahi secara intuitif dan bahkan secara ‘face to face’. Mereka akan menikmati surga sebelum ada pengadilan terakhir.

 

(5) Konsili Florence th 1439 menegaskan apa yang terjadi dalam purgatori. Menurut Gereja Latin, yang dilakukan adalah pelunasan (satisfaction-expiation), sedang bagi Gereja Yunani menekankan unsur pembersihan atau pemurinian. Konsili ini melihat daya dampak dari Sakramen Pengakuan. Bagi mereka yang telah dibaptis lalu jatuh dalam dosa, lalu menerima Sakramen Pengampunan, jiwa mereka akan disucikan dalam hukuman purgatorial. Agar kemudian mereka lepas dari hukuman purgatorial itu maka perlu ada tindakan ‘pengantaraan’ (suffragia) seperti kurban Misa, doa-doa, derma dan tindakan kesalehan lainnya dari mereka yang masih hidup. Masih ditegaskan bagi mereka yang telah dibaptis dan tidak melakukan tindakan dosa mereka akan langsung masuk ke dalam surga. Sebaliknya bagi mereka yang mati dengan dosa besar secara aktual atau dengan dosa asal, mereka akan langsung ke neraka (infernum), dihukum sesuai dengan perbuatan dan jenis hukumannya. Mengandaikan di nerekapun ada gradasi hukuman.

 

(6) Konsili Trente th 1563, suatu konsili yang cukup gigih melawan ajaran-ajaran kaum protestan atau Martin Luther secara khusus. Luther yang tidak percaya pada adanya purgatori dan manafaat serta gunanya suffraga termasuk Misa untuk orang yang telah meninggal. Konsili mempertegas sikap konsili-konsili sebelumnya. Bahwa ada purgatori. Bahwa kaum beriman yang ada di purgatori itu dapat kita bantu dengan suffraga yang pertama-tama dan utama melalui kurban altar (Misa). Konsili juga memerintahkan kepada para uskup untuk mengajarkan dan mengkotbahkan keberenaran dogmatis ini kepada kaum beriman karena sudah menjadi tradisi yang diwariskan oleh Bapa Gereja dan Konsili-konsili sebelumnya.

 

(7) Konsili Vatican II 1964, khususnya dalam Lumen Gentium dan Gaudium et Spes. Lumen Gentium memberi aksen kuat tentang hakekat Kristus sebagai Alfa dan Omega; awal dan akhir. Unsur Omega mendapat perhatian khusus. Oleh karenanya ajaran mengenai eskatologi cukup kaya yang menyangkut nasib orang perorang dan Gereja. Bab 7 LG memberi judul “Sifat Eskatologis Gereja Musafir dan Persatuannya dengan Gereja di Sorga”. Dokumen memberi makna eskatologis lebih bersifat eklesial dan komunal.

Dalam LG no. 48 dapat disarikan sebagai berikut:

Bahwa Gereja akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di sorga serta semuanya akan diperbaharui dalam Kristus.

Sambil mengacu pada [1Kor 10:11], bahwa akhir jaman sudah tiba. “Pembaharuan dunia telah ditetapkan, tak dapat dibatalkan, dan secara nyata mulai terlaksana di dunia ini”.

Keadaan Gereja sekarang sudah suci meski tidak sempurna, kelak akan terjadi langit baru dan bumi baru.

Di akhirat kita akan memandang Dia sebagaimana ada-Nya, “selama mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan.

Dokumen menyitir beberapa teks Kitab Suci antara lain [2Kor 5: 10] bahwa kita akan menghadap “tahta pengadilan Kristus, supaya masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidupnya ini, entah itu baik atau jahat”

[Yoh 5: 29 / 25: 46]; dan pada akhir jaman “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk kehidupan kekal, sedangkan mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”.

[Rom 8: 18 dan 2Tim 2: 11-12]; maka dari itu, mengingat bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita kelak”.

[Tit 2:13]; dalam keteguhan iman kita mendambakan “pengharapan yang membahagiakan serta penyataan kemuliaan Allah dan Penyelamat kita yang mahaagung, Yesus Kristus”.

[Flp 3: 21]; “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menyerupai tubuh-Nya yang mulia”.

 

Lumen Gentium no 49 dengan judul Persekutuan antara Gereja di Sorga dan Gereja di dunia. Dalam nomor ini pernyataan dari Konsili Florence masih diafirmasi, “ada di antara para murid-Nya yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal danmengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang “dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya”. Lalu menyusul pernyataan hubungan yang hidup dengan yang telah meninggal, “jadi persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani”. Hubungan dengan mereka yang telah mendahului kita diyakini kuat, bahkan mereka dapat menjadi pengantara kita di hadirat Bapa. Kelemahan kita amat banyak dibantu oleh mereka.

Lumen Gentium no 50 menegaskan penghargaan pada tradisi Gereja yang memberi penghormatan, parayaan kenangan bagi orang-orang yang telah meninggal. Sambil menjustifikasi manfaat dan nilainya dari [2Mak 12: 46]; “ini suatu pikiran yang mursid dan saleh: mendoakan mereka yang men inggal supaya dilepaskan dari dosa dosa mereka”. Gereja juga mempersembahkan korban-korban silih bagi mereka. Gereja percaya pada rasul-rasul, para martir Kristus yang telah berkompasi dengan derita Kristus, yang meneladan keperawanan dan kemiskinan Kristus itu sudah berada di surga, pertama-tama Maria dan para Malikat, dpat membantu dan menjadi perantara kita.

Lumen Gentium no 51, dalam nomor ini dokumen menganajurkan agar kita menghormati tradisi (pusaka para leluhur kita) yang ditegaskan dalam konsili Nicea II, Florence dan Trente. Yakni iman akan persekutuan hidup denganpara saudara yang sudah meninggal masih mengalami pentahiran.

Dalam Gaudium et Spes th 1965 khususnya no 39, Bapa-bapa Konsili berbicara tentang “bumi baru dan langit baru secara eskatologis. Dokumen ini menegaskan bahwa kita tidak tahu menahu mengnai akhir jaman, kapan dunia dan manusia mengalami kesudahannya. Tidak tahu bagaimana alam semesta akan dirubah. Namun kita meyakini bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi baru. Di dunia ini Kerejaan Allah itu sudah hadir dalam misteri, tetapi akan mencapai kepenuhannya bila Tuhan datang.

 

(8). Recentiores Episcoporum Synodi th. 1979. Selain dokumen Vatican II, ada hasil sinode para uskup yang dilaksanakan oleh Kongregasi Suci Urusan Ajaran Iman. Dokumen ini dianggap penting karena berurusan langsung dengan masalah-masalah sekitar realitas eskatologis seperti kebangkitan orang mati, tentang jiwa, nasib manusia di surga, purgatori dan neraka.

Sinode dianggap perlu diadakan mengingat mendesaknya penegasan akan kebenaran-kebenaran iman yang mulai kendor dan membingungkan. Khususnya Credo yang menyangkut hidup sesudah mati. Dalam hal ini sinode menegaskan beberapa poin penting;

Bahwa Gereja percaya akan kebangkitan orang mati.

Kebangkitan ini menyangkut seluruh pribadi manusia.

Gereja menerima suatu unsur spiritual yang tetap hidup sesudah kematian. Unsur spiritual itu disebut roh.

Gereja menganggap tetap berguna doa-doa dan ritus penguburan serta tindakan-tindakan religius yang diperuntukan bagi mereka yang telah meninggal.

Gereja mencari pernyataan mulia dari Tuhan Yesus Kristus yang akan dialami setelah kamatian.

Kenaikan Bunda Maria dengan tubuhnya sendiri ke surga menjadi antisipasi pada pemuliaan tubuh kaum beriman kelak sesudah mati.

Gereja tetap percaya bahwa yang baik akan masuk surga, yang jahat (berdosa) akan dihukum di neraka dan kemungkinan penyucian dalam purgatori.

 

(9). Katekismus Gereja Katolik th. 1993. Di sini kita kutip saja apa adanya.

No. 1030: “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamtan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga”.

No. 1031: “Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium (api penyucian). Ia telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firenze dan Trente. Tradisi Gereja berbicaara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci”.

No. 1032: “Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk yang sudah meninggal, tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan, “Karena itu Yudas Makabe mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya [2Mak 12: 45]. Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi dan karya penitensi demi orang-orang mati”.

 

4.1.         Surga, Neraka, dan Api Penyucian Dalam Gereja Katolik Roma

1. Surga itu apa?

Kitab Suci menyebut surga sebagai tempat kediaman Allah (1Raj 8:30; Mzm 2:4; Mrk 11:25; Mat 5:16; Luk 11:15; Why 21:2), tempat kediaman para malaikat (Kej 21:17; Luk 2:15; Ibr 12:22; Why 1:4), tempat kediaman Kristus (Mrk 16:19; Kis 1:9-11; Ef 4:10; Ibr 4:14), dan tempat kediaman orang-orang kudus (Mrk 10:21; Flp 3:20; Ibr 12:22-24). Kitab Suci memakai gambaran-gambaran yang dapat ditangkap oleh manusia dengan pengalaman hidupnya untuk menunjukkan kebahagiaan surgawi, antara lain digambarkan sebagai Firdaus yang baru, kenisah surgawi, Yerusalem baru, tanah air sejati, Kerajaan Allah. Terlihat bahwa surga lebih banyak digambarkan sebagai sebuah ”tempat”.

 

Katekismus Gereja Katolik (KGK) lebih menekankan gambaran surga sebagai suatu kondisi kehidupan yang serba sempurna jika dibandingkan dengan kehidupan manusia di dunia. Surga adalah persekutuan kehidupan abadi yang bahagia, sempurna dan penuh cinta bersama Allah Tritunggal Mahakudus, bersama Perawan Maria, para malaikat dan orang kudus. Surga merupakan keadaan bahagia sempurna, tertinggi dan definitif yang merupakan tujuan terakhir menjadi kerinduan terdalam manusia (KGK 1024).

 

Seperti apakah surga yang senyatanya? Rupanya sulit bagi kita untuk menggambarkannya sekarang. Kita hidup dalam ketidaksempurnaan, sedangkan gambaran surga memuat unsur-unsur yang serba sempurna: damai sempurna, kasih sempurna, terang yang sempruna, kemuliaan dan kebahagiaan sempurna, persatuan sempurna dengan Allah dan para kudusnya dalam kehidupan kekal. Santo Paulus mengatakan dalam 1Kor 2:9: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pemah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semuanya itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (bdk. KGK 1027).

 

2. Apa arti hidup di dalam surga?

”Hidup di dalam surga berarti ’ada bersama Kristus’. Kaum terpilih hidup ’di dalam Dia’, mempertahankan, atau lebih baik dikatakan, menemukan identitasnya yang sebenarnya, namanya sendiri” (KGK 1025).

 

3. Siapakah yang boleh masuk surga?

Yang boleh masuk surga adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah dan disucikan sepenuhnya. Mereka akan hidup bersama dengan Kristus selama-lamanya dan diperkenankan memandang Allah dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:2) dari muka ke muka (KGK 1023). Memandang Allah dalam kemuliaan surgawi-Nya biasa disebut sebagai ”pandangan yang membahagiakan” (Visio beatifica). Paus Benediktus XII mewakili pendapat Gereja Katolik menyatakan: ”Kami mendefinisikan, berkat wewenang apostolik, bahwa menurut penetapan Allah yang umum, jiwa-jiwa semua orang kudus … dan umat beriman yang lain, yang mati sesudah menerima Pembaptisan suci Kristus, kalau mereka memang tidak memerlukan suatu penyucian ketika mereka mati, … atau, kalaupun ada sesuatu yang harus disucikan atau akan disucikan, ketika mereka disucikan setelah mati, … sudah sebelum mereka mengenakan kembali tubuhnya dan sebelum pengadilan umum, sesudah Kenaikan Tuhan, dan

Penyelamat kita Yesus Kristus ke surga sudah berada dan akan berada di surga, dalam Kerajaan surga dan firdaus surgawi bersama Kristus, sudah bergabung pada persekutuan para malaikat yang kudus, dan sesudah penderitaan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus, jiwa-jiwa ini sudah melihat dan sungguh melihat hakikat ilahi dengan suatu pandangan langsung, dan bahkan dari muka ke muka, tanpa perantaraan makhluk apa pun” (Benediktus XII: OS 1000; bdk. LG 49).

 

4. Persekutuan para kudus itu apa?

Persekutuan para kudus (bhs. Latin: communio sanctorum) adalah persekutuan dari seluruh anggota Gereja yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang sudah berada di surga maupun yang masih di api penyucian. Dengan demikian anggota dari persekutuan para kudus ada tiga kelompok, yaitu: mereka yang masih ada di dunia, mereka yang sedang mengalami penyucian, dan mereka yang sudah mengalami kebahagiaan surgawi (KGK 1475). Persekutuan ini dipersatukan sebagai Tubuh Mistik Kristus.

 

Anggota Gereja yang masih hidup di dunia bersama-sama saling membantu dalam mengupayakan kesucian hidup, melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan mengakui iman yang sama. Anggota Gereja yang masih di dunia ini menyatakan kesatuannya dengan para kudus di surga dengan cara menghormati mereka, memohon pertolongan dan doa doa mereka, meneladan keutamaan hidup dan kekudusan mereka. Kesatuan dengan dengan jiwa-jiwa di api penyucian ditunjukkan oleh Gereja dengan mendoakan mereka dan melakukan perbuatan silih serta perbuatan baik demi keselamatan mereka. Para kudus di surga tetap ada dalam kesatuan dengan umat manusia yang sedang berjuang menguduskan diri di dunia ini maupun di api penyucian.

 

5. Apa kata Konsili Vatikan II tentang jasa para kudus di surga bagi kita di dunia ini?

Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium art. 49) mengatakan bahwa persatuan antara kita yang masih berada di dunia dengan para kudus di surga tidak terputus bahkan semakin diteguhkan. Mereka yang telah bersatu dengan Kristus membantu penyempurnaan hidup para anggota Gereja di dunia, menjadi perantara doa bagi kita. Sebagai saudara dalam Kristus, para kudus di surga membantu kita yang masih ada dalam kelemahan.

 

6. Apakah peranan Yesus Kristus dalam membawa manusia beriman untuk masuk surga?

Yesus mengalami kematian dan kebangkitan bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi demi seluruh umat manusia. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah ”membuka” pintu surga bagi kita. Karunia hidup surgawi bagi umat manusia adalah buah penebusan Kristus. Dia mengundang semua umat manusia yang percaya dan setia pada-Nya untuk mengambil bagian dalam kemuliaan surgawi, di mana semuanya hidup bersatu dalam kebahagiaan dan kehidupan sejati dengan Dia (KGK 1026). Dengan demikian, peran Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit adalah sebagai penyelamat sekaligus sebagai pengantara keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

Apa itu Neraka?

Istilah “neraka” sebenarnya dipakai untuk menunjuk pengertian “lubang” (hole, hollow). Sebagai kata benda yang dibentuk dari kata “helan” atau behelian yang artinya: tempat tersembunyi. Karena itu pengertian neraka pada prinsipnya menunjuk suatu tempat yang gelap dan tempat yang tersembunyi. Istilah neraka dari bahasa Latin adalah inferum, inferi. Kata infernus berasal dari akar kata “in” yang menunjuk

suatu tempat di dalam dan berada di bawah bumi. Neraka dalam bahasa Yunani adalah Hades. Pengertian Hades berasal dari akar kata “fid” yang menunjuk pada sesuatu tempat yang tersembunyi, gelap dan tidak terlihat

oleh mata. Neraka dalam bahasa Ibrani adalah Sheol atau Gehena. Pengertian Gehenna berasal dari kata gê-hinnom (Neh. 11:30), atau gê-ben-hinnom (Yos. 15:8), dan gê-benê-hinnom (2 Raj. 23:10) “lembah anak-anak Hinom. Nama

tempat lembah Hinom sekarang adalah Wadi er-rababi .Jadi istilah sheol menunjuk kepada keadaan tenggelam, berada di suatu lubang, atau gua yang berada di bawah bumi

 

Dalam pengertian gereja Roma Katolik, kata neraka dipergunakan istilah infernus, yang menunjuk kepada pengertian

yang berbeda-beda, yaitu:

a. Tempat penghukuman yang dikhususkan bagi iblis, setan dan manusia yang hidupnya sangat jahat.

b. Tempat penghukuman bagi anak-anak yang belum sempat dibaptis (limbus parvulorum) atau orang-orang yang

mewarisi dosa asal, tetapi tanpa dosa-dosa yang mematikan. Sehingga setelah penghukuman tersebut lewat, mereka akan mewarisi keselamatan dan hidup kekal di dalam kerajaan sorga.

c. Tempat penghukuman bagi nenek-moyang umat percaya (limbo partum) yang wafat sebelum Kristus, sehingga mereka masih harus menunggu penyelamatan untuk masuk ke dalam kerajaan sorga. Dalam hal ini gereja Katolik meyakini bahwa saat Kristus wafat, rohNya pergi ke neraka untuk membebaskan roh dari orang-orang yang demikian (bandingkan I Petr. 3:19-20).

d. Tempat penyucian dosa (purgatorium), yang mana umat percaya sewaktu meninggal masih memiliki dosa-dosa ringan sehingga mereka harus terlebih dahulu mengalami penghukuman yang sifatnya temporal, setelah itu mereka diizinkan masuk ke dalam kerajaan sorga.

 

Menurut Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, pengertian neraka dipakai untuk menunjuk tempat penghukuman seperti gua yang gelap bagi malaikat-malaikatNya (2 Pet.2:4). Neraka sebagai jurang maut atau “abyss” (Luk. 8:31). Neraka sebagai tempat

penderitaan/ “place of torments” (Luk. 16:28). Neraka sebagai lautan api/ “pool of fire” (Why. 19:20). Neraka sebagai  dapur api/”furnace of fire” (Mat. 13:42, 50). Neraka sebagai tempat di mana api yang tak terpadamkan/”unquenchable

fire” (Mat. 3:12). Neraka sebagai suatu api yang kekal/”everlasting fire” (Mat.18:8; 25:41; Jud. 7). Neraka sebagai suatu keadaan di mana hanya ada kegelapan yang paling gelap/”exterior darkness” (Mat. 22:13; 25:30). Neraka merupakan  kegelapan yang paling dahsyat/”storm of darkness” (2 Pet. 2:17; Jude 13). Pengertian neraka juga dipakai untuk tempat  kebinasaan (apoleia), lihat Fil. 3:19. Keruntuhan dan kebinasaan (olethros). Lihat 1 Tim. 6:9. Kebinasaan selamalamatnya (olethros aionios). Lihat di 2 Tes. 1:9. Neraka dipakai untuk menunjuk kebinasaan dalam dagingnya (phthora). Lihat di Gal. 6:8. Neraka sebagai suatu kematian (Rom. 6:21). Neraka sebagai “kematian kedua” (Why.2:11).

 

KGK 1033 menyebutkan  neraka sebagai sebuah keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus. Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah (KGK 1035). Penderitaan jiwa-jiwa di neraka akan berlangsung selama-lamanya. Kitab Suci memakai gambaran simbolik tentang neraka, yaitu bagaikan ”perapian yang menyala-nyala”, ”api yang tak terpadamkan” (gehenna). Tradisi Gereja menyebut neraka sebagai tempat atau keadaan di mana setan-setan dan para pendosa yang tidak bertobat menderita untuk selama-lamanya (DS 1002). Paham mengenai neraka saat ini lebih menekankan segi keterpisahan secara definitif dari perseklutuan dengan Allah, yang berlangsung selamalamanya. Dalam arti inilah kehidupan dalam neraka merupakan suatu penderitaan. Gereja mengajarkan bahwa ada neraka dan bahwa neraka itu berlangsung untuk selama-lamanya.

 

 Siapakah yang masuk neraka?

Mereka yang masuk neraka adalah orang yang dengan sukarela memutuskan untuk tidak mencintai Allah, mereka yang berada dosa berat tanpa menyesalinya, tidak mau menerima belaskasih Allah, tidak mau mengasihi sesama lebih-lebih kaum lemah, mengingkari Tuhan dengan sukarela. KGK 1035 menyatakan: ”Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, ”api abadi”. Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.” Namun demikian, Tuhan tidak pernah menentukan lebih dahulu siapakah yang akan masuk neraka. Penderitaan di neraka berpangkal dari suatu pilihan bebas. Tidak ada seorang pun ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan supaya masuk ke dalam neraka; hanya pengingkaran secara sukarela terhadap Tuhan (dosa

berat), di mana orang bertahan sampai akhir, mengantarnya ke sana (KGK 1037).

 

 Apa maksud Gereja dengan pengajaran tentang neraka?

Gereja mengajarkan adanya neraka dengan maksud untuk memperingatkan umat Katolik agar mempergunakan kebebasannya secara bertanggungjawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya di saat nanti (KGK 1036). Bukan maksud Gereja untuk menakutnakuti, tetapi tujuannya adalah untuk mengajak orang Katolik agar bertobat. Konsili Vatikan II mengajarkan: ”Karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya (saat Tuhan memanggil kita), atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja, kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati, dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas, diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam kegelapan di luar, tempat ’ratapan dan kertakan gigi ” (LG 48).

 

 Api penyucian itu apa?

Dalam bahasa Latin, api penyucian disebut purgatorium, artinya pembersihan. Sebenarnya bahasa resmi Gereja tidak menyebutnya sebagai api, tetapi hanya penyucian saja, artinya tahap terakhir dalam proses pemurnian sebelum masuk surga. Dalam KGK 1030 dikatakan bahwa ”Api penyucian” adalah keadaan yang harus dialami oleh orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Keselamatan abadi sudah jelas baginya, namun dia harus menjalani penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu agar diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan surgawi. Dengan demikian Api penyucian bukanlah tempat antara surga dan neraka, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai proses untuk masuk surga. Santo Gregorius Agung mengatakan:

”Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ’di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak’ (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, beberapa dosa yang lain diampuni di dunia lain” (Gregorius Agung, dial. 4,39). Bapa-Bapa Gereja lainnya yang menulis tentang proses pemurnian sesudah kematian dan perlunya mendoakan orang yang sudah meninggal adalah: St. Klemens dari Aleksandria (150-215), Origenes (185-254), S. Yohanes Krisostomus (347-407), Tertulianus (160-225), St. Cyprianus (meninggal th 258), St. Agustinus dari Hippo (354-430). Dari banyaknya tulisan para Bapa Gereja, terbukti bahwa keyakinan akan adanya api penyucian sudah dimiliki dan diajarkan oleh Gereja Katolik sejak abad-abad pertama.

 

Siapakah yang akan masuk ke api penyucian?

Yang harus masuk api penyucian adalah mereka yang belum siap masuk surga karena masih mempunyai banyak cacat-cela dan akibat-akibat dosanya masih melekat. Mereka adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Mereka bukanlah calon penghuni neraka, karena mereka yang sudah positif dan definitif masuk neraka tidak perlu mengalami api penyucian. Bagi orang yang masuk neraka tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan keselamatan. Lain dengan mereka yang harus mengalami proses pemurnian di api penyucian. Sudah lama Gereja mengajarkan adanya api penyucian. Namun, rumusan secara resmi baru dinyatakan dalam konsili di Florence (1439-1445) dan Trente (1545-1563). Lalu berapa lama jiwa-jiwa harus berada di api penyucian? Sulit menjawab pertanyaan ini, karena keadaan di api penyucian tidak dapat dihitung menurut ukuran waktu kita di dunia ini.

 

Apa dasar Kitab Suci tentang api penyucian atau purgatorium?

2Mak 12:38-45: Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam. Mereka tiba pada hari yang ketujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat dan merayakan hari Sabat di situ. Pada hari berikutnya waktu hal itu menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kerabat mereka mengebumikan jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang. Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

 

1Kor 3:11-15:  Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

(Dapat dilihat juga Mat 5:25-26; 12:31-32 yang secara tidak langsung menyebut adanya api penyucian)

 

Apakah jiwa-jiwa di api penyucian perlu didoakan?

Jelas bahwa jiwa-jiwa di api penyucian amat membutuhkan doa-doa kita yang masih hidup di dunia ini. Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan.

Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi dan karya penitensi demi orang-orang mati (KGK 1032). Jiwa-jiwa di api penyucian akan dapat ditolong doa-doa, amal atau silih yang kita lakukan demi mereka, dan belas kasih Allah. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan: ”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Ka1au anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh Kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka”. Konsili Lyons II (1274) dan Konsili Florence (1438-1445) mengajarkan dengan jelas tentang proses pemurnian setelah kematian dan perlunya doa serta karya saleh yang dipersembahkan untuk keselamatan mereka.

 

Apa itu indulgensi?

Indulgensi adalah penghapusan dari hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa yang sudah disesali dan diampuni. Selama hidup di dunia, ada dosa-dosa yang sudah disesali dan diampuni, namun masih ada hukuman yang harus ditanggung di api penyucian. Indulgensi diperoleh dari Tuhan dengan kewenangan yang diberikan kepada Gereja berkat tindakan amal saleh dan doa-doa tertentu yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Hak dan kewenangan untuk memberi indulgensi pada dasarnya dipegang oleh Tahta Suci. Paus Paulus VI (1967) menegaskan kembali ajaran mengenai indulgensi ini dalam Konstitusi Apostolik Indulgentiarum Doctrina.

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 992 dikatakan: ”Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan dan dirumuskan, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para kudus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s