tradisi mennyapat tahun dalam masyarakat dayak di kab. sukamara

Natai sedawak adalah sebuah desa yang merupakan bagian dari kabupaten sukamara. Asal mula tradisi tahunan dalam kehidupan masyarakat dayak di natai sedawak ini berkaitan erat dengan interaksi masyarakat pemula di tempat ini dengan masyarakat dayak yang berasal dari daerah tanjung yang merupakan bagian dari kabupaten ketapang, Kalimantan Barat. Dalam perkembangan interaksinya, kemudian terjadilah pernikahan antara kedua masyarakat dayak yang berasal dari dua tempat yang berbeda ini. Pernikahan diantara mereka menyebabkan beberapa dari masyarakat tanjung tersebut harus tinggal dan menetap di daerah natai sedawak. Hingga akhirnya dalam perkembangan kehidupan mereka, akhirnya tradisi menyapat tahun ini pun teradopsi menjadi suatu budaya atau tradisi yang tetap mereka yakini dan laksanakan hingga saat ini.

2.2   Tujuan Tradisi Tahunan Dalam Keyakinan Masyarakat Dayak 

 

Sebagaimana kehidupan masyarakat dayak  pada umumnya yang hidup berdampingan dengan alam dan meyakini adanya kekuatan- kekuatan yang mempengaruhi kehidupan manusia, masyarakat dayak di daerah natai sedawak pun meyakini hal tersebut. Dalam tradisi ini, terlihat jelas pengungkapan kehidupan mereka yang meyakini adanya pengaruh antra kekuatan alam dan kehidupan manusia. Tradisi ini dilaksanakan satu kali dalam setiap tahunnya, dan terbagi dalam dua rangkaian acara pada waktu yang berbeda yakni upacara menyapat tahun dan upacara mendarai tahun/ membaharui panen. Pada dasarnya, jika dipandang dari sudut pandang ilmu pengetahuan ritual adat menyapat tahun adalah suatu upacara yang diadakan untuk memohon berkat bagi hasil panen dan segenap kehidupan yang akan dijalani ditahun baru yang akan dijalani kemudian, sementara upacara mendarai tahun sebagai pengungkapan rasa syukur atas hasil panenan yang telah diterima, yakni dengan mempersembahkan hasil panen terlebih dahulu kepada roh- roh penghuni kampung tersebut sebelum mereka sendiri yang menikmatinya.

Upacara yang terbagi menjadi dua bagian ini selalu dilaksanakan ketika masyarakat di desa natai sedawak  akan memulai dan mengakhiri panen yang biasanya berpatokan pada panen padi yang mereka taman di ladang pindah. Masyarakat dayak ditempat ini meyakini bahwa dengan mengakhiri tahun panen dengan upacara menyapat tahun mereka beserta segenap isi kampung tersebut akan mendapat berkat bagi hasil panenan mereka yang akan datang dengan mempersembahkan apa yang telah mereka dapatkan terlebih dahulu kepada roh- roh penghuni kampung sebagai ungkapan syukur mereka maka mereka dapat menyilih segala kesalahan dan kecemaran- kecemaran yang telah dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dalam kampung tersebut seperti sumpah serapah, perkelahian, dan sebagainya, melalui upacara ini juga mereka meyakini bahwa mereka akan dijauhkan dari segala mala petaka, bencana alam, kelaparan, dan kerusuhan yang akan menimpa kampung mereka.  

2.3  Tatanan Upacara Adat Menyapat Tahun

Tradisi menyapat tahun diadakan ketika masyarakat dayak ditempat ini akan memulai pembangunan ladang pindah yang akan menjadi tempat bagi mereka untuk menanam padi dan berbagai jenis sayuran tradisional yakni sekitar bulan mei atau juni. Maka sebelum mereka mulai menggarap ladang- ladang mereka (menebas, menebang, membakar, dan menugal/ menanam padi) yang seringkali mereka kerjakan bersama- sama secara bergantian yang disebut dengan juruk mereka harus mengadakan upacara ini. Menyapat sendiri, dalam bahasa Indonesia berarti membatasi atau memisahkan. Maka menyapat tahun sendiri berarti memisahkan antara tahun yang telah mereka lalui dan tahun yang akan mereka jalani kemudian. Dalam upacara ini, para penatua kampung menyampaikan kepada roh- roh yang diyakini sebagai penunggu kampung tersebut penghantaran tahun yang telah mereka lalui dan penjemputan yang mereka lakukan terhadap tahun yang akan mereka jalani kemudian beserta segala berkat bagi kehidupan masyarakat ditempat tersebut, dan segala hasil panen yang akan mereka terima. Penyampaian niat merekalah yang kemudian menghadirkan tradisi ini, dimana mereka harus mengadakan sebuah upacara penghantaran ancak (sesajen) yang kemudian dilanjutkan dengan pesta Begendang yang diiringi dengan musik- musik tabuhan tradisional Kalimantan seperti gong, kelenang, dan gendang.

Hal pertama yang dilakukan sebelum upacara ini dilangsungkan adalah pemberitahuan kepada seluruh masyarakat di kampung tersebut yang dilakukan oleh seorang yang memang ditugaskan oleh ketua adat di kampung tersebut untuk melakukannya. Seminggu atau beberapa hari menjelang dilaksanakannnya upacara adat btersebut, maka orang yang telah ditugaskan tersebut wajib mendatangi setiap rumah penduduk, memberitahukan akan diadakannya upacara menyapat tahun, serta memohon partisipasi masyarakat dengan memberikan sumbangan yang telah ditetapkan sesuai proposal anggaran yang telah ditentukan bersama oleh para pengurus kampung yang telah membicarakan bersama pelangsungan upacara ersebut, misalnya setiap keluarga diharapkan menyumbangkan uang sebesar sepuluh ribu, beras sebanyak satu kilo gram, dan tuak (minuman tradisional masyarakat dayak yang mengandung alcohol) sebanyak satu botol. Dalam kebiasaan yang telah berlangsung, dalam tahap ini masyarakat diharapkan untuk memberikan uang sumbangan pada saat yang bersamaan ketika seorang yang ditugaskan untuk memberitahukan akan dilaksanakannya upacara menyapat tahun tersebut, sementara beras dan tuak yang juga diwajibkan untuk diberikan sebagai sumbangan akan diantar sendiri oleh si pemilik rumah yang telah di beri tahu akan diadakannya upacara menyapat tahun kerumah berlangsungnya upacara tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan, pagi- pagi sekali masyarakat berkumpul bersama- sama untuk mempersiapkan ucara tersebut. Para wanita berkumpul untuk memasak nasi, sayur, dan berbagai hal yang diperlukan. Semeentara para pria mempersiapkan hal- hal yang berkaitan dengan jalannya upacara, seperti membantu para wanita yang memasak, mencari bambu, membersihkan dan memolesnya dengan minyak kelapa, mengolahnya menjadi bilah dan menatanya menjadi ancak tempat sesajen, serta barang- barang yang harus dipersiapkan sebagai sesajen. Hal yang perlu diingat dalam mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan pelaksanaan upacara adat ini adalah bahwa semua barang yang diperlukan sebagai sesajen dalam upacara ini harus dikerjakan pada hari ini dan tidak boleh dipersiapkan pada hari- hari sebelumnya. Menurut kepercayaan masyarakat, persiapan yang telah dilakukan pada hari- hari sebelum upacara tersebut dilangsungkan akan menyebabkan sesajen tersebut menjadi basi dan idak diterima para roh- roh penghuni kampong yang naninya akan menerima persembahan tersebut, sehingga kemudian dampaknya pun akan menjadi tidak baik bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di desa tersebut, seperti mereka tidak akan menerima hasil panen yang baik, erserang wabah penyakit, dan sebagainya.

Upacara ini memerlukan lima buah ancak yang akan diisi penuh dengan berbagai sesajen sperti:

*    Satu ekor ayam yang dibelah menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah ancak, ancak yang berisi bagian dari kepala ayam harus diletakkan dibawah sebatang pohon durian,

*      kue- kue yang meliputi berbagai bentuk seperti cincin, gelang, kalung, bintang, bulan, beliung, kapak, kelamai (kue berupa bola- bola yang berbentuk semacam bubur dengan santan dan gula merah)  dsb,  

*      Sengkatik/ Nasi beruas yang ditanak di dalam bamboo sebanyak dua ruas bamboo, beras biasa dan beras ketan,

*      Dua buah ketupat kecil terbuat dari daun kelapa yang  juga berisi nasi ketan dan nasi biasa,

*      Bubur merah ( bubur yang dicampur dengan kesumba atau gula merah) dan bubur putih

*      Dua buah lumpang (ruas buluh yang dipotong dan dijadikan cangkir) yang berisi tuak dan air

*      Rokok kerapitan yakni rokok yang dibuat dari tembakau dan dibungkus dengan daun untuk merokok, beserta sebuah perlengkapan menginang yang telah digulung dan disatukan  dalam selembar daun sirih, meliputi kapur, gambir, dan pinang. Rokok dan kerapitan ini kemudian diikat dengan sobekan tali kapua (tali yang terbuat dari kulit pohon ) secukupnya.

*      Dua buah bendera dengan warna yang berpasang- pasangan (merah, kuning, hijau, atau putih) berukuran kurang lebih satu jari, dan ditihangi dengan lidi kelapa ditaruh pada masing- masing ancak.

*      Lima batang bambu  yang akan dijadikan tempat untuk menggantung ancak disetiap tempat yang telah ditentukan.

Selain berbagai perlengkapan diatas yang diperlukan sebagai perlengkapan sesajen, barang- barang lainnya yang juga digunakan sebelum prosesi penghantara kelima ancak ini adalah;

*   Beras kuning (beras yang diwarnai dengan menggunakan kunyit) dan beras putih yang ditempatkan dalam sebuah mangkuk dan akan dimanfaatkan sebagai penyabur ancak sebelum dihantar kemasing- masing tempat yang akan dituju.

*   Perapian yang terbuat dari bara api yang ditempatkan pada sebuah tempurung kelapa paruh bagian atasnya, dimanfaatkan sebagai tempat pembakaran berbagai wewangian tradisional seperti gaharu, menyan, dan tentanjan sebagai ukupan yang harus dilaksanakan diatas ancak sesajen sebelum dipersembahkan/ dihantar ke tempat yang telah ditentukan.

Selain barang- barang yang digunakan sebagai sesajen dan perlengkapan yang diperlukan saat pemberangkatan sesajen, hal yang  juga perlu disiapkan adalah perlengkapan barang- barang yang diperlukan untuk pemiringan beras, yakni beras ketan dan beras biasa serata telur ayam yang masing- masing dimasukkan kedalam piring sebanyak sebanyak sepuluh buah. Beras- beras ini dipersiapkan pada hari yang sama saat upacara tersebut akan dilaksanakan sebagaimana yang diberlakukan terhadap persiapan- persiapan yang lainnya. Setelah upacara ini selesai, beras- beras ini tetap dilaminkan dan ditutup dengan kain batik panjang dirumah ketua adat tersebut selama tiga hari, setelah itu barulah beras tersebut diberikan kepada para penatua yang telah menghantar ancak- ancak sesajen tersebut pada saat peristiwa tersebut berlangsung. Satu orang mendapatkan masing- masing satu piring takaran beras ketan dan satu piring takaran beras biasa serta sebutir telur sebagai upah yang wajib diberikan dari beras- beras yang telah disiapkan dan dilaminkan selama tiga hari tersebut.

 Setelah segala sesuatu yang harus dipersiapkan tersebut telah siap, maka upacara penghantaran ancak tersebut pun akan segera dilakukan. Kelima ancak yang telah diisi dengan berbagai macam bahan sesaji tersebut ditenpatkan ditengah rumah.  Bersama dengan orang- orang yang telah berkumpul dirumah tersebut kepala adat pun memulai prosesi adat tahunan ini. Ancak yang telah disiapkan ditengah rumah tersebut di diukupi dengan perapian yang telah dicampur dengan wewangian tradisional sebagaimana yang telah disampaikan diatas. Seraya mengucapkan mantra- mantra yang berisi harapan- harapan masyarakat di desa tersebut, kelima ancak tersebut pun disabur/ ditaburi dengan beras kuning dan beras putih yang telah dipersiapkan. Kemudian kepala adat mengangkat sebuah ancak yang disebut sebagai ancak kepala yakni ancak yang berisi bagian kepala dari ayam yang dipotong menjadi lima bagian sebagai sesajen, mengambukan/ mengayunkan ancak tersebutkearah matahari hidup dan kearah matahari mati sebanyak delapan kali yang menandakan sebagai penyambutan sebuah kehidupan baru dan penolakan segala marabahaya, agar segala marabahaya tersebut pergi kedunianya yakni dunia orang mati/ dunia matahari mati. Kemudian ancak- ancak inipun dihantar ke tempat tempat yang telah ditentukan oleh para tetua yang telah dipilih sebagai orang yang menguasai mantra- mantra atau tatau- mamang penyerahan sesajen tersebut. Adapun tempat- tempat tersebut yakni;

*      Ancak kepala, ditaruh diatas sebatang bamboo yang dicangkang empat dan diletakkan dibawah sebuan pohon durian perkampungan yang disebut dengan Durian Sengkabungan. Ancak ini dipersembahkan kepada Kepampakuk Burung Buah, Patih Jirau Bujang Landum sebagai pengungkpan harapan masyarakat akan hasil buah- buahan tahunan yang baik seperti padi, durian, duku, langsat, manggis, rambutan, asam kuini, asam sembawang, asam Kalimantan, dan sebagainya.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bambu diletakkan ditengah kampong, yakni di depan rumah kepala adat yang menyelenggarakan upacara tersebut, sebagai pengungkapan harapan akan kampong yang aman, damai tenang dan tentram serta penuh berkat.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bamboo dan diletakkan ditepi sungai yang terdapat di kampong tersebut, dipersembahkan kepada roh yang memellihara kehidupan di dalam air dengan harapan agar masyarakat boleh memperoleh berkat dalam mencari ikan dan sebagainya yang berkaitan dengan sungai.

*      Dua buah ancak lainya juga ditaruh pada batang bamboo dam diletaakkan pada setiap muara/ jalan masuk menuju kampong tersebut. Ancak ini dipersembahkan kepada roh- roh yang diyakini masyarakat dayak sebagai penunggu tanah yakni Abu Basar Abu Basir Dtauk Gandum Jembalanng Tanah dengan harapan mereka akan memperoleh berkat derkaitan dengann  kehidupan mereka dalam kampong tersebut, terhindar dari segala sakit penyakit yang disebabkan karena murkanya roh- roh penghuni tanah kampong dimana mereka tinggal.

Seusai prosesi penghantaran kelima ancak tersebut, masyarakat melanjutkan prosesi upacara tersebut dengan upacara bergendang bersama sampai pada malam harinya. Melalui pesta ini mereka mengungkapkan sukacita mereka yang telah berhasil melalui tahun dimana mereka boleh memperoleh segala berkat dan hasil panen dalam semangat kekeluargaan. Setelah mengakhiriri pesta penyapatan tahun ini, keesokan harinnya masyarakat dayak di tempat memiliki beberapa pantangan yang wajib mereka lakukan yakni tidak boleh boleh membunuh barang/ benda bernyawa, termasuk memetik dedaunan, memancing, menuba, menangguk ikan, serta pergi kekebun. Bagi kepala kampong, pantangan ini berlangsung selama tiga hari, sementara bagi masyarakat, pantangan ini hanya berlangsung selama satu hari saja. Ketika kepala kampong mengetahui adanya masyarakat yang melanggar pantangan yang telah ditetapkan ini, maka ia wajib memberikan hukuman denda yang wajib ditanggung oleh orang yang melanggar pantangan tersebut. Denda yang harus dibayar dapat berupa mangkuk atau piring yang berisi cincin dan gelang terbuat dari kawat serta tampung tawar yang terbuat dari beras kuning bercampur dengan potongan dari daun hidup- hidup yang kemudian akan dihantarkan oleh ketua adat kampong tersebut kebawah pohon durian dimana diletakkan ancak kepala.

2.4  Tatanan Upacara Adat Men’dara’i  Tahun

Upacara adat mendarai tahun yang merupakan rangkaian dari upacaratahuna masyarakat dayak yang biasanya dilaksanakan saat masyarakat dayak di desa natai sedawak memulai panen padi mereka yakni sekitar bulan februari atau maret. Pada dasarnya, rangkaian upacara ini sama dengan upacara menyapat tahun, namun makna dari upacara ini lebih pada sebagai ungkapan syukur atas panen yang baru akan mereka lakukan. Beberapa hal yang membedakan antar keduanya adalah penggunaan ancak pada upacara adata mendarai tahun hanyalah sebanyak empat buah serta isi-isian didalamnya yang sedikit berbebeda dengan pengisian ancak pada prosesi adat menyapat tahun.

Empat buah ancak yang digunakan dalam prosesi adat mendarai tahun inni adalah ancak- ancak yang anak dihantar kebeberapa tempat sebagaimana dalam upacara adat menyapat tahun yakni;

*     Ancak kepala, ditaruh diatas sebatang bamboo yang dicangkang empat dan diletakkan dibawah sebuan pohon durian perkampungan yang disebut dengan Durian Sengkabungan. Ancak ini dipersembahkan kepada Kepampakuk Burung Buah, Patih Jirau Bujang Landum sebagai pengungkpan harapan masyarakat akan hasil buah- buahan tahunan yang baik seperti padi, durian, duku, langsat, manggis, rambutan, dsb.

*      Sebuah ancak lainnya ditaruh pada sebatang bamboo dan diletakkan ditepi sungai yang terdapat di kampong tersebut, dipersembahkan kepada roh yang memellihara kehidupan di dalam air dengan harapan agar masyarakat boleh memperoleh berkat dalam mencari ikan dan sebagainya yang berkaitan dengan sungai.

*      Dua buah ancak lainya juga ditaruh pada batang bamboo dam diletaakkan pada setiap muara/ jalan masuk menuju kampong tersebut. Ancak ini dipersembahkan kepada roh- roh yang diyakini masyarakat dayak sebagai penunggu tanah yakni Abu Basar Abu Basir Dtauk Gandum Jembalanng Tanah dengan harapan mereka akan memperoleh berkat derkaitan dengann  kehidupan mereka dalam kampong tersebut, terhindar dari segala sakit penyakit yang disebabkan karena murkanya roh- roh penghuni tanah kampong dimana mereka tinggal.

Adapun  beberapa hal yang membedakan pengisian sesajen pada upacara adat mendarai tahu ini adalah sebagai berikut;

*      Tujuh tangkai padi yang baru dipetik dari ladang yang telah mulai dipanen dan diisikan pada setiap ancak.

*      Kembang tahun, yaitu bunga yang biasa ditabur diladang tempat menanam padi biasanya terdiri atas warna merah hati, kuning, putih, dan orange.

*      Buah- buah tahunan seperti buah duku, langsat, isi durian, rambutan, dsb

*      Beras baru, beras yang berasal dari padi yang baru dipanen dan di ukupi sebelum proses pengolahannya.

*      ekor ayam yang dibelah menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah ancak, ancak yang berisi bagian dari kepala ayam harus diletakkan dibawah sebatang pohon durian,

*      Sengkatik/ Nasi beruas yang ditanak di dalam bamboo sebanyak dua ruas bamboo, beras biasa dan beras ketan,

*      Dua buah ketupat kecil terbuat dari daun kelapa yang  juga berisi nasi ketan dan nasi biasa,

*      Bubur merah ( bubur yang dicampur dengan kesumba atau gula merah) dan bubur putih

*      Dua buah lumpang (ruas buluh yang dipotong dan dijadikan cangkir) yang berisi tuak dan air

*      Rokok kerapitan yakni rokok yang dibuat dari tembakau dan dibungkus dengan daun untuk merokok, beserta sebuah perlengkapan menginang yang telah digulung dan disatukan  dalam selembar daun sirih, meliputi kapur, gambir, dan pinang. Rokok dan kerapitan ini kemudian diikat dengan sobekan tali kapua (tali yang terbuat dari kulit pohon ) secukupnya.

*      Dua buah bendera dengan warna yang berpasang- pasangan (merah, kuning, hijau, atau putih) berukuran kurang lebih satu jari, dan ditihangi dengan lidi kelapa ditaruh pada masing- masing ancak.

*      Empat  batang bambu  yang akan dijadikan tempat untuk menggantung ancak disetiap tempat yang telah ditentukan.

Selain dari hal- hal diatas, tidak ada hal lain yang membedakan antara upacara menyapat tahun dan upacara mendarai tahun. Sebagaimana juga rangkaian upacaranya yang dimulai dengan pemberitahuan kepada warga masyarakat yang tinggal di kampong tersebut, persiapan, pengukupan ancak, penghantaran ancak, serta pesta yang diselenggarakan sebagai sebuah keluarga besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s